Potensi Biologi & sumbangsihnya terhadap ekoturisme di Taman Nasional Laut Teluk Cenderawasih


Freddy Pattiselanno, Laboratorium Produksi Ternak FPPK UNIPA, Email: freddy.pattiselanno@fppk.unipa.ac.id

Pendahuluan

Taman Nasional Laut Teluk Cenderawasih (TNLTC) terletak pada koordinat1o43’LS – 3o22’LS dan 134o06’BT – 135o10’BT, ditetapkan melalui Surat Keputusan Manteri Kehutanan No. 472/Kpts-II/1993 tanggal 2 September 1993 dengan luasan sekitar 1.453.500 ha. Kawasan ini dibagi atas luas daratan 68.200 ha yang meliputi pesisir pantai 12.400ha dan daratan pada pulau-pulau 55.800ha, serta perairan/laut dengan luasan 1.385.300ha, termasuk di dalamnya kawasan terumbu karang 80.000ha dan laut 1.305.300ha (BKSDA VIII Maluku Irja, 1995, Kanwil Kehutanan Irja, 1995).

Letaknya yang strategis dan secara administratif termasuk dalam wilayah pengembangan kabupaten pemekaran Teluk Wondama dan Kabupaten Nabire menjadikan pengembangan TNLTC diharapkan bisa menjangkau kedua wilayah kabupaten dimaksud.  Oleh karena itu informasi tentang potensi biologi komprehensif yang mendukung pengembangan aspek ekoturisme perlu disampaikan melalui suatu kajian yang melihat TNLTC sebagai suatu kawasan yang tidak hanya  dilindungi, tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara berkelanjutan untuk meningkatkan taraf hidup mereka.

Tulisan ini merupakan telaah informasi – sejumlah hasil penelitian, seminar, lokakarya, dan sumber lainnya – yang dikompilasi dengan informasi yang penulis peroleh dari keterlibatan dalam serangkaian kegiatan survey di dalam dan sekitar kawasan TNLTC. Diharapkan tulisan ini dapat mengungkap potensi biologi kawasan yang relevan dengan pengembangan potensi ekoturisme sebagai informasi dasar dalam pengintegrasian informasi keanekaragaman hayati kawasan TNLTC untuk pemanfaatan yang berkelanjutan.

Tipe ekosistem

TNLTC adalah kawasan konservasi laut yang dikenal dengan empat tipe ekosistem yang menonjol yaitu:

Ekosistem Terumbu Karang; meliputi Barrier Reef (Terumbu Karang Penghalang), Patch Reef (Terumbu Karang Patahan), Fringing Reef (Terumbu Karang Pantai), Atol (Terumbu Karang Cincin, Shallow Water Reef (Terumbu Karang Perairan Dangkal) dan Tridacna Reef (Terumbu Karang yang didominasi jenis-jenis kima).

Ekosistem Estuaria; merupakan areal vegetasi hutan mangrove yang didominasi enam genera yaitu Bakau (Rhizophora), Api-api (Avicennia),Tancang (Sonneratia), Bruguiera Nypa dan Metroxylon. Tipe ekosistem ini merupakan habitat bagi ikan kecil serta udang.

Ekosistem Pantai; dikenal dengan pasir putihnya dan vegetasi darat yang didominasi oleh Casuarina equisetifolia dan Terminalia cattapa.

Ekosistem Hutan Hujan Tropis; yang umumnya ditumbuhi oleh jenis vegetasi Dipterocarpaceae.

Hamparan karang dan keanekaragamannya merupakan habitat yang cukup potensial untuk tempat perlindungan dan pemijahan berbagai jenis ikan serta moluska yang hidup menempel pada terumbu karang. Keanekaragaman terumbu karang yang ada di TNLTC meliputi 67 genera dan sub genera dengan 146 jenis karang yang terdapat sampai kedalaman 35 meter.  Di beberapa pulau yang tersebar dalam kawasan (P. Anggrameos, P. Roon, P. Yop, P. Roswar dan Pulau Rumberpon kondisi ekosistem mangrove umumnya masih baik dengan ketebalan  dari garis pantai sekitar 100-400 meter.  Jenis yang paling dominan ditemui adalah Rhizopora spp dan Bruguiera spp.

Kekayaan flora & fauna

Sebagai taman nasional laut, sebagian besar potensi biologi yang ada merupakan keanekaragaman sumber daya pesisir.  Tetapi posisi TNLTC yang secara administratif terletak di antara dua kabupaten menyebabkan keberadaan rangkaian gugusan pulau dalam kawasan TNLTC menjadikannya sebagai habitat sejumlah fauna daratan (terrestrial fauna) yang cukup prospektif  untuk dikembangkan sebgai objek wisata dalam kawasan.

Diperkirakan TNLTC memiliki kekayaan jenis ikan (nekton) sekitar 355 spesies, sementara hasil penelitian lain menunjukkan keanekaragaman jenis ikan dalam kawasan TNLTC yaitu sekitar 209 jenis yang terdiri dari 65 famili.  Sekitar 31 jenis ikan indikator terumbu karang (Chaetodontodae) dan keragaman jenis tertinggi ditemukan pada perairan P. Roon (24 spesies) dan P. Yopmios (18 spesies).

Beberapa jenis ikan lainnya yang ditemukan dalam survey rencana pengelolaan kawasan lindung di TNLTC antara lain adalah jenis Chantigaster, Pomachantus, Pseudanthias, Chaetodon, Amphiprion, Achanturus. Sedangkan jenis mamalia yang dilindungi terdapat di TNLTC antara lain duyung (Dugong dugon) dan lumba-lumba (Delphinus delphinus) dan jenis penyu antara lain Penyu sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu hijau (Chelonia mydas) yang mempunyai tempat bertelur di beberapa pulau pada rangkaian kepulauan Auri dan Pulau Wairundi.

Sumber daya lamun (seagrass) merupakan salah satu potensi sumber daya pesisir di TNLTC ditemukan sekitar 6 spesies dari 2 famili (Hydrochariticeae) dan (Cymodoceaceae) dengan penyebaran jenis yang lengkap terdapat di P. Yopmios dan P. Rumberpon. Padang lamun yang ada berada dalam kondisi baik dan  merupakan “feeding ground”, “feeding spawning”, dan “nursery ground” yang baik bagi biota laut lainnya serta menjalankan fungsi morfologis sekaligus sebagai pelindung areal pesisir dari gempuran ombak.

Potensi sumber daya laut lainnya dalam kawasan TNLTC yaitu Moluska yang diperkirakan ada 196 spesies (11 spesies dilindungi) sementara di Pulau Rumberpon, pesisir pantai Ransiki, Pulau Yopmios dan Pulau Roon ditemukan 45 jenis moluska yang tergolong dalam 11 famili dengan penyebaran jenis yang paling banyak adalah dari famili Stombidae.   Hal ini sekaligus merupakan salah satu keunikan yang ditemukan dalam TNLTC karena merupakan tempat hidup beberapa spesies yang digolongkan dalam spesies yang terancam punah  serta langka statusnya di Indonesia. Jenis-jenis moluska yang dilindungi dan ditemukan dari famili Tridacnidae adalah Kima raksasa (Tridacna gigas), Kima besar (Tridacna maxima), Kima tapak kuda (Hippopus hippopus), Kima lubang (Tridacna Coreacea) dan Kima sisik (Tridacna squamosa).  Sedangkan jenis lainnya dari famili Cymatidae yaitu Triton terompet (Charonia tritonis), famili Cassidae yaitu Kima kepala kambing (Cassis cornuta), famili Trochidae yaitu Lola (Trochus niloticus) dan famili Trubunidae yaitu Batu laga (Turbo marmoratus).

Secara geografis, letak kawasan sangat strategis sehingga memungkinkan TNLTC sebagai tempat persinggahan sementara bagi satwa yang bermigrasi dari dan ke Asia dan Australia.  Hal ini dapat dibuktikan dengan sering hadirnya burung Undan (Pelicanus conspiculatus) pada waktu-waktu tertentu di muara Sungai Wosimi di Wasior.  Hasil wawancara dengan masyarakat setempat juga mengungkapkan keberadaan sejumlah herpetofauna (Varanus sp.) yang dapat ditemukan pada sejumlah wilayah daratan. Jenis burung endemik lain, kus-kus dan kelelawar masih cukup banyak ditemukan di Pulau Anggrameos.

Kekayaan ekosistem hutan hujan tropis di TNLTC banyak didominasi oleh vegetasi Dipterocarpaceae serta beberapa jenis lain yang tumbuh menyebar antara lain Kayu Besi (Intsia bijuga), Matoa (Pometia sp.), Kayu Cina (Podocarpus amarus), Kayu Damar Merah (Agathis labilardieri), Kayu Binuang (Octomeles sumatrana), dan Kayu Bintanggor (Callophylum inophylum) serta beberapa jenis tanaman kehutanan lainnya.  Di sisi lain, keindahan jenis anggrek hutan (Dendobrium sp. dan Grammatophylum sp.) dalam hutan sekitar kawasan merupakan salah satu kekayaan flora yang potensial untuk dikembangkan.

Dukungan terhadap pengembangan ekoturisme

TNLTC tidak hanya dikenal dengan kawasan yang berfungsi melindungi keanekaragaman jenis flora dan fauna, serta sebagai penyangga dalam sistem kehidupan masyarakat yang hidup di dalam dan sekitar kawasan, tetapi juga mempunyai fungsi yang beragam untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan pendidikan, budaya serta pengembangan daerah wisata bahari.  Beberapa potensi pariwisata dan rekreasi yang ada dalam kawasan TNLTC misalnya potensi terumbu karang bawah laut yang dapat dijumpai hampir di semua pesisir pantai sepanjang gugusan pulau dalam kawasan yang dapat dikembangkan untuk wisata foto bawah laut (swimming, snorkeling, dan scuba diving).

Panorama wilayah daratan yang dapat dimanfaatkan untuk wisata foto serta pengembangan wisata berburu misalnya adalah perburuan rusa (Cervus timorensis) di padang alang-alang Pulau Rumberpon.  Pengembangan wilayah “bird watching” mencakup habitat burung Junai Mas (Chaleonas nicobarica) di Pulau Kumbur dan Pulau Nutabari, penangkaran Kasuari (Casuarius casuarius) di Sima, Kwatisore, Megapoda (Megapodius freycinet Gaimard) di Pulau Rumberpon, serta wisata foto kelelawar (Pteropus sp.) di Pulau Mioswar, Pulau Pepaya dan Pulau Anggrameos  merupakan alternatif pengembangan pariwisata berbasis ekologi.

Kesimpulan

Dilihat dari potensi biologi, TNLTC merupakan kawasan konservasi yang kaya akan kekayaan biologi (flora dan fauna) baik di daratan maupun di laut.  Kekayaan flora dan fauna, kondisi dan letak kawasan merupkan prospek ekoturisme yang potensial dikembangkan dalam kawasan.

Keterangan: Gambar Peta TNLTC sumber:  Helgen, K.M and T.F. Flannery. 2004.  Notes on the Phalangerid Marsupial Genus Spilocuscus, with Description of New Species from Papua.  Journal of Mammalogy 85(5): 825-833

Catatan: Naskah merupakan bagian dari publikasi di Media Konservasi Vol IX (2): 99-102, 2004.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: