Performans statistik vital sapi Bali di Manokwari


Freddy Pattiselanno dan Sangle Y. Randa

Jurusan Produksi Ternak Fakultas Peternakan Perikanan & Ilmu Kelautan Universitas Negeri Papua, Manokwari

Pendahuluan

Di Kabupaten Manokwari, hampir sekitar 90% penyebaran populasi ternak sapi berada di kecamatan Manokwari, Warmare dan Oransbari.  Menurut data dari Dinas Peternakan Manokwari (2003) ada sekitar 2310 ekor ternak sapi yang dikontrakkan pemerintah dari berbagai sumber dana.  Oleh karena itu ketiga wilayah tersebut dikenal sebagai kantong atau dapur ternak sapi Kabupaten Manokwari.

Namun demikian hasil penelitian di beberapa daerah di Indonesia menyimpulkan bahwa mutu sapi Bali lokal mengalami penurunan (Darmadja, 1980; Sariubang dan Prabowo, 1993).  Menurunnya mutu genetik sapi Bali disebebabkan oleh berbagai faktor.  Salah satu diantaranya diduga akibat pengaruh lingkungan karena terjadinya perkawinan silang dalam (inbreeding) selama rentang waktu yang cukup lama dalam suatu populasi (Yasin dan Dilaga, 1993).  Guna mengatasi hal itu, penyediaan bibit unggul diharapkan akan mampu memperbaiki mutu keturunan yang dihasilkan.  Inilah yang menjadi dasar dilakukannya serangkaian penelitian di Manokwari kaitannya guna menilai mutu sapi Bali lokal dalam kaitannya dengan ketersediaan bibit unggul di daerah.

Ukuran statistik vital sebagai parameter untuk mengetahui performans ternak, merupakan indicator penilaian kemampuan produksi dan reproduksi ternak yang bersangkutan. Sabagai standar, diapakai standar Bibit Nasional untuk sapi Bali yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Peternakan tahun 1982.  Untuk mengetahui sejauh mana performans sapi Bali di Manokwari, maka artikel ini ditulis berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan penulis serta melalui dikompilasi bedasarkan review dari berbagai hasil penelitian yang dilakukan berkaitan dengan usaha pengembangan Sapi Bali di Manokwari.

Ukuran statistik vital sapi Bali di Manokwari.

Hasil analisa statistik beberapa sifat kuantitatif (ukuran statistik vital) sapi Bali yang diteliti disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Ukuran statistik vital sapi Bali yang diamati dalam penelitian

Variabel Standar Mu’in & Faidiban (1993) Mokoagouw (1997) Pattiselanno & Randa (2000)
Tinggi Gumba
Dara 102 99.96 / 48 104.30 / 96
Induk 108 104.86 / 7
Calon Pejantan 110 107.17 / 6 108.24/88
Pejantan 126 105.50 / 2
Panjang Badan
Dara 113 73.4 / 27 82.08 / 48 89.33 / 96
Induk 119 83.2 / 25 86.86 / 7
Calon Pejantan 122 72.0 / 10 84.67 / 6 94.16 / 88
Pejantan 125 83.3 / 4 88.50 / 2
Lingkar Dada
Dara 156 96.5 / 27 120.77 / 48 135.36 / 96
Induk 164 114.2 / 25 134.43 / 7
Calon Pejantan 172 95.4 / 10 128.83 / 6 139.48 / 88
Pejantan 183 119.0 / 4 130.00 / 2
Berat Badan
Dara 197 56. 1 / 27 116.42 / 48
Induk 233 74.7 / 25 150.71 / 7
Calon Pejantan 222 53.7 / 10 131,83 / 6
Pejantan 353 77.8 / 4 134.00 / 2

Catatan: Angka di depan garis miring merupakan hasil pengukuran, sedangkan yang sesudah garis miring adalah jumlah ternak sample yang diobservasi.

Hasil pengamatan yang diperoleh pada Table 1, menunjukkan bahwa berdasarkan kajian beberapa sifat kuantitatif populasi sapi Bali di Manokwari, ternyata ukuran statistik vital populasi sapi Bali yang ada belum memenuhi standar nasional yang ditetapkan oleh Direktorat Jendral Peternakan.  Tetapi jika dilihat menurut komponen/variable yang diamati, hanya ukuran tinggi gumba sapi Bali induk saja yang relatif sama atau lebih tinggi dari standar nasional.  Dengan demikian hasil ini memberikan petunjuk yang kuat bahwa terdapat sapi Bali dengan ukuran tinggi gumba sama atau lebih tinggi dari standar nasional di Manokwari, Ransiki, Oransbari maupun daerah Prafi.

Faktor penyebab menurunnya mutu sapi Bali di Manokwari

Dari hasil yang diperoleh, dengan mengacu pada beberapa hasil kajian yang pernah dilakukan sebelumnya di daerah Manokwari dan sekitarnya, diduga ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan mutu Sapi Bali di Manokwari.  Faktor-faktor tersebut antara lain:

1.      Rendahnya pengetahuan peternak tentang aspek teknis utama pemeliharaan sapi seperti mutu pakan, perkandangan dan kesehatan/penyakit (Woran, 1992, Pattiselanno dan Fonataba, 2000).  Dari pengamatan langsung di lapang, umumnya ternak sapi dipelihara dengan cara diumbar dan dilepas bebas mencari makan sendiri. Sementara itu areal merumput sapi umumnya merupakan rumput alam dengan kualitas yang relatif rendah. Belum tersedianya padang penggembalaan (ranch) yang layak serta mampu menyediakan dan mencukupi kebutuhan makanan ternak merupakan salah satu faktor pembatas yang perlu diperhatikan Ini terlihat dari frekuensi dan volume pakan yang diberikan yang belum memenuhi criteria standar (10 persen berat badan).  Hal itu makin diperburuk dengan rendahnya kualitas hijauan yang diberikan. Produksi rumput unggul masih sangat terbatas karena pemilikan lahan yang juga terbatas.  Hasil penelitian Chalidjah, dkk. (1992), dan Bulo, dkk (1993) melaporkan bahwa pakan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perbaikan kualitas ternak sapi Bali.  Kesimpulan dari penelitian mereka yaitu bahwa perbaikan pakan (basal dan konsentrat) menunjukkan korelasi yang positif terhadap pertumbuhan dan mutu ternak.  Menurut Mastika (1997), masalah utama produksi ternak di Indonesia secara umum adalah khususnya di bagian timur Indonesia kurang tersedianya jumlah pakan yang berkualitas sepanjang tahun.  Selain itu juga praktek pemeliharaan ternak di daerah berkembang sesuai dengan kondisi social ekonomi masyarakat setempat serta kondisi lingkungan yang kesemuanya ikut memperngaruhi performans ternak sapi yang dipelihara.

2.      Tingginya infestasi penyakit, terutama cacing pada sapi Bali asal Kecamatan Oransbari dan sekitarnya.  Hasil penelitian Bangga (1995) dan Woran, (1995) menunjukkan bahwa sapi di daerah transmigrasi menderita penyakit endoparasit (cacingan) dan ektoparasit (kutu, lalat, caplak dan tungau).  Hal ini dapat dimengerti, karena konsekuensi ternak yang diumbar adalah membuang feces pada sekitar areal merumput.  Kesempatan ini dimanfaatkan oleh cacing untuk melepaskan telur atau larvanya melalui tinja yang dikeluarkan induk semangnya (Sudrajat, 1991 yang disitir Mawardi, 1997).  Hal lain yang terjadi yaitu kesalahan dalam tatalaksana seperti diarrhea, distokia dan prolapsus

3.      Tidak terkontrolnya perkawinan ternak sehingga mengakibatkan kawin silang dalam (inbreeding) yang berakibat menurunnya kualitas genetik ternak sapi (Woran, 1992, Mu’in dan Faidiban, 1993; Pattiselanno dan Randa, 2000).  Karena sebagian besar waktu yang dihabiskan ternak sapi adalah di lapangan, maka kemungkinan terjadinya perkawinan secara alami yang tidak terkontrol tidak dapat dihindarkan.  Ini dapat dimaklumi sebagai akibat dari diumbarnya ternak secara bebas di lapangan atau lahan-lahan kosong yang ditumbuhi rumput.  Jika kondisi ini terjadi selama kurun waktu tertentu, maka system perkawinan ternak menjadi tidak terkontrol dan konsekuensinya yaitu kemungkinan terjadinya penurunan kualitas genetic ternak.  Rata-rata pejantan yang digunakan dalam program perkawinan ternak sampai tahun 1992 di Oransbari masih menggunakan bibit lama hasil introduksi tahun 1980 dan 1982 (Woran, 1992).  Menurut Bangga (1995) sampai pada tahun 1995, belum ada introduksi bibit sapi Bali unggul (induk atau pejantan) baru ke wilayah Oransbari.

4.      Belum dilaksanakannya seleksi bibit dengan baik dan benar, serta system perkawinan alam tanpa menggunakan pejantan unggul (Romadhon, 1994; Pattiselanno dan Fonataba, 2000).  Kecenderungan meningkatnya kebutuhan konsumsi daging di Manokwari dan sekitarnya berakibat terhadap meningkatnya harga daging di pasaran.  Secara ekonomis ini menguntungkan para peternak, akan tetapi dampak negatif yang terjadi yaitu ternak bantuan yang seharusnya dipertahankan untuk digunakan sebagai calon bibit akhirnya ikut dipotong.  Ini bisa dimaklumi, karena Kondisi seperti ini umum ditemukan di beberapa kecamatan di sekitar Manokwari.  Berdasarkan ketersediaan data menurut hasil survey yang dilakukan, rata-rata 34% atau 1/3 dari sapi bibit yang dipotong merupakan ternak betina produktif (Talib dkk, 2002).

Kesimpulan

Dari berbagai hasil penelitian yang sudah dilakukan, ternyata bahwa ukuran statistik vital populasi Sapi Bali yang ada di Manokwari belum memenuhi kriteria standar nasional Sapi Bali.  Dari variable yang digunakan sebagai indikator penilaian, hanya ukuran tinggi gumba saja yang relatif sama atau melebihi standar nasional.

Catatan: Tulisan merupakan bagian dari naskah yang telah dipbulikasi dalam Jurnal Ternak Tropika Vol. 9 (1): 78-84 Tahun 2008 dari Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang.

About these ads
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • M. jen wajo  On December 17, 2011 at 11:37 pm

    Trims sobat….., tamba2 info tuk nyusun tugas2…., tapi masih banyak data kuantyitatif yang harus tong tambahkan tuk perkaya info tentang ternak2 di papua barat…. rencana disertasiku “performans produksi dan reproduksi sapi di Papua Barat”…. kalau Om Fred rencana penelitian apa???

    • Freddy Pattiselanno (Endek)  On December 19, 2011 at 4:11 am

      Iya pak Jen, ini hanya data penelitian ADB dulu dan beberapa hasil penelitian di kampus, semoga bermanfaat. Saya backk to basic….lebih ke ekologi hewan. Selamat bekerja dan sukses selalu

  • eva m gombo  On April 4, 2014 at 9:30 pm

    terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 862 other followers

%d bloggers like this: