Hutan mangrove dan kelompok etnis di Papua: Bentuk pemanfaatannya oleh masyarakat lokal


This slideshow requires JavaScript.

Oleh:  Agustina Y.S. Arobaya1 & Freddy Pattiselanno 2

Secara visual hutan mangrove digambarkan sebagai kumpulan pepohonan pantai di daerah tropis yang mampu hidup, tumbuh dan berkembang secara alami pada daerah pasang surut yang berpantai lumpur.  Dalam pengertian yang lebih luas, hutan mangrove didefinisikan sebagai suatu ekosistem yang terdiri dari gabungan komponen laut, termasuk didalamnya adalah flora dan fauna yang hidup saling bergantungan satu dengan lainnya.  Diperkirakan hutan mangrove di Indonesia berjumlah sekitar 4,25 juta ha dan sekitar 3 juta ha penyebarannya berada di Papua.  Di Papua mangrove lebih populer dengan nama Nipa, Mange-mange atau Lolaro.

Keberadaan hutan mangrove memainkan peranan yang sangat penting bagi kehidupan masayarakat dan tidak dapat disangkal lagi memberikan kontribusi yang sangat signifikan bagi mereka yang hidup di sekitar kawasan hutan mangrove.  Hutan mangrove mempunyai fungsi yang berragam antara lain (1) pengahalang erosi pantai, (2) pengolah limbah organik, (3) tempat pemijahan (spawning ground) dan pengasuhan (nursery ground) maupun mencari makan (feeding ground) dari berbagai jenis biota laut, (4) habitat berbagai jenis satwa, (5) penghasil kayu dan non-kayu serta (6) potensi ekoturisme. Secara lebih spesifik, sebagai suatu kesatuan eksosistem dan pendukung komponen biotik manfaat hutan mangrove antara lain (1) lahan tambak, pertanian dan kolam garam, (2) arena pariwisata dan pendidikan, (3) chips sebagai bahan baku kertas, (4) industri papan dan plywood, (5) sumber kayu bakar dan arang berkualitas dan (6) pendukung kehidupan fauna; ± 52 jenis ikan dan 61 jenis udang, 54 jenis burung berasosiasi dengan mengrove serta sebagai sarang lebah madu.

Layaknya komunitas masyarakat lain yang hidup di dalam dan sekitar hutan, beberapa suku di Papua sangat erat berintegrasi dengan lingkungan hutan termasuk kawasan hutan mangrove.  Hubungan antara masyarakat dengan ekosistem sekitarnya diekspresikan melalui pemanfataan berbagai produk hutan untuk berbagai alasan pemanfaatan.  Oleh karena itu sekalipun dalam era modern sekarang ini, beberapa etnik grup di Papua sangat tergantung pada sumberdaya hutan termasuk kawasan mangrove sebagai bagian dari budaya dan tradisi mereka.

Berikut ini gambaran pola pemanfaatan mangrove oleh beberapa kelompok etnik yang ada di Papua baik sebagai sumber pangan,  bahan konstruksi dan sumber energi, bahan obat tradisional, habitat hewan liar dan potensi wisata berbasis ekologi.

Mangrove sebagai sumber pangan

Bruguiera gymnorhiza adalah jenis mangrove yang dimanfaatkan oleh beberapa suku sebagai sumber pangan seperti suku Biak yang memanfaatkan patinya sebagai sumber karbohidrat, demikian juga dengan kelompok etnik Wondama di pesisir Teluk Wondama yang mengkonsumsi buah matang Bruguiera sp., dan suku Inanwatan di Sorong. Jenis mangrove lainnya yang juga dimanfaatkan antara lain A. alba, A. lanata, N. fruticans dan Sonneratia caseolaris yang dikonsumsi langsung atau direbus/dibakar dengan kelapa kemudian dikonsumsi oleh suku Inanwatan di Sorong.

Bahan konstruksi dan sumber energi asal mangrove

Pemanfaatan kayu sebagai bahan konstruksi merupakan hal yang umum bagi masyarakat di daerah dataran tinggi, namun bagi  mereka yang mendiami wilayah pesisir, hutan mangrove merupakan sumber bahan konsutruksi. Bahkan pada jenis tertentu dahan dan ranting yang relatif lebih kecil digunakan sebagai kayu bakar.

Bagi kelompok etnik Biak, bagian batang, dahan dan ranting R. apiculata selain untuk kayu bakar juga digunakan sebagai bahan konstruksi.  Hal yang sama juga berlaku bagi species Sonneratia alba dan Xeriops tagal dimana batang yang besar digunakan untuk membangun rumah, pagar atau bangunan lainnya sedangkan dahan dan ranting dimanfaatkan sebagai sumber kayu bakar.

Bagian batang Avicenia lanata digunakan untuk membuat badan perahu oleh suku Inanwatan di Sorong.  Selanjutnya dijelaskan bahwa beberapa jenis mangrove digunakan sebagai bahan konstruksi antara lain batang Ceriops decandra, C. tagal dan Rhizopora mucronata selain digunakan sebagai tiang pagar juga digunakan untuk membuat dinding rumah dan bahan pembuat perahu, sedangkan daun Nypha fruticans dianyam dan dibuat atap.  B. Gymnorhiza tidak hanya terbatas untuk dikonsumsi buah matangnya, tetapi juga bahan kayunya digunakan untuk membuat peralatan rumah tangga oleh suku Wondama di pesisir Teluk Wondama.

Bahan obat tradisional

S. alba digunakan sebagai obat, dimana kulitnya  digerus dan direbus dan air rebusannya diminum untuk mengontrol kehamilan dan membantu dalam persalinan kelompok etnik Biak. Jenis lain yang dimanfaatkan oleh suku Biak yaitu  daun Rhizopora atylosa yang berada di atas permukaan air dipatahkan dan digunakan untuk membantu anak kecil pada saat mulai belajar berbicara. Penggunaan mangrove sebagai bahan pencampur minuman keras kami golongkan ke dalam bagian ini karena bagi komunitas tertentu di Papua, minuman yang sudah dicampur dengan gerusan kulit, akar ataupun bagian lainnya dari mangrove berfungsi sebagai stimulan bagi vitalitas kaum pria.  Di Sorong misalnya, kelompok etnik Inanwatan menggunakan dua jenis mangrove yaitu masing-masing sadapan buah N. fruticans dan akar yang muda R. apiculata dimanfaatkan sebagai bahan pencampur minuman dan buah R. mucronata sebagai  obat diare. Sedangkan jenis lain yang dimanfaatkan yaitu Rhizopora sp. yang digunakan secara luas sebagai bahan pencampur minuman keras oleh kelompok etnik Wondama di Kabupaten Teluk Wondama.  Hal ini diungkapkan oleh Noor dkk, (1999) bahwa ada species mangrove yang dapat diolah menjadi minuman beralkohol (Nypa fruticans) dan minuman fermentasi (R. stylosa).

Fungsi hutan mangrove sebagai habitat satwa

Dari informasi yang telah diuraikan, ternyata bahwa pemanfaatan kawasan mangrove oleh masyarakat asli di Papua sebatas untuk kebutuhan pangan dan papan saja.  Hal ini jelas terlihat dari bentuk pemanfaatan langsung oleh masyarakat terhadap hutan mangrove yang ada di sekitarnya.  Walaupun demikian, ternyata banyak biota laut sebagai sumberdaya laut di sekitar kawasan mangrove juga dimanfaatkan sebagai sumber protein hewani masyarakat antara lain beberapa jenis ikan, kerang dan udang.

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh kelompok peneliti dari Universitas Negeri Papua di kawasan Teluk Bintuni, salah satu tempat yang memiliki kawasan mangrove yang cukup luas di daerah kepala burung, menunjukkan bahwa biota laut yang ada di kawasan mengrove sekitar Teluk Bintuni dimanfaatkan untuk kebutuhan subsistens masyarakat lokal maupun secara komersial oleh perusahaan yang bergerak di bidang perikanan.

Lebih lanjut diungkapkan bahwa komoditi perikanan tangkap yang mempunyai potensi ekonomi antara lain udang putih atau jerbung (Penaeus merguiensis), udang ende (Metapenaeus monoceros), udang shima (Parapenaeopsis sculptilis) dan lobster. Sedangkan jenis ikan yang bernilai ekonomi tinggi yang penyebarannya merata dan melimpah di Teluk Bintuni antara lain kakap tawar (Protonibea diacanthus), kakap putih (Lates carecarifer), tenggiri totol (Scomberomus queenslandicus), kerapu lumpur (Epinephelus coioides), lasi (Scomberiodes sp.), alu-alu (Sphyraena sp.) dan bubara/kuwe (Caranx sp.).

Hal lain yang tidak kalah penting yaitu fungsi hutan mangrove sebagai pendukung kehidupan fauna yang hidup berasosiasi dengan kawasan mangrove.  Di sungai Mamberamo kawasan hutan mangrove merupakan habitat sejumlah burung seperti Raja udang kecil (Alcedo pusilla),  Raja udang biru langit (A. azurea), Cekakak pantai (Halcyon saurophaga), Kuntul kerbau (Egretta ibis), Kuntul kecil (E. Garzetta), Kakatua koki (Cacatua galerita), Kakatua raja (Probosciger atterimus) dan Kasturi kepala hitam (Lorius lorry).  Mangrove monitor (Varanus indicus) dan buaya air tawar (Crocodilus porosus) adalah jenis reptil yang ditemukan di areal hutan mangrove.  Kondisi ini mendukung pernyataan Noor dkk, (1999) bahwa mangrove merupakan tempat ditemukannya berbagai jenis burung air dan reptilia (V. salvator dan C. porosus).

Kondisi yang digambarkan sebelumnya menunjukan betapa suatu ekosistem mangrove memiliki nilai keanekaragaman hayati yang cukup tinggi, dan ini sejalan dengan pernyataan Nontji (1987), dimana dalam ekosistem hutan mangrove di Indonesia dapat ditemukan 35 species tanaman, 9 species perdu, 5 species hewan dan 29 species epifit dan parasit.  Hal ini cukup beralasan karena sebagai suatu kesatuan, ekosistem mangrove bukan hanya sebagai penyedia makanan bagi biota tetapi juga berperan dalam pendauran serasah yang melibatkan sejumlah besar organisme dan mikrorganisme yang mampu menciptakan iklim yang baik bagi kehidupan biota (Ridd et al., 1990).

Wisata berbasis ekologi di Papua

Satu potensi mangrove yang belum secara optimal dimanfaatkan di Papua yaitu pariwisata laut berbasis ekologi.  Kendala yang dihadapi selama ini adalah ”conflict interest” dari stakeholder yang terlibat dalam pengembangan kawasan. Kenyataannya kepariwisataan alam saat sekarang ini berkembang ke arah pola wisata ekologis yang dikenal dengan istilah ekowisata (ecotourism) dan wisata minat khusus (alternative tourism) sehingga perlu diperhatikan aspek ekonomi, ekologi dan sosial masyarakat lokal.  Peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan mangrove melalui pemberdayaan ekonomi rakyat yang menguntungkan dan berkelanjutan adalah solusi yang perlu menjadi perhatian semua pihak untuk pengembangan wisata hutan mangrove dengan memfokuskan pada aktivitas memancing, bird watching, fotografi dan aktivitas lainnya yang bersifat hiburan.

Di waktu mendatang pemerintah daerah perlu memperhatikan secara serius hal ini melalui kerjasama dengan pihak swasta dan masyarakat setempat sebagai pemilik ulayat sehingga kerjasama yang ada mampu mengangkat potensi mangrove sebagai lahan pariwisata, pendidikan dan penelitian yang dikelola berdasarkan konsep yang berwawasan lingkungan yang dipadu dengan kondisi sosial budaya masyarakat demi kesejahteraan mereka sekaligus menjadi sumber pendapatan asli daerah seperti yang bisa dilihat di daerah lain di luar Papua.

Kondisi yang digambarkan sebelumnya menunjukkan betapa suatu eksosistem mangrove memiliki nilai keanekaragaman hayati yang cukup tinggi, dan ini sejalan dengan pernyataan Nontji (1987), eksosistem hutan mangrove di Indonesia mempunyai nilai keanekaragaman hayati yang tinggi karena didalamnya dapat ditemukan 35 species tanaman, 9 species perdu, 9 species liana, 5 species hewan dan 29 species epifit dan parasit.  Hal ini cukup beralasan karena sebagai suatu kesatuan, ekosistem mangrove bukan hanya sebagai penyedia makanan bagi biota, tetapi berperan dalam pendauran serasah yang melibatkan sejumlah besar mikroorganisme yang mampu menciptakan ikllim yang baik bagi kehidupan biota (Ridd et al., 1990).

Satu potensi mangrove yang belum secara optimal dimanfaatkan di Papua yaitu pariwisata laut berbasis ekologi yang masih terkendala ”conflict interest” dari stakeholder (para pihak) yang terlibat dalam pengembangan kawasan melalui kolaborasi yang bersifat saling menguntungkan.  Peningkatan kesejahteraan masyarakt sekitar hutan mangrove melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat yang menguntungkan dan berkelanjutan adalah solusi yang perlu menjadi perhatian semua pihak untuk pengembangan wisata hutan mangrove dengan memfokuskan pada aktivitas memancing, bird watching, fotografi dan aktivitas lain yang bersifat hiburan.

Di waktu mendatang pemerintah daerah perlu memperhatian secara serius hal ini melalui kerjasama dengan pihak swasta dan masyarakat setempat sebagai pemilik ulayat sehingga bentuk kerjasama yang ada mampu mengangkat potensi mangrove sebagai lahan parawisata, pendidikan dan penelitian yang dikelola berdasarkan konsep berwawasan lingkungan dipadukan dengan kondisi sosial budaya masyarakay demi kesejahteraan masyarakat sekaligus menjadi sumber pendapatan asli daerah.

1Peneliti pada Pusat Penelitian Keanekaragaman Hayati Universitas Negeri Papua, Manokwari, Email: agustinaarobaya@yahoo.com

2Dosen Program Studi Produksi Ternak Fakultas Peternakan Perikanan & Ilmu Kelautan Universitas Negeri Papua, Manokwari, Email: freddy.pattiselanno@fppk.unipa.ac.id

Catatan: Naskah dimuat dalam Tabloid Jubi 7 Desember 2009

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: