Monthly Archives: October 2010

Pasar Tradisional Versus Modern


Oleh : Agustina Y.S. Arobaya*)

Di sejumlah daerah terjadi polemik seputar lokasi dagang para pedagang tradisional. Alias, penentuan lokasi-lokasi khusus bagi pedagang pribumi Papua.Tak jarang terjadi pertentangan yang cukup keras antara pemerintah dan pedagang. Keterbatasan akses menjadi salah satu penghambat usaha para pedagang tradisional.Mereka sering menempati areal sekitar toko atau pasar modern untuk mendapatkan pembeli dari pengunjung pasar modern.
Jarak ke lokasi pasar juga menjadi kendala karena ongkos angkut barang dagangan seperti hasil kebun yang harus dikeluarkan. Ini banyak menyedot pendapatan penjual yang tidak seberapa. Padahal, para pedagang pribumi kebanyakan berjualan sekadar untuk menjawab keperluan hidup sehari-hari.  Fenomenanya menyerupai proses barter: produk yang dijual hanya diubah bentuknya menjadi keperluan rumah tangga.

Continue reading

Limbah yang berguna: Harapan peternak babi terhadap sumber pakan alternatif di pesisir Manokwari


Freddy Pattiselanno

Membalik paradigma lama

Umumnya kajian yang dilakukan di tingkat peneliti atau akademisi bersifat sangat teknis dan terkadang membutuhkan rentang waktu yang cukup panjang sebelum diaplikasikan di lapangan bahkan sampai ke tangan pengguna. Oleh karena itu tidak jarang hasil akhir suatu penelitian hanya sampai di ruang baca sebuah perpustakaan.  Belajar dari pengalaman tersebut, usaha untuk membalik kondisi yang sudah cukup lama berlangsung menjadi suatu tantangan bagi kelangan intelektual di perguruan tinggi sehingga hasil suatu kajian lebih aplikatif dan bersifat partisipatif dengan melibatkan masyarakat pengguna hasil penelitian tersebut.  Hal ini tentunya menjadi suatu paradigma baru yang selalu diangan-angankan dan perlu diwujud nyatakan.

Continue reading

Hutan mangrove dan kelompok etnis di Papua: Bentuk pemanfaatannya oleh masyarakat lokal


This slideshow requires JavaScript.

Oleh:  Agustina Y.S. Arobaya1 & Freddy Pattiselanno 2

Secara visual hutan mangrove digambarkan sebagai kumpulan pepohonan pantai di daerah tropis yang mampu hidup, tumbuh dan berkembang secara alami pada daerah pasang surut yang berpantai lumpur.  Dalam pengertian yang lebih luas, hutan mangrove didefinisikan sebagai suatu ekosistem yang terdiri dari gabungan komponen laut, termasuk didalamnya adalah flora dan fauna yang hidup saling bergantungan satu dengan lainnya.  Diperkirakan hutan mangrove di Indonesia berjumlah sekitar 4,25 juta ha dan sekitar 3 juta ha penyebarannya berada di Papua.  Di Papua mangrove lebih populer dengan nama Nipa, Mange-mange atau Lolaro.

Keberadaan hutan mangrove memainkan peranan yang sangat penting bagi kehidupan masayarakat dan tidak dapat disangkal lagi memberikan kontribusi yang sangat signifikan bagi mereka yang hidup di sekitar kawasan hutan mangrove.  Hutan mangrove mempunyai fungsi yang berragam antara lain (1) pengahalang erosi pantai, (2) pengolah limbah organik, (3) tempat pemijahan (spawning ground) dan pengasuhan (nursery ground) maupun mencari makan (feeding ground) dari berbagai jenis biota laut, (4) habitat berbagai jenis satwa, (5) penghasil kayu dan non-kayu serta (6) potensi ekoturisme. Secara lebih spesifik, sebagai suatu kesatuan eksosistem dan pendukung komponen biotik manfaat hutan mangrove antara lain (1) lahan tambak, pertanian dan kolam garam, (2) arena pariwisata dan pendidikan, (3) chips sebagai bahan baku kertas, (4) industri papan dan plywood, (5) sumber kayu bakar dan arang berkualitas dan (6) pendukung kehidupan fauna; ± 52 jenis ikan dan 61 jenis udang, 54 jenis burung berasosiasi dengan mengrove serta sebagai sarang lebah madu.

Continue reading

Indigenous pigs management, experiences from the upland areas of West Papua


Freddy Pattiselanno

West Papuan natives who occupied the remote areas (coastal and upland areas) are commonly relies on “the blessing of nature”. The chief livelihood of community members is subsistence agriculture, including slash and burn practices, forest gathering, harvesting and subsistence hunting.  An agriculture form of shifting cultivation is often practiced from their ancestors due to nomadic practices up to the present time.  Traditionally, conventional livestock raised by the natives Papua are chicken, pig and cattle. Among these animals, pigs are the most highly animals, both socially and culturally in West Papua society.

Continue reading

Pemanfaatan sumber energi melalui pola pertanian terintegrasi


Deskripsi usaha peternakan tradisional

Usaha peternakan (produksi peternakan) adalah bagian penting yang tak terpisahkan bagi umumnya masyarakat petani-peternak di negara-negara berkembang. Kurang lebih 2/3 dari ternak di dunia berada di negara berkembang.  Bagi petani-peternak dengan pemilikan lahan yang sangat terbatas (smallholder), tujuan utama memelihara ternak adalah sebagai sumber makanan “daging”, kotorannya (manure) dimanfaatkan sebagai pupuk dan biogas, sebagai tabungan yang sewaktu-waktu dapat dijual, dan memainken peranan penting dalam fungsi sosial dan budaya yang diwariskan secara turun temurun.  Semua aspek yang sudah disebutkan tadi umumnya dikenal dengan “multi purposes system”.

Continue reading

%d bloggers like this: