Ketika daging rusa menjadi sumber pendapatan tambahan keluarga


Freddy Pattiselanno (Laboratorium Produksi Ternak, Fakultas Peternakan Perikanan & Ilmu Kelautan Universitas Negeri Papua), Manokwari

 

Beberapa keuntungan daging rusa

Proporsi berat karkas dari  berat hidup (persentase karkas) yang tinggi mencapai 56-58%.  Selain itu juga kandungan gizi daging rusa yang relatif lebih baik dengan kandungan lemak yang rendah 3,3% dan protein yang tinggi mencapai 24,7%.  Dari sisi kesehatan mengkonsumsi daging rusa relatif aman, karena kandungan kolesterolnya yang rendah yaitu sekitar 66 mg/100g daging.  Oleh karena itu ketertarikan konsumen untuk mengkonsumsi daging rusa cukup beralasan karena masyarakat ingin mencari daging merah selain daging sapi dengan kandungan lemak dan kolesterol rendah tetapi memiliki kandungan protein yang tinggi.

 

Hutan dan sumberdaya yang terkandung dalam bentuk makanan dan sumber pendapatan memainkan peranan penting bahkan kritis bagi manusia di seluruh dunia untuk mengamankan ketersediaan dan kestabilan pangan karena sumberdaya hutan paling mudah dijangkau oleh manusia.  Kenyataannya pemanfaatan dan koservasi sumber daya satwa dianggap sebagai hal yang kontradiktif.  Sebaliknya dalam konteks ketahanan pangan pemanafaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) termasuk sumber daya satwa mencerminkan keragaman ekonomi, social budaya dan ekologi beberapa kelompok etnik di Papua.  Hal ini cukup beralasan karena satwa liar memiliki arti penting bagi masyarakat di pedalaman Papua akibat sulitnya mendapatkan protein hewani dari pasar lokal.

Seperti halnya masyarakat sekitar hutan lainnya, penduduk asli Papua menghargai hutan untuk kepentingan bertani, serta pemanfaatan secara luas sebagai produk obat tradisional, kesehatan, tempat berburu dan memancing.  Rusa Timor (Cervus timorensis) merupakan salah satu jenis satwa yang merupakan sasaran buruan bagi masyarakat di pedalaman Papua.

Dari beberapa survey potensi dan pemanfaatan Rusa Timor sebagai sumberdaya satwa di Papua, terungkap bahwa tingginya permintaan akan daging rusa disebabkan karena mudahnya kelompok masyarakat setempat memperoleh rusa melalui aktivitas perburuan tradisional.  Memang diakui bahwa satwa ini mempunyai potensi yang cukup baik di alam sejak diintroduksi oleh Belanda pertama kali di Manokwari pada tahun 1928 dan sekarang ini sudah menyebar merata di seluruh pelosok Papua.  Hal menarik lainnya yang menunjukkan bahwa rusa mengkonsumsi tumbuhan secara alami sehingga dari sisi kesehatan amat menguntungkan bagi mereka yang mengkonsumsi daging rusa.

Daging rusa dan pendapatan rumah tangga

Memanfaatkan daging rusa sebagai sumber pendapatan alternatif keluarga memang bukan hal yang lumrah di Papua.  Hal ini cukup beralasan karena di daerah pedalaman dengan jumlah penduduk yang sedikit dan saling mengenal satu dengan lainnya umumnya hasil buruan yang diperoleh dibagi kepada keluarga atau tetangga di sekitarnya.  Hubungan kekeluargaan yang sangat tinggi dengan falsafah saling membantu satu dengan lainnya juga menjadi faktor sehingga kewirusahaan di pedesaan tidak berjalan dengan baik.

Dampak perkembangan dan pemekaran wilayah di Papua, menyebabkan arus masuk dan keluar penduduk di satu kampung semakin tinggi pula.  Kondisi ini pula yang menyebabkan masyarakat setempat mulai berinteraksi dengan masyarakat dari luar desa yang datang untuk berdagang dan malakukan aktivitas lainnya.  Pada awalnya model peredaran barang dan jasa didasarkan pada kebutuhan sembilan bahan pokok yang dibawa dan dijual pedagang keliling yang kemudian ditukar dengan hasil perkebunan dan buruan (bagi mereka di dataran tinggi) dan hasil laut bagi mereka di daerah pesisir.  Selanjutnya hal ini berkembang sejalan dengan kejelian masyarakat setempat melihat potensi sumber penghasilan tambahan alternatif yang bisa diperoleh sebagai pendapatan rumah tangga.

Meningkatnya permintaan terhadap daging rusa dan harga jual yang cukup baik memicu masyarakat yang aktif berburu memanfaatkan kesempatan ini untuk menambah pendapatan rumah tangga dengan menjual daging rusa.  Selain itu juga kemudahan dalam melakukan aktivitas perburuan dengan teknik perburuan yang bervariasi menjadi salah satu alasan berkembangnya aktivitas wirasusaha pedesaan yang berbasis pada aktivitas perburuan.

Hasil pemantauan yang dilakukan oleh Conservation International Papua Program dan Seksi Konservasi Sumberdaya Alam Wilayah Manokwari pada tahun 2004 menunjukkan bahwa beberapa jenis satwa diperdagangkan dengan bebas di Manokwari dan Jayapura.  Rusa merupakan salah satu jenis satwa yang diperdagangkan baik hewan hidup maupun dalam bentuk daging di pasar tradisional.

Rantai pemasaran daging rusa

Pengamatan yang dilakukan penulis di beberapa daerah yang diketahui sebagai kantong perburuan rusa di daerah Kepala Burung Papua menunjukkan bahwa rantai pemasaran daging rusa di beberapa daerah berbeda antara satu dengan lainnya berdasarkan karakteristik wilayah dan akses ke wilayah tersebut.

Di dataran tinggi Kebar, daging hasil buruan biasanya dijual langsung oleh pemburu ke konsumen.   Daging dijual langsung dari rumah ke rumah dalam bentuk potongan daging yang sudah dipotong terlebih dahulu dengan berat kurang lebih 1,5 – 2 kg dan harga per potong daging berkisar antara Rp 5.000 sampai dengan Rp 10.000.  Sistem pemasaran dilakukan “door to door” dengan cara menawarkan daging hasil buruan (Gambar 1).  Sistem pemasaran ini hanya berlaku di sekitar kampung saja.

Sedangkan kelebihan hasil buruan umumnya diolah lebih lanjut menjadi produk olahan seperti dendeng  sebelum dijual atau dikonsumsi sendiri misalnya dengan cara menjemur daging di bawah sinar matahari (Gambar 2). Tidak jarang, untuk memperpanjang masa simpan hasil buruan dalam jangka waktu lama, daging dipotong dalam potongan yang lebih kecil dan digantung di atas perapian di dapur.  Dengan demikian melalui pemanfaatan asap tungku diharapkan kadar air daging akan berkurang sehingga bahan menjadi kering dan menghambat tumbuhnya mikroba.

Alternatif lain yang sering ditemukan yaitu pemburu ke padagang pengumpul dan diteruskan kepada konsumen.  Dalam sistem ini produk yang dijual biasanya dalam bentuk daging utuh, hanya dikeluarkan jeroannya.  Terkadang dalam model ini transaksi hewan hidup masih dapat ditemukan, khususnya rusa yang masih berada dalam kondisi yang baik.  Kesepakatan harga biasanya ditentukan berdasarkan bobot daging atau bobot hidup hewan yang dijual.  Biasanya dalam sistem ini penjualan dilakukan keluar wilayah Kebar dan pada saat itu baru transportasi udara saja yang tersedia.

Di wilayah pesisir Amberbaken, ketika melakukan survey di daerah ini pada tahun 2001,  biasanya pedagang pengumpul melakukan penjualan sembilan bahan pokok kepada masyarakat kemudian pada saat yang bersamaan mereka membeli hasil buruan dari para pemburu setempat.  Dalam kasus ini rantai pemasaran yang terjadi yaitu pemburu ke pedagang pengumpul dan selanjutnya ke konsumen. Jika hasil buruan yang diperoleh banyak, biasanya mereka membuat kandang penampungan sementara untuk rusa hasil buruan sebelum dijual kepada pedagang pengumpul.  Dalam prakteknya, pedagang pengumpul menggunakan perahu motor tempel yang dilengkapi dengan “cool box” sehingga daya tampung daging hasil buruan relatif banyak dan biasanya mereka bisa bertahan selama beberapa hari untuk mengumpulkan daging hasil buruan sebelum dijual ke kota.

Selain menjual daging, pemburu juga menjual hewan hidup dengan kisaran harga bervariasi menurut bobot badan hewan tersebut antara Rp. 250.000 sampai dengan Rp. 500.000.  Sedangkan jika dijual dalam bentuk daging maka harga daging rusa per kilogram yaitu Rp. 10.000.  Daerah yang menjadi tujuan pemasaran daging rusa yaitu kota Manokwari dan Sorong, karena permintaan daging rusa yang cukup tinggi.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • RANDIVA PUTRA  On February 9, 2012 at 6:35 am

    BY THE WAY, WHERE COULD I BUY A KILOGRAM OF DEER MEAT? COULD TELL ME THE ADDRESS , PLEASE?

  • Nunik  On February 24, 2013 at 3:34 am

    saya ingin membeli daging rusanya Pak, bisa minta tolong kirimkan info contact person yg jual ke nunik@noviotrade.com atau phone saya 085921382719

  • adi  On November 21, 2013 at 9:55 am

    Pak Freddy, apakah NC Production punya nomer hape ? mohon infonya.

    • Freddy Pattiselanno (Endek)  On November 22, 2013 at 7:41 am

      Mas Adi, bisa kontak NC Production Merauke di nomor telpon (0971) 321 404. Mohon maaf aku tidak punya no hp-nya. Semoga bisa terbantu…….Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: