Pemberdayaan peternakan Kambing PE: Usaha pengembangan kewirausahaan di Kabupaten Sorong


Oleh: Freddy Pattiselanno

Visi penting pembangunan pertanian adalah terwujudnya masyarakat yang sejahtera melalui pembangunan sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan dan desentralistis. Khusus pada sub-sektor peternakan, pengembangan seluruh mata rantai agribisnis secara terpadu, berpeluang untuk memperluas dan memperdalam spektrum pembangunan peternakan yang sekaligus meningkatkan penyerapan tenaga kerja pedesaan dan pemerataan pendapatan.

Pengembangan seluruh mata rantai agribisnis pada sub-sektor peternakan, secara terpadu, berpeluang untuk memperluas dan memperdalam spektrum pembangunan peternakan yang sekaligus meningkatkan penyerapan tenaga kerja pedesaan dan pemerataan pendapatan serta meningkatkan gizi masyarakat. Dalam kehidupan yang bersifat makro tampaknya ternak ruminansia kecil masih merupakan komponen minor padahal di sisi lain ternak tersebut tetap memainkan peranan penting kearah stabilitas usaha tani kecil.  Akibat dari fenomena ini adalah terciptanya pola pikir peternak yang tetap tradisional karena usaha yang dijalankan belum berorientasi pasar (market oriented) tetapi orientasi sambilan yang berdampak pada jumlah minimal komoditi yang bisa mencapai keuntungan.

Pembinaan peternak kambing PE di Sorong

Melalui program “Pembinaan Perbaikan Sarana Pengolahan Hasil Pertanian” dari Departemen Pertanian melalui Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Papua Barat, telah dilakukan kegiatan pendampingan usaha peternakan kambing PE dan pembinaan pengembangan sarana pengolahan selama ± 3 bulan di Distrik Aimas Kabupaten Sorong (Gambar 1).  Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk kerja sama antara instansi teknis terkait dan lembaga pendidikan tinggi yang ada di daerah.  Pelaksana kegiatan adalah Jurusan Produksi Ternak Fakultas Peternakan Perikanan  & Ilmu Kelautan Universitas Negeri Papua di Manokwari dan sebagai responden adalah peternak kambing PE dari kelompok tani Setia Kawan, Margo Tani dan Margo Utomo di Distrik Aimas sebagai peternak binaan Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Papua Barat.

Tahapan kegiatan yang dilakukan meliputi: (1) Kegiatan pra-survey yang dilakukan bersama dengan tim teknis dari dinas terkait, (2) Monitoring kemajuan usaha yang sudah dijalankan berdasarkan program bantuan ternak kambing PE dari Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Papua Barat, (3) Identifikasi permasalahan dan kendala pengembangan usaha, (4) Pembinaan secara teknis melalui kegiatan pendampingan di lapangan, sarasehan, temu wicara, praktek bersama mahasiswa, penyuluhan dan pelatihan langsung ke kelompok sasaran (Gambar 2).

Usaha peternakan kambing perah Peranakan Ettawa (PE) di Kabupaten Sorong yang sudah dimulai sekitar tahun 1996 ternyata mempunyai peluang pengembangan bisnis yang cukup menjanjikan.  Sayangnya potensi yang ada tidak ditunjang dengan pengetahuan peternak dalam budidaya kambing perah yang memadai.  Hal ini terlihat masih banyaknya peternak yang kurang serius dalam penanganan ternak sebagai ternak perah, dan memperlakukan kambing perah PE sebagai ternak potong.  Sebagai akibatnya peternak belum banyak yang menikmati hasil dari produksi susu kambingnya.

Sebelum kegiatan pendampingan dilakukan kelompok tani hanya mengandalkan produksi susu segar yang memang diminati konsumen karena diyakini mempunyai khasiat yang tinggi dalam mengobati jenis penyakit tertentu.  Dalam kondisi seperti ini jika produksi susu tidak ditingkatkan maka pengembangan usaha akan terkendala karena keterbatasan peluang pasar produk olahan lainnya.  Oleh karena itu selama pendampingan anggota kelompok petani/ternak yang ada diberikan pengetahuan produksi ternak serta hal-hal praktis yang berkaitan dengan pemanfaatan hijauan pakan ternak.  Hasil akhir yang diharapkan yaitu produksi susu dapat ditingkatkan sehingga memberikan peluang pengolahan susu segar menjadi aneka ragam produk yang dapat dilempar ke pasar.

Penganekaragaman produk susu kambing

Hal yang menggembirakan yaitu kemampuan ketua kelompok dalam memotivasi para anggota melalui pelatihan intern yang dilakukan bersama dengan Dinas Peternakan Kabupaten Sorong (Gambar 3).  Karena itu dalam kegiatan pendampingan salah satu usaha yang dilakukan yaitu membantu kelompok tani yang ada untuk melakukan penganekaragaman produk sehingga mampu memproduksikan susu instan, kembang gula, dodol dan aneka makanan kecil dengan bahan dasar susu kambing.  Dalam kegiatan bersama yang dilakukan tim peneliti dari Universitas Negeri Papua mengambil sampel susu intan yang diproduksi oleh kelompok tani untuk dianalisa kadar gizinya di laboratorium Balai Penelitian dan Pengembangan Peternakan di Ciawi Bogor.  Hasil yang diperoleh sangat membantu kelompok tani dalam pemasaran hasil produksi karena kandungan gizi susu instan yang diproduksi langsung dapat dipasang pada label kotak susu yang dipasarkan (Gamber 4).

Hal lain yang menguntungkan yaitu kandungan gizi susu instan ini menjadi acuan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Sorong dalam melakukan inspeksi rutin dalam kaitannya dengan pemberian ijin usaha. Deskripsi kandungan gizi ini secara tidak langsung memberikan gambaran tingkat hygienis teknik pengelolaan produk susu yang sangat rentan terhadap kondisi lingkungan yang kurang bersih.

Strategi promosi untuk pemasaran hasil

Usaha pemasaran produk selama ini hanya dari mulut ke mulut bagi konsumen yang sudah pernah membeli produk susu kambing ini.  Kerinduan kelompok tani ini mengembangkan pemasaran hasil yang ada selama ini belum berjalan dengan baik. Akhirnya dalam kegiatan pendampingan, bersama dengan tim peneliti coba ditelusuri kemungkinan rencana promosi produk melalui beberap media alternatif seperti media cetak dan media elektronik (Gambar 5). 

Usaha ini disambut positif RRI Sorong yang melakukan peliputan kegiatan pendampingan dan selanjutnya ditindak lanjuti dengan memberikan kesempatan kepada kelompok tani untuk mengisi siaran pedesaan produksi RRI Sorong.  Selebihnya kelompok tani diberikan kemudahan untuk mengisi siaran iklan sebagai salah strategi pemasarn produk susu mereka. Langkah yang ditempuh pada akhirnya membuka peluang pasar yang semakin meluas bukan hanya di kota Sorong tetapi di beberapa daerah di Papua.  Ketekunan peternak patut diacungkan jempol karena kelompok binaan Dinas Pertanian Provinsi Papua Barat selalu terlibat dalam kegiatan di tingkat nasional seperti pameran serta Pekan Nasional Pertemuan Kontak Tani Nelayan se-Indonesia yang lalu dengan hasil yang menggembirakan yaitu juara II untuk kriteria pengolahan produk ternak.

Wirausaha dan peluang pasar

Terbentuknya kelompok peternak di daerah sasaran sebagai cikal bakal pengembangan sentra agribisnis perlu dioptimalkan dengan kebijakan pemerintah (instansi teknis terkait) di tingkat kabupaten / kotamadya  baik dalam bentuk pembinaan serta bantuan sapronak yang mampu menunjang pengembangan usaha.  Adanya program bantuan ternak tentunya harus berdasarkan prioritas pengembangan dan peruntukan wilayah, sehingga tidak bias dalam melanjutkan program-program yang telah dilaksanakan sebelumnya tetapi mampu mengakomodir tujuan secara umum (1) meningkatkan taraf hidup peternak, (2) meningkatkan gizi rumah tangga di pedesaan dan (3) usaha mencipatakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat di pedesaan.

Pembinaan lintas sektoral dapat saja dilaksanakan misalnya dengan melibatkan beberapa instansi teknis terkait (Dinas Kesehatan, Perindustrian, Koperasi, Pertanian dan Peternakan) melalui bentuk pembinaan penyuluhan, sarasehan, temu wicara, dan pelatihan yang sifatnya membangun kinerja peternak setempat.  Selain itu pula keterlibatan lembaga swadaya masyarakat yang banyak bergerak dalam usaha pemberdayaan masyarakat serta pihak perguruan tinggi dan lembaga penelitian sebagai sumber informasi dan ilmu pengetahuan akan sangat membantu pembinaan organisasi yang telah terbentuk.

Keseriusan pembinaan hendaknya diikuti dengan pengenalan paket program teknologi tepat guna yang dapat dikembangkan di tingkat petani agar usaha yang dijalankan akan lebih efisien. Oleh karena itu kesempatan berinveastasi melalui kolaborasi partisipatif bagi pihak swasta perlu dipertimbangkan untuk dibuka seluas-luasnya demi tercapainya pengembangan kawasan yang diinginkan.

Freddy Pattiselanno

Laboratorium Produksi Ternak Fakultas Peternakan Perikanan & Ilmu Kelautan

Universitas Negeri Papua, Manokwari.  Email: pattiselannofreddy@yahoo.com

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • Suyadi Reksohadiprodjo  On May 6, 2011 at 10:08 am

    Excuse my unscientific note, simply because my excitement to find a brother in Papua handling milk Goats. I do wish to find reason & mechanism of goat milk to be (it is said) so miraculous against Asthma, Tuberculosis, age-ing, just to mention a few “plusses” this wonderful commodity by HIS creation…

    • Freddy Pattiselanno (Endek)  On May 7, 2011 at 8:51 am

      Itu hanya berdasarkan pengalaman mereka yang meminum susu kambing PE segar. Mekanisme yang jelas, mungkin perlu ditelusuri lebih lanjut. Karena itu saya sendiri belum bisa memberikan komentar soal itu. Terima kasih.

  • Suyadi Reksohadiprodjo  On December 2, 2014 at 4:25 am

    Turut bersyukur adanya peningkatan pengembangan peternakan Kambing Perah yang perannya untuk masyrakat luas tidak diragukan lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: