Betonisasi Manokwari


Freddy Pattiselanno (Mengajar Pengantar Ilmu Lingkungan di Fakultas Peternakan, Universitas Papua)

Agustina Y.S. Arobaya (Kepala Laboratorium Konservasi dan Lingkungan Hidup Fakultas Kehutanan, Universitas Papua)

Sekilas, Manokwari dalam angka
Berdasarkan data dari BPS Papua Barat (2014), saat ini Manokwari memiliki jumlah penduduk sebanyak 150.179 orang yang tersebar di 160 kampung dan 9 distrik dengan luas kurang lebih 14.448,50 km2.

 

Kota Manokwari di sepanjang Teluk Doreri

Kota Manokwari di sepanjang Teluk Doreri

Pertambahan usia kota Manokwari (8 November 2016 akan berusia 118 tahun) berbanding terbalik dengan luas wilayah administrasinya. Artinya bahwa dengan pertambahan usia, luas wilayah administrasi Manokwari semakin menyusut. UU No. 23/2012 telah menetapkan Distrik Ransiki, Oransbari Neney, Dataran Isim, Momi Waren dan Tahota sebagai bagian dari kabupaten yang baru yaitu Kabupaten Manokwari Selatan dengan luas wilayah 3.041,66km2, ibukota pemerintahan berada di Boundij, Distrik Ransiki.

Continue reading

Menyoal potensi konflik penyelenggaraan “Provinsi Konservasi” Papua Barat


Agustina Y.S. Arobaya (Kepala Laboratorium Konservasi dan Lingkungan) & Freddy Pattiselanno (Peneliti pada Divisi Pembangunan Berkelanjutan – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat)  Universitas Papua Manokwari
 

Mengapa harus menjadi Provinsi Konservasi Papua Barat?

Laporan resmi dari Biro Pusat Statistik menunjukkan bahwa sampai dengan Maret 2013, Papua Barat termasuk dalam delapan provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi (26.7%) kedua setelah Provinsi Papua (31.13%).

Kemiskinan terkadang mendorong manusia untuk memanfaatkan kekayaan sumberdaya alam secara berlebihan untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Karena itu pemerintah sangat bergantung pada industri ekstraktif hasil hutan kayu maupun hasil hutan bukan kayu – HHBK (rotan, getah damar, minyak atsiri dari masoi, gaharu dan kulit lawang). Selain itu industri migas, hak pengusahaan hutan dan pertanian modern menjadi modal sumberdaya alam untuk peningkatan pendapatan daerah.

Continue reading

Kenyangkan dan puaskan dahaga jiwamu pada Paskah kali ini.


Pembacaan Alkitab: Lukas 22: 14-23

Setiap kita memperingati Paskah yang selalu terbayang dalah ketika anak sekolah minggu mencari telur paskah. Paskah bukan saja memperingati kemenangan bagi semua orang percaya tetapi juga mau menunjukan kepada kita bahwa kemenangan itu diperoleh dengan cara menyerahkan tubuh dan darah Yesus sebagai korban untuk membayar lunas semua dosa kita.

Continue reading

Setia hingga akhir


Pembacaan Alkitab: Matius 26: 36-46

Tahun 2016 ini, hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan rohani menjadi bagian perenungan dalam blog ini. Tidaklah berlebihan karena relevan dengan tugas dan pekerjaan di kampus di satu sisi, tetapi juga keterlibatan kami dalam pembinaan mahasiswa di Kampus UNIPA bekerja sama dengan LPMI Manokwari. Lagi pula sebagai warga masyarakat, hubungan sosial dengan sesama juga menanti  kami untuk ikut terlibat dalam pelayanan kerohanian di lingkungan dimana kami berada.

Renungan pribadi  menjadi salah satu kategori baru berisi  bahan perenungan dalam pelayanan kerohanian baik di kampus, maupun di lingkungan gereja dimana kami ikut beribadah. Sejalan dengan Tri Panggilan Geraja: Bersaksi, Bersekutu dan Melayani, pelayanan bagi sesama juga relevan dengan Motto UNIPA “Ilmu Untuk Kemanusiaan” sehingga Renungan Pribadi ini merupakan kesaksian dalam kehidupan bermasyarakat.

Continue reading

Napak Tilas Manokwari-Kebar


Oleh: Freddy Pattiselanno (Sub-divisi Peningkatan Kapasitas CoE LPPM Universitas Papua, Manokwari).

Dimana Distrik Kebar?

462

Areal padangan alami

Kebar adalah salah satu distrik yang saat ini masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Tambrauw. Lembah Kebar (132o35’-134o45’BT dan 0o15’-3o25’LS) dikenal karena hampir sebagian besar wilayahnya adalah padang alang-alang dengan beberapa spot merupakan daerah berawa yang berada pada ketinggian 500-600m dpl. Salah satu potensi lembah Kebar adalah populasi rusa yang sebelumnya mendiami hampir sebagian besar lembah Kebar.

Continue reading

Kebutuhan dan rencana pengembangan program pelatihan di kampus


Yonathan Alberto1 Andre Wospakrik1 & Freddy Pattiselanno1,2
1Sub-divisi Peningkatan Sumberdaya – CoE Universitas Papua, Manokwari
2Fakultas Peternakan Universitas Papua, Manokwari

Kebutuhan pelatihan
Sub-divisi Peningkatan Sumberdaya berada dalam Divisi Pembangunan Berkelanjutan merupakan bagian dari LP2M UNIPA saat ini sedang menyusun daftar kebutuhan pelatihan bagi audiens kunci (peneliti pemula dan mahasiswa tingkat akhir) untuk meningkatkan kapasitas sumberdaya di kampus.

Continue reading

Marine Protected Areas and threats to terrestrial biota


Freddy Pattiselanno (Animal Science Department, Universitas Papua, Manokwari)

Why MPA?
According to the data from FAO (2000), approximately 1 billion people depend on fish as their primary source of animal protein. Indonesia’s 17,508 islands have a range of marine and coastal ecosystems that have been intensively commercial and subsistence utilized for various purposes. Exploitation of the coastal zone has an impact on habitat destruction and over-exploitation that continue to be the major problems facing marine resource in Indonesia.

These factors emphasize the urgent need to implement Marine Protected Area (MPA) management plans as part of an overall program to manage Indonesia’s marine resources. The program began in 1982 as part of the marine conservation effort that expected contributes to the sustainability of the nation’s marine resources.

Continue reading

Investasi untuk masa depan sumberdaya manusia Bumi Cenderawasih (Renungan akhir tahun dan Dialog terbuka dengan Pemda Propinsi Papua)


Freddy Edoway (PNS Disperindag Kabupaten Deiyai, Peserta Program DPP 2010 dan saat ini sedang belajar di James Cook University, Australia) & Freddy Pattiselanno (Pengajar di Universitas Negeri Papua (UNIPA) Manokwari dan Peserta Program DPP 2008)

 

Sumberdaya Manusia (SDM) di Tanah Papua dan tantangannya
Tantangan utama dari pelaksanaan Otonomi Khusus (OTSUS) dalam mendukung program pembangunan di Tanah Papua adalah masih kurangnya kapasitas kelembagaan pemerintah dan non-pemerintah dalam melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan. Lemahnya kapasitas kelembagaan pemerintah ini salah satunya disebabkan oleh kondisi sumberdaya manusia yang masih jauh dari apa yang dibutuhkan untuk perencanaan dan pelaksanaan pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua.

Continue reading

Bushmeat, a nutritional substitution for farming families along the coast of the Bird’s Head Peninsula of West Papua


Freddy Pattiselanno (Animal Science Laboratory Universitas Negeri Papua – UNIPA, Manokwari)

Farming along the coast

The West Papua Province of Indonesia is included in the top five provinces with high population growth rate in Indonesia. Between 2000 and 2010, the growth rate in West Papua was 3.71%. In general the highlands have become the most densely populated by people more focused on established villages and agriculture. In the lowlands, people have been more able to live by fishing and hunting and the staple of sago ever present in the vast wetland swamps.

A report of the Ministry of Finance (2012) indicated that agriculture contributed significantly on the Gross Regional Domestic Product of West Papua at 21%. This expresses by the engagement of almost households in the rural areas in farming as the major source of income.

Located at the north coast of the Bird’s Head Peninsula (BHP) in West Papua, Indonesia, Amberbaken district (Fig. 1.), contributes on approximately 25% of agricultural products for the Tambrauw regency. Amberbaken has seven villages: Arupi, Wekari, Saukorem, Wasarak, Wefiani, Samfarmun and Imbuan. All households engage in farming with an average crop lands varies in size (in average ± 500m2). The most common farming products consumed and sold is coffee, cocoa, cassava, banana, spices and other crops such tuber, coconut, peanut and vegetables.

Continue reading

Membaca……..pentingkah?


Freddy Pattiselanno (Universitas Negeri Papua, Manokwari)
 

gambar-2Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, tanpa disadari kita sudah berada di bulan April. Sangat menyesal karena berbagai kesibukan membuat saya tidak sempat mengisi tulisan pada bulan Maret lalu. Beberapa bulan terakhir ini kesibukan di kampus juga di rumah membuat komitmen saya untuk mengisi tulisan setiap bulan di blog menjadi luntur. Tapi awal bulan ini ketika sedang bekerja di perpustakaan saya sungguh tergugah dengan tulisan yang ditampilkan di pintu masuk perpustakaan “Reading is food for the soul”. Cepat-cepat saya mengambil kamera yang selalu siap di “back pack” saya dan mengambil gambar tulisan tersebut. Petugas perpustakaan yang melihat ulah saya kemudian senyum-senyum sendiri diikuti oleh beberapa pengunjung yang melintas ketika saya mengambil gambar. Apa yang tertulis sungguh menyentuh perasaan saya karena pada tahapan dimana kita akan menulis apa saja (cerita, laporan, opini, tugas, dll) kita membutuhkan kosa kata (vocabulary) yang akan membantu kita dalam mengkonstruksi tulisan kita. Karena itu kalau kita kurang banyak membaca, sudah bisa dibayangkan betapa sulitnya kita meyelesaikan tugas yang memerlukan bahan bacaan sebagai sumber informasi yang dibutuhkan.

Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,120 other followers

%d bloggers like this: