Apa yang menarik dari jenis herbivore arboreal berbulu (Cuscus: Phalangeridae)?


Freddy Pattiselanno (Laboratorium Produksi Ternak, Fakultas Peternakan Perikanan & Ilmu Kelautan Universitas Negeri Papua)

Kuskus adalah jenis hewan berkantung yang termasuk dalam famili Phalangeridae yang menurut Petcoz (1994) dilukiskan sebagai satwa yang agak besar dan kokoh dengan panjang tubuh seukuran ternak babi berumur dua bulan.  Lebih lanjut dijelaskan bahwa kantung pada hewan betina berkembang dengan baik, membuka ke depan dan mempunyai empat buah puting susu.  Menzies (1991) mendeskripsikan kuskus memiliki kepala bundar, mempunyai bulu seperti wool dan bersifat soliter, arboreal dan nocturnal. Sedangkan menurut Flannery (1994) kuskus (Phalanger) adalah jenis arboreal herbivora besar (biasanya mencapai bobot badan lebih dari dua kilogram) dan memanfaatkan jenis daun-daunan, buah, bunga dan kulit pohon sebagai sumber pakannya.

Menurut Petocz (1994), mamalia darat di Papua terdiri atas tiga sub-klas yaitu Prototheria (petelur), Marsupilia (berkantung) dan Eutheria (berplasenta).  Marsupilia dikategorikan lagi ke dalam dua ordo yaitu Polyprotodonta yang bersifat karnivor dan yang bersifat herbivor.  Kuskus merupakan salah satu dari lima famili yang tergolong dalam ordo Diprotodonta yaitu famili Phalangeridae (Menzies, 1991).

Penyeberan jenis kuskus kelabu (Phalanger) sangat luas di seluruh hutan hujan dataran rendah Papua sampai dengan ketinggian 1500m di atas permukaan laut meliputi daerah Yapen, Biak, Supiori sampai ke Teluk Cenderawasih, sedangkan kuskus berbintik menyebar di sebelah utara Papua terutama sekitar Gunung Cyclop (Petocz, 1994).

Dua jenis kuskus yang paling sering dijumpai

Kajian dari berbagai literatur menunjukkan bahwa jumlah jenis kuskus di New Guinea (Irian Jaya di Indonesia dan Papua New Guinea) dan pulau-pulau sekitarnya sebanyak 11 jenis yang terdiri dari dua marga (genus) yaitu marga Spilocuscus (kuskus bertotol) dan marga Phalanger (kuskus tidak bertotol). Di Papua sendiri ada terdapat sekitar tujuh jenis kuskus yang terdiri dari Spilocuscus maculatus, S. rufoniger, S. papuaensis, Phalanger orientalis, P. gymnotis, P. vestitus, dan P. permixtio.  Di negara tetangga Papua New Guinea, kuskus tergolong pada jenis hewan besar yang berbulu atau “sab”.

Dalam tulisan ini kami hanya fokus pada jenis yang paling sering kami jumpai dalam kegiatan penelitian yang kami lakukan. Dari survey yang pernah kami lakukan di pulau-pulau satelit sekitar kawasan Teluk Cenderawasih termasuk Pulau Biak dan  Ratewi ada dua jenis kuskus yang paling sering dijumpai masing-masing Kuskus coklat biasa/ Kuskus timur (Phalanger orientalis) dan Kuskus totol biasa (Spilocuscus maculatus).  Jika ditelusuri berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan di pulau New Guinea, penyebaran P. orientalis di Irian Jaya (Papua) yaitu di Pulau Japen, Biak-Supiori dan di sekitar Teluk Cenderawasih. Sedangkan S. maculatus merupakan jenis yang diintroduksi ke Papua dan saat ini menyebar hampir di seluruh Papua. Kuskus tergolong pada satwa yang terancam punah (endangered) dan menuju kepunahan (vulnerable) karena ancaman perburuan dan kehilangan habitat sebagai tempat tinggalnya.  Oleh karena itu pada saat ini sebagian besar dari Famili Phalangeridae secara hukum dilindungi dan tercantum dalam Appendix II Konvensi CITES (Anonimous, 1996).

Phalanger orientalis mempunyai tanda yang sangat khas dan oleh masyarakat setempat dapat dibedakan secara langsung yaitu garis dorsal tengah yang geleap memanjang dari dari bagian dahi sampai ekor dan bagian distal ekor tidak mempunyai bulu.  Walaupun warna bulu tubuh bervariasi tetapi umumnya jenis yang dijumpai di lokasi penelitian memiliki warna coklat kegelapan.  Selain itu juga salah satu penciri species ini adalah warna bulu bagian bawah tubuh termasuk dada berwarna putih sampai kekuningan. Jenis ini mempunyai wilayah penyebaran yang luas di seluruh hutan hujan dataran rendah Papua mulai dari permukaan laut sampai pada ketinggian tempat 1500m.  Karena penyebarannya yang cukup luas, species ini sering ditemukan menempati areal perkebunan yang dekat dengan pemukiman manusia.

Spilocuscus maculatus mempunyai ciri khusus yang digunakan oleh masyarakat sebagai dasar untuk identifikasi yaitu bobot badan yang lebih besar dibanding species lain dengan totol pada bulu yang warnanya bervariasi.  Bulunya seperti wol dengan variasi warna yang tinggi kuning gading, coklat muda bahkan kelabu kecoklatan.

Pemanfaatan kuskus oleh masyarakat

Salah satu bentuk pemanfaatan yaitu melalui aktivitas perburuan. Perburuan satwa dilakukan untuk tujuan yang beragam, dan di daerah tertentu ketika akses terhadap sumber protein hewani asal ternak terbatas maka pemanfaatan satwa untuk tujuan dikonsumsi menjadi sangat dominan.  Dari penelitian yang pernah kami lakukan, juga riset para kolega dan mahasiswa di Universitas Negeri Papua, serta hasil studi yang pernah dilakukan di Timor, Sulawesi Utara dan di Papua New Guinea, umumnya kuskus dimanfaatkan sebagai sumber pangan.

Di Timor Barat, Nusa Tenggara Timur misalnya, masyarakat setempat mengkonsumsi kuskus jenis Phalanger (Farida dkk, 2001). Riley (2002) melaporkan bahwa perburuan kuskus oleh masyarakat di Pulau Sangihe dan Talaud, Sulawesi Utara, berdampak negatif terhadap populasi kuskus beruang (Ailurops ursinus).

Hal yang sama juga dijumpai di Papua, kuskus termasuk salah satu jenis hewan yang menjadi sumber protein hewani alternatif.   Karena itu dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan satwa untuk tujuan dikonsumsi memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pemenuhan konsumsi protein hewani masyarakat di daerah pedalaman Papua. Hal ini juga terjadi dalam skala yang lebih luas lagi karena menurut Prescot-Allen dan Prescot-Allen (1982) bahwa sedikitnya ada 62 negara di dunia yang penduduknya memanfaatkan satwa sebagai sumber protein hewani.

Selain menjadi sumber protein hewani alternatif, secara komersial kuskus juga merupakan sumber pendapatan, jika dijual kepada mereka yang senang memelihara hewan liar sebagai binatang peliharaan atau ”pets”. Harga jual seekor kuskus hidup biasanya bervariasi antara Rp. 100.000 sampai dengan Rp. 200.000.  Hasil penelitian Sinery (2006) menunjukan bahwa harga jual seekor kuskus hidup di Manokwari berkisar antra Rp. 100.000 sampai dengan Rp. 200.000, sedangkan harga jual seekor kuskus di Biak tergantung pada ukuran besar kecilnya tubuh yaitu sekitar Rp. 30.000 sampai dengan Rp. 50.000.  Farida, dkk (2001) melaporkan bahwa di Nusa Tenggara Timur kuskus hidup atau mati dijual di pasar tradisonal seharga Rp. 15.000 sampai dengan Rp. 25.000 per ekor.

Selama melakukan pengamatan di Papua, kami belum pernah menemukan pemanfaatan kuskus untuk pembayaran mas kawin (bride price payments) dalam praktek kehidupan sosial budaya masyarakat setempat. Sebaliknya  hasil studi Mack dan West (2005) membuktikan bahwa satwa liar juga memainkan peranan yang tidak kalah penting dalam kehidupan sosial budaya masyarakat di Papua New Guinea.  Jenis hewan liar seperti landak duri, kangguru pohon, kuskus dan walabi tergolong jenis satwa yang dapat digunakan dalam pembayaran mas kawin bagi masyarakat di Papua New Guinea.

Tantangan di waktu mendatang

Belajar dari pengalaman di negara lain, pemanfaatan satwa yang tidak terkendali berdampak negatif terhadap kelestariannya.  Bukan hanya pemanfaatan, dampak lain seperti penebangan hutan, kompetisi penggunaan lahan untuk berbagai kepentingan juga ikut berkontribusi terhadap kerusakan hutan dan kehilangan sejumlah luasan habitat satwa tertentu.  Sudah waktunya kita memanfaatkan potensi yang ada secara bijaksana, karena itu masyarakat perlu juga belajar untuk membudidayakan satwa yang berpotensi sebagai sumber protein hewani alternatif. Tentunya campur tangan pemerintah dan perguruan tinggi sangat diharapkan supaya kelestarian satwa ini perlu tetap terpelihara.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: