Awar-awar, hijauan lokal yang berpotensi global


Thimotius Sraun1, Freddy Pattiselanno2 & Ones Yoku1

1 Program Studi Nutrisi dan Makanan Ternak

2 Program Studi Produksi Ternak

Fakultas Peternakan Perikanan & Ilmu Kelautan Universitas Negeri Papua

Pendahuluan

Ternak kambing yang adalah komoditi ternak ruminansia kecil sudah lama dipelihara masyarakat, tetapi dalam kehidupan yang bersifat makro, masih merupakan komponen minor (Hartono, 1995). Karena itu diharapkan untuk pengembangan ternak ruminansia kecil ke depan,  kemampuan beradaptasi dengan lingkungan merupakan hal yang perlu mendapat perhatian serius, khususnya melalui pemanfaatan sumber pakan yang selalu tersedia dan secara ekonomis menguntungkan sehingga mampu memberikan hasil yang sesuai dengan kondisi lingkungan yang ada.

Dalam sistem usaha tani, pemanfaatan limbah pertanian (hijauan, dedaunan atau rumput yang mudah didapat) merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas ternak peliharaan.  Kajian secara spesifik telah dilakukan melalui pemanfaatan daun mahang (Macaranga spp.) yang banyak tersedia di alam dan memiliki kualitas yang cukup baik sebagai pakan substitusi pada ternak kambing (Pattiselanno dan Hafid, 2000).  Oleh karena itu, pengamatan terhadap pemanfaatan daun awar-awar yang dikombinasikan dengan rumput Benggala telah dilakukan untuk melihat responnya terhadap pertumbuhan ternak kambing. Daun awar-awar digunakan dalam percobaan ini, berdasarkan informasi dari peternak setempat yang menjelaskan bahwa jenis Ficus ini disukai oleh ternak, tumbuh subur di sekitar, sehingga mudah diperoleh.  Sampai sejauh mana daun awar-awar dapat dimanfaatkan sebagai pakan kombinasi dengan hijauan lain pada ternak kambing, merupakan pertanyaan yang ingin dijawab dalam percobaan ini.

Struktur morfologi dan karakteristik awar-awar

Dengan asumsi, bahwa awar-awar dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif , maka pengamatan secara visual terhadap morfologi/karakteristik awar-awar yang ada di sekitar lokasi penelitian telah dilakukan.  Hasil pengamatan menunjukkan bahwa rata-rata tinggi pohon 4.87 meter, panjang daun 10.65 cm, lebar daun 4.51 cm dengan produksi sekitar 24.65kg daun.

Komposisi zat makanan pakan percobaan

Pekerjaan analisis kimia telah dilakukan di Laboratorium Nutrisi dan Pakan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Malang.

Tabel 1. Komposisi kimia pakan percobaan

No Komponen Awar-awar (%) R. Benggala (%)
1 Air 67.38 78.2
2 Protein Kasar 12.85 9.45
3 Lemak 3.96 2.19
4. Serat Kasar 21.93 45.37
5. BETN 38.96 30.35
6. Abu 22.30 12.64

Perbedaan yang jelas antara dua bahan pakan yang dianalisa terlihat pada kandungan protein dan serat kasar.  Kandungan protein daun awar-awar relatif lebih tinggi, dibanding rumput Benggala.  Di sisi lain, kadar serat kasar awar-awar relatif lebih rendah dibanding rumput Benggala. Lebih tingginya kandungan serat kasar rumput Benggala diduga karena hamper semua bagian (daun dan batang) diberikan sebagai bahan pakan, sedangkan awar-awar hanya bagian daun atau pucuk saja yang diberikan.

Siregar (1994) menjelaskan bahwa kualitas hijauan pakan dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok berdasarkan kandungan proteinnya yaitu (1) kualitas rendah, kandungan protein kasar di bawah 4 % dari bahan kering, (2) kualitas sedang, kandungan protein berada pada kisaran 5-10 % dari bahan kering dan (3) tinggi jika kandungan proteinnya berada di atas 10% dari bahan kering.

Mengacu pada klasifikasi menurut Siregar (1994) tersebut, maka awar-awar dikategorikan sebagai bahan pakan kualitas tinggi dengan kandungan protein tinggi 12.85%, sedangkan rumput Benggala tergolong kualitas sedang dengan kandungan protein 9.45%.  Karena itu diperkirakan kombinasi antara kedua jenis bahan pakan tersebut akan menghasilkan pakan dengan kualitas yang baik.  Lebih lanjut, kombinasi kedua jenis bahan pakan ini harus diuji cobakan untuk mendapatkan formulasi yang sesuai sebagai pakan ternak kambing.

Hasil penelitian Pattiselanno dan Hafid (2000) menunjukkan bahwa hijauan lokal Macaranga yang memiliki kandungan protein tinggi (15.54%) sebagai pakan substitusi pada rumput Raja mampu diberikan sampai tingkat pemberian 50% dan memberikan pertambahan bobot badan paling baik pada ternak kambing. Hasil inilah yang digunakan sebagai acuan dalam menetapkan kombinasi antara daun awar-awar dengan rumput Benggala, sehingga komposisi bahan pakan percobaan adalah sebagai berikut A (100%: RB 0% AA), B (75% RB: 25% AA), C (50% RB: 50% AA) dan D (25% RB: 75% AA) untuk melihat responnya terhadap tingkat konsumsi pakan.

Konsumsi pakan

Dari percobaan yang dilakukan, ternyata bahwa perlakuan pemberian pakan kombinasi rumput Benggala dan awar-awar memberikan pengaruh yang sangat nyata (P< 0.01) terhadap rata-rata tingkat konsumsi bahan kering pakan. Hasil uji BNJ pada taraf 5% menunjukkan bahwa persentase pemberian awar-awar 50% dan 75% dalam pakan percobaan memberikan perbedaan tingkat konsumsi pakan pada perlakuan kontrol (A), C dan D, tetapi tidak antara perlakuan B dan C.  Hal ini menunjukkan bahwa pemberian 25% dan 50% awar-awar ke dalam pakan percobaan memberikan respon yang sama terhadap konsumsi bahan kering pakan percobaan.

Uji BNJ pada taraf 1%, menunjukkan bahwa perlakuan kontrol (A) memberikan respon yang tidak sama dengan perlakuan C serta D, juga hal yang sama terjadi antara perlakuan B dan D.  Artinya, proporsi 50% dan 75% awar-awar dalam pakan perlakuan memberikan perbedaan tingkat konsumsi pada pakan dengan dan tanpa pemberian awar-awar, sama halnya dengan proporsi 25% dan 75%.

Uji BNJ memberikan gambaran bahwa penambahan awar-awar kurang dari 25 persen, tidak memberikan perbedaan tingkat konsumsi bahan kering pakan percobaan, namun demikian sebaliknya perlakuan penambahan awar-awar lebih besar dari 25 persen cenderung memberikan perbedaan terhadap tingkat konsumsi bahan kering pakan.  Tingkat konsumsi pakan (gram/ekor/hari) menunjukkan bahwa penambahan awar-awar cenderung meningkatkan konsumsi total pakan, tetapi di sisi lain meningkatkan proporsi awar-awar dalam pakan akan menurunkan jumlah konsumsi rumput Benggala.

Keadaan ini dapat dimengerti, karena meningkatnya proporsi awar-awar memberikan kontribusi terhadap peningkatan level protein dalam pakan percobaan.  Kandungan protein awar-awar merupakan sumber N bagi mikroba rumen.  Artinya ketersediaan N yang cukup bagi mikroba rumen akan meningkatkan laju fermentasi, kecernaan dan laju partikel makanan bertambah sehingga mengakibatkan peningkatan konsumsi pakan (Church, 1984).

Beberapa hal menarik yang perlu dicatat dari penelitian ini (1) sampai 75% kombinasi antara awar-awar dan rumput Benggala masih memungkinkan, (2) peningkatan konsumsi pakan tertinggi jelas terlihat pada perlakuan C atau tingkat kombinasi awar-awar 50%, (3) awar-awar cenderung memiliki tingkat palatabiltas yang lebih baik disebabkan karena bentuk fisiknya yang relatif lembut, dan (4) pada proporsi pemberian yang sama, daun awar-awar cenderung lebih banyak dikonsumsi, karena itu, awar-awar dapat diberikan sebagai pakan tunggal, walaupun demikian diperlukan telaah yang lebih mendalam untuk membuktikan hal ini.

Berdasarkan respon pertumbuhan ternak percobaan, penelitian ini mencatat bahwa tidak terdapat perbedaan yang berarti dari pertambahan bobot badan ternak kambing yang mendapat ransum perlakuan yang berbeda.  Akan tetapi ternak kambing yang mendapatkan ransum perlakuan C memberikan pertambahan bobot badan relatif lebih baik dibanding perlakuan lainnya yaitu 429 gr/ekor/hari.

Kesimpulan

1. Daun awar-awar (Ficus sp.) tergolong pakan hijuan berkualitas tinggi dengan kandungan protein sebesar 12.85%

2. Awar-awar dapat diberikan sebagai pakan kombinasi dengan rumput Benggala hingga 75% bagi ternak kambing dan mempunyai tingkat palatabilitas lebih baik dibanding rumput Benggala

3. Dilihat dari tingkat konsumsi bahan kering, perlakuan kombinasi 50% awar-awar dengan 50% rumput Benggala cukup baik karena mampu meningkatkan tingkat konsumsi pakan

Keterangan

Artikel lengkap dipublikasi dalam Jurnal Peternakan dan Lingkungan Universitas Andalas Vol. 10 (1): 69-74, 2001.

Gambar daun awar-awar diunduh dari website

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • Diana Sawen  On March 14, 2011 at 7:20 am

    Thanks P Freddy utk artikel bacaan minggu ini.

    Menarik artikel ini setelah sy bc seblmnya di Jurnal yd dimaksdud, ada beberapa hal yg ingin sy tanyakan:
    1.apkh awar2 ini bhs lokal/bhs indonesia baku ? Trs terang sy baru tahu stelah lht gambarnya ternyata beringin..
    2. Beringin mpy banyak spesies, kr2 awar-awar t’masuk spesies apa yah ??
    3. Klu mlht hsl analisis proksimatnya, awar2 mpy protein yang tinggi drpd rumput benggala. yg dimakan ternak bagian mananya, pucuk, daun muda, daun tua atau semuanya ? terkait juga yg dianalisis bagian mananya ?? Klu sy lht di masy Sunda yah, utk sayur lalapan salah satunya menggunakan pucuk beringin ini dan krn ingin tahu sy pernah mencoba ternyata memang enak…

    Demikian yg mjd pertanyaan sy. Trm ksh utk infonya.

  • Freddy Pattiselanno (Endek)  On March 14, 2011 at 8:15 am

    Ibu Diana, terima kasih pertanyaannya, saya sudah kirim balasannya via email ibu semoga bisa diterima dengan baik. Benar awar-awar ini bahasa lokal dan termasuk jenis beringin atau Ficus.

    Terima kasih, ibu nanti cek di email ibu yah….sukses selalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: