Pemanfaatan sumber energi melalui pola pertanian terintegrasi


Deskripsi usaha peternakan tradisional

Usaha peternakan (produksi peternakan) adalah bagian penting yang tak terpisahkan bagi umumnya masyarakat petani-peternak di negara-negara berkembang. Kurang lebih 2/3 dari ternak di dunia berada di negara berkembang.  Bagi petani-peternak dengan pemilikan lahan yang sangat terbatas (smallholder), tujuan utama memelihara ternak adalah sebagai sumber makanan “daging”, kotorannya (manure) dimanfaatkan sebagai pupuk dan biogas, sebagai tabungan yang sewaktu-waktu dapat dijual, dan memainken peranan penting dalam fungsi sosial dan budaya yang diwariskan secara turun temurun.  Semua aspek yang sudah disebutkan tadi umumnya dikenal dengan “multi purposes system”.

Oleh karena itu tidak asing lagi bahwa usaha produksi peternakan berskala kecil memberikan kontribusi yang sangat penting terhadap ekonomi masyarakat. Menurut Rangnekar (2001) yang disitir Garcés (2002), di India misalnya ternak memberikan kontribusi sebesar 30% dari total output farm, dan sekitar 80% dari produksi peternakan berasal dari peternak skala kecil dengan jumlah ternak peliharaan 3-5 ekor, dan luas lahan kurang dari 2 hektar.

Integrasi lahan pertanian dan ternak

Pertanian dalam arti luas pada prinsipnya adalah usaha manusia untuk memanipulasi kondisi eksosistem yang ada melalui proses transformasi energi matahari ke biomass (tanaman) yang sangat berguna bagi manusia.  Guna mengelola proses ini dalam usaha mencukupi kebutuhannya sendiri sebagai sumber pangan, pakan ternak, serta sumber bahan bakar, diperlukan juga masukan energi dari petani yang bersangkutan.  Dalam skala tradisional, umumnya usaha pertanian skala kecil (small-scale farmers) menyediakan energi yang dibutuhkan dengan usaha kerja mereka sendiri, yang kadang-kadang dibantu oleh “draught animals”.

Ketersediaan masukan energi adalah salah satu factor pembatas yang sering dihadapi petani/peternak skala kecil ketika berupaya untuk mengembangkan usaha atau meningkatkan kapasitas produksi usaha mereka.  Upaya yang dapat dilakukan misalnya dengan integrasi berbagai komponen dalam system pertanian seperti tanaman dan ternak yang mampu memelihara sirkulasi energi.  Beberapa sistem pertanian tradisional misalnya mengintegrasikan hasil panen, limbah panen, ternak, kotoran ternak terkadang ikan ke dalam system tertutup ini yang hanya memerlukan tambahan energi relatif kecil.

Dalam praktek pertanian berskala kecil, manajemen praktis melalui peningkatan fungsi ekologi dari semua mahluk hidup yang tercakup dalam sistem perlu dioptimalisasikan.  Hal ini dilakukan dengan jalan memanipulasi interaksi antara iklim, tanah, tanaman, ternak dan peternak.

Pola pertanian terintegrasi

Pengalaman di beberapa negara seperti Cambodia, Columbia dan contoh praktis dari Nepal menunjukkan hasil yang baik dalam pengembangan sistem pertanian terintegrasi.  Penambahan elemen ternak ke dalam sistem berfungsi untuk memanfaatkan proses recycle produk limbah bersama dengan produktifitas tinggi dari energi dan protein tanaman yang digunakan dalam meningkatkan produktifitas secara berkelanjutan dari usaha pertanian berskala kecil dan komersial di daerah tropis.

Di Nepal, integrasi antara ternak dan lahan pertanian dikenal dengan sistem “in-situ manuring” melalui penggembalaan sapi dan kerbau di sekitar teras sawah setelah 2 – 3 bulan tanaman pertama dipanen atau di bawah kanopi kebun buah-buahan.  Kandang temporary disiapkan untuk melindungi ternak selama periode tertentu (tergantung luas lahan dan jumlah ternak) untuk menampung manure (kotoran ternak) yang digunakan sebagai kompos untuk lahan pertanian/perkebunan (Joshi & Ghimire, 1996)

Menurut (Subedi, 1996) sistem ini membantu petani/ternak untuk menyediakan pakan secara langsung pada ternak di tempat dan mengurangi biaya transportasi manure/kompos dari kandang ke lahan pertanian. Praktek yang sama juga umum dilakukan di daerah perbukitan dan lembah (<1000 m dpl), dimana selain konsentrat, sisa-sisa tanaman pertanian merupakan sumber pakan ternak utama ternak. Metode ini sangat berperan dalam memelihara kesuburan lahan pertanian.

Di Indonesia Sistem Tiga Strata atau teknik pengolahan lahan melalui penanaman tanaman hortikultura dan tumbuhan pohon serta kombinasi rumput dan legum sebagai pagar sudah diakui sebagai suatu model “integrated farming” yang baik.  Komponen ternak ditambahkan ke dalam sistem untuk meningkatkan daya dukung lahan.  Kita juga mengenal apa yang disebut dengan pemeliharaan ayam dengan sistem “longyam”.  Teknis pemeliharaannya yaitu dengan mengintegrasikan kandang ayam di atas kolam ikan, sehingga kotoran ayam sekaligus menjadi sumber pakan bagi ikan. Dengan model pengolahan lahan seperti ini, tanah marginal dapat dimanfaatkan dengan ditanami jenis tanaman hijauan pakan yang efektif dan dapat menjamin ketersediaan pakan pada musim kemarau.

Kesimpulan & Rekomendasi

Integrated farming dalam arti luas bertujuan memanfaatkan sumber daya lokal (kondisi alam, spesies tanaman lokal, potensi ternak setempat) melalui pengetahuan tradisional dan pengalaman dalam mengelola lahan pertanian untuk mendapatkan hasil yang optimal melalui pendekatan agro ekologi yang ramah lingkungan (environmental friendly).

Sentuhan aplikasi teknolgi tepat guna yang relevan dengan kondisi daerah setempat akan semakin mengefektifkan sistem terintegrasi ini untuk penyediaan sumber energi di lahan pertanian secara berkelanjutan (sustainable).

REFERENCES

Garcés, L. 2002. The ‘Livestock Revolution’ and its impact on smallholder LEISA 18 (1): 7-9

Joshi, B.R. & S.C. Ghimire. 1996. Livestock and soil fertility: a double bind. ILEIA Newsletter 12 (1): 18

Subedi, K.D. 1996. In-situ manuring: a traditional way to maintain soil fertility.  ILEIA Newsletter 12 (1): 19

Freddy Pattiselanno

Laboratorium Produksi Ternak

Fakultas Peternakan Perikanan & Ilmu Kelautan (FPPK)

Universitas Negeri Papua (UNIPA)

Manokwari – Papua Barat

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: