Monthly Archives: March 2011

Apa yang menarik dari jenis herbivore arboreal berbulu (Cuscus: Phalangeridae)?


Freddy Pattiselanno (Laboratorium Produksi Ternak, Fakultas Peternakan Perikanan & Ilmu Kelautan Universitas Negeri Papua)

Kuskus adalah jenis hewan berkantung yang termasuk dalam famili Phalangeridae yang menurut Petcoz (1994) dilukiskan sebagai satwa yang agak besar dan kokoh dengan panjang tubuh seukuran ternak babi berumur dua bulan.  Lebih lanjut dijelaskan bahwa kantung pada hewan betina berkembang dengan baik, membuka ke depan dan mempunyai empat buah puting susu.  Menzies (1991) mendeskripsikan kuskus memiliki kepala bundar, mempunyai bulu seperti wool dan bersifat soliter, arboreal dan nocturnal. Sedangkan menurut Flannery (1994) kuskus (Phalanger) adalah jenis arboreal herbivora besar (biasanya mencapai bobot badan lebih dari dua kilogram) dan memanfaatkan jenis daun-daunan, buah, bunga dan kulit pohon sebagai sumber pakannya.

Continue reading

Advertisements

Ketika daging rusa menjadi sumber pendapatan tambahan keluarga


Freddy Pattiselanno (Laboratorium Produksi Ternak, Fakultas Peternakan Perikanan & Ilmu Kelautan Universitas Negeri Papua), Manokwari

 

Beberapa keuntungan daging rusa

Proporsi berat karkas dari  berat hidup (persentase karkas) yang tinggi mencapai 56-58%.  Selain itu juga kandungan gizi daging rusa yang relatif lebih baik dengan kandungan lemak yang rendah 3,3% dan protein yang tinggi mencapai 24,7%.  Dari sisi kesehatan mengkonsumsi daging rusa relatif aman, karena kandungan kolesterolnya yang rendah yaitu sekitar 66 mg/100g daging.  Oleh karena itu ketertarikan konsumen untuk mengkonsumsi daging rusa cukup beralasan karena masyarakat ingin mencari daging merah selain daging sapi dengan kandungan lemak dan kolesterol rendah tetapi memiliki kandungan protein yang tinggi.

Continue reading

Awar-awar, hijauan lokal yang berpotensi global


Thimotius Sraun1, Freddy Pattiselanno2 & Ones Yoku1

1 Program Studi Nutrisi dan Makanan Ternak

2 Program Studi Produksi Ternak

Fakultas Peternakan Perikanan & Ilmu Kelautan Universitas Negeri Papua

Pendahuluan

Ternak kambing yang adalah komoditi ternak ruminansia kecil sudah lama dipelihara masyarakat, tetapi dalam kehidupan yang bersifat makro, masih merupakan komponen minor (Hartono, 1995). Karena itu diharapkan untuk pengembangan ternak ruminansia kecil ke depan,  kemampuan beradaptasi dengan lingkungan merupakan hal yang perlu mendapat perhatian serius, khususnya melalui pemanfaatan sumber pakan yang selalu tersedia dan secara ekonomis menguntungkan sehingga mampu memberikan hasil yang sesuai dengan kondisi lingkungan yang ada.

Dalam sistem usaha tani, pemanfaatan limbah pertanian (hijauan, dedaunan atau rumput yang mudah didapat) merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas ternak peliharaan.  Kajian secara spesifik telah dilakukan melalui pemanfaatan daun mahang (Macaranga spp.) yang banyak tersedia di alam dan memiliki kualitas yang cukup baik sebagai pakan substitusi pada ternak kambing (Pattiselanno dan Hafid, 2000).  Oleh karena itu, pengamatan terhadap pemanfaatan daun awar-awar yang dikombinasikan dengan rumput Benggala telah dilakukan untuk melihat responnya terhadap pertumbuhan ternak kambing. Daun awar-awar digunakan dalam percobaan ini, berdasarkan informasi dari peternak setempat yang menjelaskan bahwa jenis Ficus ini disukai oleh ternak, tumbuh subur di sekitar, sehingga mudah diperoleh.  Sampai sejauh mana daun awar-awar dapat dimanfaatkan sebagai pakan kombinasi dengan hijauan lain pada ternak kambing, merupakan pertanyaan yang ingin dijawab dalam percobaan ini.

Continue reading

Konservasi satwa di Papua: Antara harapan dan kenyataan


Freddy Pattiselanno1, Agustinus Kilmaskossu2 & Maria J. Sadsoeitoeboen2

1Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan Perikanan & Ilmu Kelautan

2Jurusan Biologi Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam

Pendahuluan

Sebagai pulau terbesar kedua setelah Green Land, Pulau New Guinea (PNG dan Papua), menjadi bahan perhatian dunia karena kawasan hutan hujan tropis yang dimilikinya. Papua (Papua dan Papaua Barat) memiliki luas daratan sekitar 404.660 km2 atau menurut perkiraan Baplan (2002) mempunyai luas sekitar 42 juta hektar, dan dari luasan tersebut, kurang lebih 80% wilayahnya merupakan hutan.  Kondisi ini merupakan cerminan luasan areal yang mengandung kekayaan sumberdaya alam (bahan tambang, minyak, gas bumi serta hutan dan laut) dan sekaligus merupakan pusat sumber keanekaragaman hayati di Indonesia karena sekitar 50% kekayaan keanekaragaman hayati (KEHATI) Indonesia terdapat di Papua.  Hal ini cukup beralasan, karena ekosistem hutan hujan tropis yang unik dan berragam, dimanfaatkan oleh flora dan fauna yang ada sebagai habitat alaminya. Oleh karena itu cukup beralasan Petocz (1987) menegaskan bahwa Irian Jaya memiliki ekosistem yang bervariasi mulai dari pesisir sampai ke dataran tinggi, menyediakan habitat dan unik dan spesifik dan merupakan wilayah penyebaran sejumlah flora-fauna endemik.

Tulisan ini merupakan review literatur dari berbagai penelitian yang dilakukan di Papua dan dibandingkan dengan daerah atau wilayah lain dengan tujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi konservasi satwa liar di Papua.

Continue reading

%d bloggers like this: