Paruh bengkok di Manokwari: ada apa denganmu?


Freddy Pattiselanno (Laboratorium Produksi Ternak Fakultas Peternakan Perikanan & Ilmu Kelautan Universitas Negeri Papua, Manokwari) Email: freddy.pattiselanno@fppk.unipa.ac.id

Salah satu nilai satwa adalah nilai rekreasi atau hiburan yang merupakan bagian yang tidak terpisah sebagai kebutuhan keseharian dalam kehidupan manusia.  Banyak cara dilakukan orang untuk menikmati nilai rekreasi ini baik secara langsung menikmati di alam “outdoor” melalui kegiatan “bird watching” dan mengambil gambar burung tersebut sekaligus mengembangkan hobi fotografi. Cara lain yang ditempuh misalnya mengunjungi kebun binatang, taman safari atau tempat tertentu yang menawarkan atraksi dari jenis hidupan liar.  Ada pula yang menikmati keindahan satwa tertentu dengan mengoleksi, memelihara koleksi satwanya di rumah, khususnya bagi mereka pecinta binatang liar.

Fenomena ini sudah berlangsung lama dan dalam kehidupan budaya masyarakat di Indonesia bahkan hal ini menciptakan suatu peluang even menarik misalnya dengan lomba kicau burung yang pada awalnya merupakan bagian dari kehidupan masyarakat di Jawa yang gemar memelihara jenis burung tertentu yang menghasilkan suara merdu.  Oleh karena itu tidak heran jika di rumah pecinta burung tergantung sangkar burung yang menjadi hiburan bagi mereka yang memeliharanya.

Tulisan ini bertujuan untuk membagi informasi mengenai minat masyarakat serta manfaat yang diperoleh dalam memelihara burung sebagai hobi sekaligus menjadi hiburan tersendiri bagi pemeliharanya.  Informasi diperoleh dari hasil praktikum mahasiswa peserta mata kuliah Budidaya Aneka Ternak dan Satwa di Jurusan Produksi Ternak Fakultas Peternakan Perikanan & Ilmu Kelautan Universitas Negeri Papua. Dalam kegiatan praktek tersebut, mahasiswa dikelompokkan menurut lokasi pengamatan, dan sebelumnya sudah dilakukan pengamatan pendahulun lokasi pemelihara burung yang ada. Kami mencoba melakukan pengamatan secara langsung dan wawancara terhadap sejumlah pemelihara burung jenis paruh bengkok (Psittacidae) yang ada di Manokwari.

Minat masyarakat memelihara burung paruh bengkok (Psittacidae) ternyata cukup tinggi karena di dalam kota Manokwari sendiri tercatat empat jenis burung paruh bengkok  yang terdiri dari Nuri raja Papua (Aprosmictus erythropterus), Kakatua koki (Cacatua galerita), Kasturi kepala hitam (Lorius lorry), Nuri sayap hitam (Eos cyanogenia) yang dipelihara sebagai hewan kesenangan.  Hal ini cukup beralasan karena jenis burung paruh bengkok memang memiliki bulu yang indah dan suara yang merdu, sehingga banyak orang ingin memeliharanya.  Hal lain yang menjadi alasan tingginya minat masyarakat memelihara jenis burung ini, yaitu karena tatalaksana pemeliharaannya yang relatif mudah. Untuk memelihara burung ini hanya diperlukan sangkar atau tempat bermain sebagai tempat berpijak kemudian dilengkapi dengan tempat makan dan minum yang memadai.

Selama pengamatan dilakukan ternyata bahwa memelihara jenis paruh bengkok tidak memerlukan biaya yang tinggi, bahkan dalam penanganannya tidak sulit.  Pengakuan pemeliharanya, jenis pakan yang diberikan adalah jenis biji-bijian misalnya kacang hijau dan jagung atau buah pisang yang merupakan jenis pakan yang umum diberikan kepada burung peliharaan.  Burung yang dipelihara umumnya dibeli dari pemburu langsung atau pihak kedua dengan harga yang bervariasi.  Jenis burung yang pada saat dibeli sudah bisa meniru dengan baik beberapa kata yang diucapkan manusia, biasanya memiliki harga jual yang relatif lebih mahal dibanding yang belum bisa meniru kata-kata yang diucapkan.  Rata-rata harga pembelian burung berkisar antara Rp. 150.000 dan 250.000 tergantung pada keindahan bulu dan kemampuan meniru kata-kata manusia

Perdagangan satwa khususnya burung memang tidak dilakukan secara bebas tetapi biasanya dijual dengan cara menawarkan dari rumah ke rumah.  Lebih lanjut diketauhi ternyata jenis burung paruh bengkok yang dipelihara ini bukan hanya yang berasal dari daerah di sekitar Manokwari, tetapi sebagian besar didatangkan dari Pulau Numfor.

Sekalipun perdagangan burung bukan hal yang lazim, tetapi kondisi ini relatif sama dengan beberapa tempat lain di Indonesia, misalnya Widodo (2005) menyatakan bahwa perdagangan kelompok burung paruh bengkok di dua lokasi pasar burung di Denpasar relatif tinggi 21,72% atau sebanyak 428 ekor.   Kenyataan ini membuktikan bahwa burung paruh bengkok sebagai komoditas perdagangan di Indonesia cukup potensial, dan menurut (APPBSI, 2000) burung sebagai komoditas perdagangan di Indonesia sudah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama.  Perdagangan burung ternyata cukup luas, bahkan komoditas burung Papua diminati kelompok pecinta dan pemelihara burung di Indonesia.  Dari hasil penelitian Widodo (2005) ternyata bahwa jenis burung paruh bengkok yang diperdagangkan di pasar burung di Bali ternyata berasal dari Maluku, Papua, Nusa Tenggara dan Jawa.  Jenis burung nuri dan kasturi diperdagangkan dengan kisaran harga yang beragam tergantung pada kemampuan menghasilkan kicauan atau meniru suara manusia yaitu antara Rp. 250.000 sampai dengan Rp. 500.000.  Sedangkan jenis kakatua biasanya mempunyai nilai jual yang lebih tinggi bahkan dapat mencapai 1 juta rupiah.

Secara umum  menurut Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1999 mengenai Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar maka pemeliharaan jenis burung paruh bengkok oleh pecinta satwa dilindungi dengan undang-undang.  Walaupun demikian jika dilihat kecenderungan pemeliharaan satwa sebagai hewan kesenangan baik karena keindahan bulu dan kemerduan suara, sampai pada perdagangan dan pemeliharaan jenis satwa yang dilindungi, penerapan PP No. 8/1999 ini belum dapat terlaksana dengan baik. Sebagian besar pemelihara mengakui bahwa memelihara burung ini memberikan hiburan tersendiri bagi mereka, walaupun mereka memahami bahwa ada aturan hukum yang mengaturnya.

Karena itu jika dilihat dari jumlah pemeliharanya, perlu dipikirkan kegiatan alternatif sehingga pemelihara burung ini bisa mendapatkan nilai positif dari aktivitas pemeliharaan yang dilakukan.  Kegiatan lomba warna bulu dan suara burung yang indah mungkin bisa dijadikan aktivitas alternatif sehingga perhatian pemeliharaan terhadap burung yang dipelihara juga akan baik karena burung yang mempunyai warna bulu indah serta suara yang merdu akan mendapatkan penghargaan dari even yang diselenggarakan.  Walau demikian sosialisasi peraturan pemerintah tentang kepemilikan satwa liar perlu dilakukan guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap aturan yang berlaku, apalagi dalam waktu ke depan ada upaya dari pemerintah daerah untuk menetapkan Pemerintah Provinsi Papua Barat sebagai provinsi konservasi.

Keterangan:

Tulisan ini merupakan naskah yang sudah dipublikasikan dalam Majalah Unggas dan Aneka Ternak Vol. 4 No. 4: 29-30, Desember 2009

Urutan gambar dari atas ke bawah sebagai berikut: Nuri raja Papua (Aprosmictus erythropterus), Kakatua koki (Cacatua galerita), Kasturi kepala hitam (Lorius lorry) dan Nuri sayap hitam (Eos cyanogenia)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • muali fatah  On August 21, 2014 at 2:49 pm

    Salam kenal, mohon pencerahannya pak, gini gimana cara untk menandai atau memahami atntara jantan dan betina untk burung kasturi
    TERIMA KASIH

    • Freddy Pattiselanno (Endek)  On September 26, 2014 at 2:29 am

      Halo Pak Fatah,
      Terima kasih untuk kunjungan ke blog kami. Mohon maaf baru bisa merespon apa yang bapak tanyakan. Secara pribadi saya kurang berkompeten untuk merespon pertanyaan bapak, tetapi dari pengalaman dan berbagai sumber bacaan, hal yang biasanya dijadikan indikator untuk membedakan jenis kelamin yaitu dari warna bulu, deskripsi morfologi (misalnya kepala, tubuh dan kaki). Betina biasanya memiliki warna bulu yang menarik (biasanya untuk menarik perhatian jantan). Jantan biasanya memiliki bentuk badan lebih besar dengan bobot tubuh lebih berat dari betina. Ada beberapa metode yang dikembangkan antara lain dengean menggunakan pendulum walaupun tingkat keakuratannya juga kurang menjamin, tergantung kemampuan kita melakukan test tersebut. Mohon maaf pak Fatah kurang lebihnya, mudah-mudahan dapat bermanfaat dan menjawab pertanyaan bapak. Salam hormat, Freddy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: