Monthly Archives: January 2011

Papua biodiversity, where to go?


Agustina Y.S. Arobaya & Freddy Pattiselanno

New Guinea Island (Papua New Guinea and Papua, Indonesia) is the second largest island after Green Land. Papua consisted of 404.660 km2 land areas which 80% was tropical forests. This island in one hand, riches in natural resources includes mining, oil, gas as well as forest and sea. While on the other hand, its forest and sea are home to the flora and fauna that reflects the biodiversity richness of Papua.

Continue reading

Potensi Biologi & sumbangsihnya terhadap ekoturisme di Taman Nasional Laut Teluk Cenderawasih


Freddy Pattiselanno, Laboratorium Produksi Ternak FPPK UNIPA, Email: freddy.pattiselanno@fppk.unipa.ac.id

Pendahuluan

Taman Nasional Laut Teluk Cenderawasih (TNLTC) terletak pada koordinat1o43’LS – 3o22’LS dan 134o06’BT – 135o10’BT, ditetapkan melalui Surat Keputusan Manteri Kehutanan No. 472/Kpts-II/1993 tanggal 2 September 1993 dengan luasan sekitar 1.453.500 ha. Kawasan ini dibagi atas luas daratan 68.200 ha yang meliputi pesisir pantai 12.400ha dan daratan pada pulau-pulau 55.800ha, serta perairan/laut dengan luasan 1.385.300ha, termasuk di dalamnya kawasan terumbu karang 80.000ha dan laut 1.305.300ha (BKSDA VIII Maluku Irja, 1995, Kanwil Kehutanan Irja, 1995).

Continue reading

Kajian aspek etnobotani suku Dani di Lembah Baliem, Papua


Agustina Y.S. Arobaya (Pusat Penelitian Keanekaragaman Hayati Papua) & Freddy Pattiselanno (Jurusan Produksi Ternak Fakultas Peternakan Periknan & Ilmu Kelautan) Universitas Negeri Papua, Manokwari

Kami berdua melakukan studi yang berbeda dengan aspek pengamatan yang juga berbeda di Lembah Baliem (138030’– 139030’ BT dan 3400’ – 4200’LS). Studi lapangan pertama dilakukan oleh AYS selama lima bulan (Maret – Juli 1994) sebagai bagian dari program kajian ekologi Taman Nasional Lorentz dari WWF di Mume-Kuyawage dan Mapnduma. Sedangkan studi kedua merupakan observasi singkat (21 – 26 Mei 2005) oleh FP ketika terlibat dalam penelitian usaha peternakan tradisional kerjasama Dinas Peternakan Kabupaten Jayawijaya, International Potato Centre (CIP) Bogor and South Australian Research and Development Institute (SARDI) di sekitar kota Wamena, yakni Kumima, Siapkosi, Napua, Sinakma, Pisugi, Wanima, Sunili, Tulem dan Woma. Dalam kegiatan penelitian tersebut, kami mengumpulkan invormasi etnobotani yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidpan keseharian kelompok etnik Dani di Lembah Baliem. Pengamatan dilakukan melalui investigasi langsung di lapang, diikuti dengan wawancara semi-struktural untuk menghimpun informasi tentang jenis tanaman berguna yang biasanya dimanfaatkan oleh suku Dani.

Performans statistik vital sapi Bali di Manokwari


Freddy Pattiselanno dan Sangle Y. Randa

Jurusan Produksi Ternak Fakultas Peternakan Perikanan & Ilmu Kelautan Universitas Negeri Papua, Manokwari

Pendahuluan

Di Kabupaten Manokwari, hampir sekitar 90% penyebaran populasi ternak sapi berada di kecamatan Manokwari, Warmare dan Oransbari.  Menurut data dari Dinas Peternakan Manokwari (2003) ada sekitar 2310 ekor ternak sapi yang dikontrakkan pemerintah dari berbagai sumber dana.  Oleh karena itu ketiga wilayah tersebut dikenal sebagai kantong atau dapur ternak sapi Kabupaten Manokwari.

Namun demikian hasil penelitian di beberapa daerah di Indonesia menyimpulkan bahwa mutu sapi Bali lokal mengalami penurunan (Darmadja, 1980; Sariubang dan Prabowo, 1993).  Menurunnya mutu genetik sapi Bali disebebabkan oleh berbagai faktor.  Salah satu diantaranya diduga akibat pengaruh lingkungan karena terjadinya perkawinan silang dalam (inbreeding) selama rentang waktu yang cukup lama dalam suatu populasi (Yasin dan Dilaga, 1993).  Guna mengatasi hal itu, penyediaan bibit unggul diharapkan akan mampu memperbaiki mutu keturunan yang dihasilkan.  Inilah yang menjadi dasar dilakukannya serangkaian penelitian di Manokwari kaitannya guna menilai mutu sapi Bali lokal dalam kaitannya dengan ketersediaan bibit unggul di daerah.

Continue reading

%d bloggers like this: