Potensi “Makaranga” sebagai pakan ternak


Oleh: Freddy Pattiselanno (Laboratorium Produksi Ternak FPPK UNIPA)


Pendahuluan

Pengembangan usaha peternakan rakyat yang umumnya bersakala kecil dan bersifat tradisional, sudah seharusnya memanfaatkan potensi sumberdaya local khususnya sebagai sumber pakan ternak.  Hal ini dapat dimengerti karena sekitar 80 persen dari biaya produksi usaha peternakan adalah berasal dari pakan.  Salah satu species tumbuhan yang dinilai mampu memberikan kontribusi sebagai sumber pakan ternak ruminansia adalah Mahang (Macaranga) yang cukup tersedia di hutan alam dalam  berbagai jenis.  Di bidang kehutanan, pohon ini dikenal karena potensinya sebagai penghasil kayu komersial.

Bentuk pemanfaatan Makaranga

Meskipun jenis kayunya kurang dikenal, prospeknya cukup baik sebagai komoditi kayu perdagangan yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.  Masyarakat di Sumatera Selatan misalnya memanfaatkan makaranga sebagai bahan bangunan, alat rumah tangga dan sebagai bahan baku pulp kertas.  Di Pulau Jawa, selain nilai ekonomis yang sama seperti di Sumatera, kulit batang, akar, serta daun muda dari makaranga dimanfaatkan untuk obat-obatan tradisional.

Di Papua, fungsi pohon ini lebih bersifat konvensional yaitu sebagai penyedia kayu bakar, bahan bangunan dan daunnya sebagai pembungkus makanan. Masyarakat di Papua New Guinea khususnya komunitas yang mendiami daerah Manus dan Trobiands menggunakan daun Makaranga sebagai tanaman obat-obatan untuk mengobati sakit kepala, sakit perut, cacingan atau memar.

Habitat, penyebaran & deskripsi

Makaranga dapat tumbuh di dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 2400m di atas permukaan laut.  Jenis ini dapat tumbuh pada berbagai keadaan tanah subur, tanah lumpur, berbatu, dan berpasir koral. Dengan kemampuan tumbuh di berbagai kondisi tanah, maka penyebaran Makaranga cukup luas dimulai dari Srilanka ke India, menuju Thailand, Indocina, Philipina kemudian ke arah selatan ke Malaysia, Indonesia dan ke bagian timur di Papua.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Makaranga umumnya tumbuh cepat, hidup berkelompok  sehingga mudah dibudidayakan.  Tinggi pohon ini berkisar 6-9 meter dengan batas bebas cabang 2-5 meter dan diameter 10-16 meter.  Bentuk batang silindris, tidak berbanir dan kulit batang berwarna coklat dengan bercak putih. Daun tersusun tinggal, berseling, berbentuk hati, bulat telur, bercaping tiga yang ditopang pada tangkai daun yang panjang dan kadang berkelenjar.  Makaranga mempunyai daun berbentuk peltatus dengan daun penumpu berbentuk segitiga lanset.  Bunga berwarna kuning, tersusun dalam malai dengan buah berbentuk kotak yang terbagi dalam tiga ruang.

Komposisi Kimia

Dari berbagai sumber diketahui bahwa komposisi kimia Makaranga adalah sebagai berikut: protein (18.9 gram); lemak (60.4 gram); karbohidrat (7.4 gram); serat kasar (2.2 gram) dan calcium (4.74 gram).  Sedangkan menurut hasil analisa yang dilakukan oleh Tim Fakultas Peternakan UNIPA menunjukkan bahwa daun makaranga mengandung kadar bahan kering (85.72%); protein kasar (11.60%); serat kasar (23.8%), lemak (5.33%) serta Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN) 38.18%.

Uji laboratorium yang dilakukan di Balitnak-Bogor memberikan informasi bahwa Makaranga mengandung kadar bahan kering (88.37%); protein kasar (15.45%); serat kasar (15.49%); lemak (7.45%); abu (5.71%); calcium (1.19%); phospor (0.23%) dan energi 4105 kalori/gram).  Selain itu Makaranga juga mengandung selulosa, lignin, pentosan dan ekstrak alkohol benzena.

Daun Makaranga sebagai Pakan Ternak

Pengamatan yang dilakukan terhadap peternak kambing di Manokwari yang umumnya memelihara ternak kambing secara umbaran (dilepas bebas) menunjukkan bahwa daun Makaranga sangat disenangi oleh ternak kambing peliharaan meraka.  Di sisi lain potensi penyebaran Makaranga yang cukup luas dan merata di Papua.  Faktor pendukung lain yaitu hasil analisa proksimat yang mengungkap kandungan protein Macarangan di atas 10% atau dapat dikategorikan sebagai hijauan dengan kualitas tinggi.

Mengacu pada faktor-faktor pendukung yang sudah disebutkan, maka pemanfaatan Makaranga sebagai  bahan pakan ternak sangat beralasan, karena memenuhi criteria nilai gizi, tersedia setiap saat, harganya murah dan disukai oleh ternak. Tetapi informasi ilmiah tentang tingkat kesukaan (palatabilitas) ternak terhadap Makaranga ini belum diteliti.

Hal ini yang mendasari dilakukannya studi pemanfaatan daun makaranga sebagai pakan ternak kambing di FPPK UNIPA, untuk melihat sampai seberapa banyak daun makaranga dapat digunakan sebagai pakan substitusi pada ternak kambing kacang.  Yang dijadikan tolak ukur untuk melihat tingkat kesukaan pakan yaitu respon pemberian terhadap konsumsi pakan, kecernaan zat-zat makanan dan pertumbuhan ternak yang mengkonsumsi pakan kombinasi daun makaranga dan rumput Raja .

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampai pada tingkat kombinasi daun makaranga dan rumput Raja sebanyak 50 persen, terlihat kecenderungan meningkatnya konsumsi pakan yang ikut memberikan kontribusi terhadap pertambahan bobot badan serta efisiensi pakan yang baik.  Studi ini juga menunjukkan bahwa kecernaan zat-zat makanan pakan percobaan pada semua tingkat substitusi memberikan hasil yang relatif sama, akan tetapi respon yang positif jelas terlihat pada tingkat substitusi 50 persen daun macaranga terhadap rumput Raja.

Hasil ini memberikan pengertian bahwa penggunaan daun makaranga sampai 50% dalam pakan kombinasi dengan rumput Raja memberikan pengaruh terhadap tingkat konsumsi pakan yang pada akhrinya memberikan pertambahan bobot badan serta keefisienan pakan yang baik pula.  Hasil lain yang diperoleh yaitu sebagai pakan substitusi kemampuan ternak kambing mengkonsumsi macaranga cukup baik dibuktikan dengan indikator tingkat kecernaan zat-zat makanan pakan yang baik.  Penelitian ini kemudian merekomendasikan penelitian yang sama terhadap jenis ternak ruminansia besar (sapi dan kerbau).

Bahan bacaan acuan:

Pattiselanno, F. & S. Hafid. 2000. Pemanfaatan daun Mahang (Macaranga mappa) sebagai pakan substitusi ternak kambing. Jurnal Ilmu-ilmu Peternakan Fapet Unibraw (10) 2: 21-24.

Rumbino, D.A. 1995.  Studi morfologi beberapa jenis Mahang (Macaranga spp.) di Pulau Mansinam Kebupaten Manokwari.  Skripsi Sarjana Kehutanan Uncen.

Tim Peternakan Uncen. 1996.  Potensi sumberdaya hijauan makanan ternak di Kecamatan Mamberamo Hilir Kabupaten Jayapura. Hasil penelitian Faperta Uncen, Manokwari.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: