Potensi Lembah Kebar


Freddy Pattiselanno (Laboratorium Produksi Ternak FPPK UNIPA Manokwari)

Lembah Kebar di Wilayah Kepala Burung Papua, terletak antara 132o-133o BT dan 0o47’-0o50’ LS. Kebar berada pada ketinggian 500-600 m dpl dan berjarak kurang lebih 150 km sebelah Barat Daya kota Manokwari atau ± 35 km dari pantai utara Papua (pantai Distrik Amberbaken). Dari berbagai sumber pustaka, diperkirakan Distrik Kebar mempunyai luasan sekitar 21.841 hektar dengan potensi kawasan padang rumput alamnya yang mencapai kurang lebih 5.391 Ha (Gambar 1).

Lembah Kebar berdasarkan tipe vegetasinya dapat dibedakan atas:

Hutan primer; hutan yang terdiri dari pohon-pohon yang berukuran besar, tumbuh lurus tegak dan tinggi dan di bagian kanopi banyak dijumpai epifit (termasuk anggrek) dan bagian bawah ditumbuhi semak belukar, paku-pakuan dan lumut yang menyebabkan keadaan hutan gelap dan lembab.

Hutan sekunder; didominasi oleh pohon dengan diameter yang kecil, dan terdiri dari jenis pohon Matoa (Pometia pinnata), Binuang (Octomeles sumatrana), Damar (Araucaria, sp.) yang ditanam sejak jaman Belanda dan sampai sekarang masih ada (Gambar 2).

Selain itu juga berbagai jenis pohon dapat ditemui di areal hutan sekunder; Kayu Merah (Homalium foetidum), Pulai (Alstonia spp.), Sukun (Arthocarpus communis), Rotan (Calamus spp dan Korthalsia sp.), Pandan (Pandanus sp.), berbagai jenis bambu (Bambosa sp), Kayu Raja (Endospermum molucanum), Pala Hutan (Myristica, spp), Sirih hutan (Piper aduncum), sagu (Metroxylon sp.), enau (Arenga pinnata), lansat (Lansium domesticum), Kedondong hutan (Spondias dulcis), Genemo (Gnetum gnemon), Linggua (Pterocarpus indicus), jenis ephyfit dan paku-pakuan.

Padang Rumput; umumnya didominasi oleh alang-alang (Imperata cylindrica) yang pada musim kemarau akan mudah terbakar. Di sisi lain terdapat areal yang dicirikan sebagai hutan rawa yang ditumbuhi pohon sagu dan berbagai jenis tumbuhan air lainnya.

Potensi peternakan

Usaha peternakan sapi potong di Kebar, mulai berkembang sejak upaya yang dilakukan oleh Dinas Peternakan Kabupaten Manokwari melalui penyebaran ternak sapi dengan sistem gaduhan pada tahun 70-an. Melalui program yang terus berkelanjutan ini sampai dengan saat ini jumlah populasi ternak sapi di Kebar mengalami peningkatan yang amat pesat (belum termasuk sapi liar atau “feral”) sapi yang sebelumnya dipelihara tetapi kemudian menjadi liar kembali karena pola pemeliharaan yang semi-intensif dan campur tangan pemeliharan yang terbatas (Gambar 3).

Tetapi jika diamati penampilan ternak sapi yang ada di Kebar secara eksterior mempunyai kualitas yang cukup memadai dari bobot hidup ternak melalui penaksiran secara kasar.  Selain itu pula data melalui rekor kelahiran ternak sapi yang lahir secara random menunjukkan performans reproduksi yang cukup baik dengan kualitas pakan yang hanya mengandalkan padang penggembalaan alam yang juga digunakan sebagai sarana pendaratan pesawat di Kebar (Gambar 4).

Potensi populasi rusa di alam

Salah satu potensi Lembah Kebar yang cukup dikenal masyarakat di Kabupaten Manokwari yaitu sebagai salah satu wilayah kantong perburuan rusa.  Hasil penelitian terakhir menunjukkan bahwa estimasi kepadatan populasi rusa per hektar adalah 3 ekor/hektar dengan struktur populasi adalah sebagai berikut dewasa (57 %), anak (25 %), muda (18 %), dengan rasio 3:1:1.  Bagi masyarakat sekitar yang sulit memenuhi kebutuhan protein hewani melalui ternak, berburu rusa merupakan alterntif dalam memenuhi kebutuhan konsumsi protein hewani keluarga (Gambar 5).

Koridor alam bagi keanekaragaman hayati

Letaknya yang strategis membelah dua kawasan konservasi yakni Cagar Alam Pegunungan Tamrau Utara dan Selatan menyebabkan Lembah Kebar mempunyai nilai yang sangat penting bagi pengembangan kawasan konservasi di Papua (Gambar 6).  Fungsinya sebagai koridor alam keanekaragaman hayati yang ada terungkap dalam rangkaian kegiatan Lokakarya Visi Keanekaragaman Hayati Ekoregion Hutan Hujan Kepala Burung Papua Oktober 2003 yang lalu dan Lokakarya Perencanaan Ruang Multipihak di Ekoregion Vogelkop Juni 2004 yang disponsori oleh WWF Region Sahul Papua.

Lokakarya ini berhasil mengungkap nilai penting kawasan Kepala Burung termasuk Lembah Kebar yang punya peranan dalam pengelolaan kawasan konservasi di daerah Kepala Burung pada masa mendatang.  Selanjutnya dari masukkan yang diberikan akademisi, serta para ahli yang berdiskusi diadakanlah lokakarya lanjutan dengan melibatkan pemerintah daerah setempat.

Harapan di waktu mendatang

Pemekaran wilayah dan keberadaan Propinsi Papua Barat dengan pusat pemerintahan di Manokwari, menciptakan peluang untuk kabupaten-kabupaten baru di wilayah Kepala Burung guna menarik modal investor sekaligus untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan taraf hidup masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya lokal.  Terbukanya keterisolasian beberapa kantong wilayah dataran tinggi di Kabupaten Manokwari melalui peningkatan jaringan transportasi darat dan udara diharapkan akan membantu mewujudkan  impian masyarakat Lembah Kebar untuk ikut berpartisipasi aktif dan memberikan kontribusi dalam pembangunan.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • eva m gombo  On April 4, 2014 at 9:33 pm

    thank you

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: