Doreri, riwayatmu dulu


Freddy Pattiselanno

Fakultas Peternakan Perikanan & Ilmu Kelautan Universitas Negeri Papua Manokwari

Multifungsi Teluk Doreri

Sejak dahulu, kawasan perairan Teluk Doreri telah dikenal dengan baik sebagai pintu masuk kota Manokwari melalui laut.  Dalam sejarah kota Manokwari, peranan Teluk Doreri sangat popular, karena sejarah pekabaran injil mencatat Teluk Doreri sebagai titik awal pekerjaan misi Agama Kristen di Tanah Papua dimulai ketika kapal zending Eropa merapat di Pulau Mansinam (pulau yang berjarak 15 menit perjalanan motor tempel dari Manokwari).

Lebih dari itu, sebagai teluk yang letaknya cukup strategis (00o51’32,5” – 00o52’40,4”LS dan 134o02’57,7” – 134o 05’11,5” BT) Teluk Doreri mempunyai fungsi yang beragam yaitu sebagai tempat bermuaranya beberapa sungai (Sanggeng, Wirsi, Kwawi dan Dingin), pelabuhan laut baik untuk kepal domestik nasional ataupun antar pulau di Papua, tempat kegiatan perikanan tangkap nelayan tradisional, areal pemukiman dan tempat rekreasi.

Sebagaimana layaknya daerah pesisir lainnya, sepanjang kawasan teluk merupakan areal pemukiman masyarakat dari berbagai lapisan dengan sumber mata pencaharian yang berbeda.  Suatu hal menarik yang dapat diamati di sepanjang pesisir teluk ini selain menjadi pangkalan sejumlah perahu nelayan tradisional sebagaimana layaknya daerah pesisir lainnya, juga merupakan kawasan usaha peternakan babi rakyat dengan model kandang terapung di atas permukaan laut, “kandang berlabuh” dalam dialek setempat.

Pencemaran di kawasan Teluk Doreri salah siapa?

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Jurusan Perikanan dan Kelautan di Fakultas Peternakan Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Negeri Papua, ternyata bahwa kawasan Teluk Doreri telah mencapai dan cenderung melampaui ambang batas pencemaran sesuai dengan standar yang memenuhi kriteria kualitas suatu perairan yang baik.

Beberapa indikator pencemaran yang diamati tim Perikanan & Kelautan melalui pengematan intensif di beberapa stasiun pengamatan di sekitar kawasan Teluk Doreri menunjukkan adanya tendensi rata-rata Nitrat dan Fosfat yang mendekati dan melampaui ambang batas normal perairan.

Tingginya aktivitas masyarakat di sepanjang teluk merupakan fenomena yang normal, karena selain merupakan wilayah pemukiman, beberapa sarana publik seperti pelabuhan laut, pasar tradisional, tempat pendaratan dan penjualan ikan juga menempati areal sepanjang teluk Doreri.  Aktivitas manusia yang tinggi memungkinkan masuknya limbah organik hasil buangan kapal motor, sampah RT.

Tingginya sampah domestik menjadi factor pembatas proses fotosintesis dan aktivitas biologi lainnya.  Hal ini juga memicu meningkatnya kandungan fosfat yang jika melebihi kebutuhan normal dapat  menyebabkan terjadinya eutrofikasi.

Pasar Sanggeng (Teluk Doreri dalam), secara visual kotor karena buangan berbagai limbah organik yang berasal dari pemukiman melalui Kali Wirsi dan berbagai aktivitas di sepanjang pesisir (pasar, rumah makan, kandang dan lain sebagainya).

Sebagai pusat aktivitas pemerintahan Propinsi Irian Jaya Barat, sudah selayaknyalah pemerintah daerah memperhatikan hal ini, karena rencana umum tata ruang daerah yang merupakan acuan dasar pembangunan di daerah.   Selain itu juga, kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan lingkungan perlu ditingkatkan baik melalui penyuluhan ataupun kampanye lingkungan.

Penanganan secara biologis juga merupakan alternative yang perlu diperhatikan, misalnya dengan penanaman lamun atau mangrove.  Seperti diketahui lamun, seagrass merupakan sumberdaya pesisir (laut dangkal) yang memegang peranan penting dalam kehidupan berbagai biota laut dan salah satu ekosistem bahari yang produktif.  Merupakan habitat dari berbagai jenis binatang invertebrata (krustacea) serta menjalankan fungsi ekologis sebagai penyaring limbah dan stabilisator pantai.  Sedangkan fungsi mangrove yang relevan dengan kebersihan lingkungan yaitu sebagai pengolah limbah organik dan tempat mencari makan, memijah dan bertelur berbagai biota laut (jenis, ikan dan udang)

Sumber:

Manuhutu, J.F dan H.V. Ayhuan. 2004. Analisis konsentrasi pigmen klorofil mikroalga dan kualitas air sebagai indikator awal pencemaran di Teluk Doreri, Manokwari, Papua.  Lap. Penelitian PDM DIKTI, FPPK UNIPA.

Sabariah, V. dan T. Pattiasina.  2002.  Kondisi bakteriologis perairan Teluk Doreri, Manokwari, Papua.  Laporan penelitian Proyek Kerjasama UNIPA-NTU-La Trobe University

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: