Mengamati jenis burung di areal hutan mangrove Raja Ampat, Sorong


Sadik Mayor1 & Freddy Pattiselanno2

Luasan hutan mangrove Papua seluas 3 juta ha menyebar di beberapa daerah diantaranya di Kepulauan Raja Ampat di Sorong.  Fungsi dan manfaat hutan mangrove tidak dapat diragukan lagi karena sebagai suatu kesatuan eksosistem dan pendukung komponen biotik manfaat hutan mangrove antara lain (1) lahan tambak, pertanian dan kolam garam, (2) arena pariwisata dan pendidikan, (3) chips sebagai bahan baku kertas, (4) industri papan dan plywood, (5) sumber kayu bakar dan arang berkualitas dan (6) pendukung kehidupan fauna; ± 52 jenis ikan dan 61 jenis udang, 54 jenis burung berasosiasi dengan mengrove serta sebagai sarang lebah madu (Onrizal, 2006). Hal ini cukup beralasan karena sebagai suatu kesatuan, ekosistem mangrove bukan hanya sebagai penyedia makanan bagi biota, tetapi berperan dalam pendauran serasah yang melibatkan sejumlah besar mikroorganisme yang mampu menciptakan ikllim yang baik bagi kehidupan biota (Ridd et al., 1990).

Sebagai pendukung kehidupan fauna, areal hutan mangrove di Raja Ampat sudah dikenal secara mendunia apalagi kekayaan biota lautnya menyajikan atraksi bawah laut yang terkenal dalam mendukung wisata laut berbasis ekologi.  Namun demikian sisi lain hutan mangrove sebagai habitat burung di Kampung Waisai di bagian selatan Pulau Waigeo belum begitu dikenal. Kampung Waisai dapat ditempuh dengan menggunakan transportasi laut yang terdiri dari speed boad, long boad dan kapal perintis dengan waktu tempuh yang bervariasi dari kota Sorong. Secara geografis Kampung Waisai berada pada pulau Waigeo bagian Selatan dan terletak pada Koordinat 1300 10’ sampai 1310 20’ Bujur Timur dan 00 sampai 00 28’Lintang Selatan.

Observasi di lapang menunjukkan bahwa jenis mangrove yang terdapat di Kampung Waisai yaitu Sonneratia alba, Sonneratia caseolaris, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Bruguiera gymnorrhiza, Bruguiera cylindrica dan Xylocarpus sp.

Kawasan hutan mangrove yang ada ternyata dimanfaatkan oleh kelompok burung tertentu sebagai tempat tinggal, tempat mencari makan dan tempat bermain mereka.  Dikaitkan dengan telah dikenalnya Raja Ampat sebagai objek wisata bahari yang selama ini menjadi primadona, fungsi kawasan sebagai penyedia atraksi jenis satwa lain seperti burung bisa juga dikembangkan sebagai pendukung potensi wisata berbasis ekologi.  Dari pengamatan yang dilakukan kelompok burung yang ditemukan pada areal mangrove di Raja Ampat disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Jenis burung yang memanfaatkan kawasan mangrove

No. Nama Ilmiah Famili Nama umum Nama Lokal Manfaat kawasan
1. Accipiter novaehollandiae Accipitridae Elang-Alap kelabu Mangkang-kang Makan, main
2. Artamus sp Artamidae Kekep Makan, main
3. Cacatua galerita Psittacidae Kakatua koki Aweko Makan, main
4. Coracina melaena Campephagidae Kepudang-sungu hitam Manwawa Makan, main
5. Corvus orru Corvidae Gagak orru Manwawa Makan, main
6. Dacelo gaudichaud Alcedinidae Kukabura perut-merah Mangkoi –ingkainum Makan, main, tinggal
7. Ducula pinon Columbidae Pergam pinon Mangkaua Makan, main
8. Eclectus roratus Psittacidae Nuri bayan Mandar Makan, main
9. Egretta sp Ardeidae Kuntul Mansorom Makan, main, tinggal
10. Goura cristata Columbidae Mambruk ubiaat Makan, main
11. Haliaeetus leucogaster Accipitridae Elang-laut perut-putih Mangkang-kang Makan, main
12. Larus novaehollandiae Laridae Camar perak Maninei Makan, main
13. Larus ridibundus Laridae Camar kepala-hitam Maninei Makan, main
14. Lorius lorry Psittacidae Kasturi kepala hitam Manyouri Makan, main
15. Megatriorchis doriae Accipitridae Elang-alap doria Mangkang-kang Makan, main, tinggal
16. Probosciger aterrimus Psittacidae Kakatua raja Manang-kris Makan, main, tinggal
17. Rhyticeros plicatus Bucerotidae Julang Papua Mandawam Makan, main, tinggal

Hasil pengamatan yang dilakukan menunjukkan bahwa areal hutan mangrove yang ada memainkan peranan yang sangat penting terhadap ketersediaan habitat burung yang hidup dan memanfaatkan kawasan sebagai tempat bermain dan mencari makan.  Dengan demikian suatu potret baru kawasan yang selama ini dikenal karena objek wisata baharinya ternyata mampu menyuguhkan suatu atraksi menarik bagi penggemar ”bird watching”.  Karena itu kelestarian mangrove di Raja Ampat harus tetap dijaga, bukan hanya karena keberadaan biota lautnya tetapi juga untuk keberlangsungan kehadiran jenis burung tertentu di sekitar kawasan.

1Sadik Mayor (Alumni Jurusan Biologi FMIPA UNIPA Manokwari), sekarang bekerja sebagai Monitoring Officer di CI Indonesia Raja Ampat Program

2Freddy Pattiselanno (Sub-Laboratorium Aneka Ternak & Satwa FPPK UNIPA Manokwari)  Email: freddy.pattiselanno@fppk.unipa.ac.id

Catatan: Naskah dipublikasikan dalam Warta Konservasi Lahan Basah Edisi Juli 2008 (Hal 20-21).

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: