Kuliner Manado-Minahasa mengancam keanekaragaman hayati?


Freddy Pattiselanno (Alumni Fakultas Peternakan Universitas Sam Ratulangi, Manado)

This slideshow requires JavaScript.

Sulawesi Utara terkenal dengan kulinernya yang sangat unik dan jarang bisa ditemukan di daerah lain di Indonesia.  Sebagai contoh, Manado, sebagai ibukota provinsi Sulut lebih dikenal dengan nama kota “TINUTUAN”.  Identitas kota tinutuan sangat erat dengan salah satu potensi wisata yang cukup dikenal yaitu wisata kuliner.  Hal ini dapat dibuktikan ketika kita berada di Manado, mulai dari warung atau rumah makan yang sederhana sampai dengan restoran berkelas dapat ditemukan di sepanjang jalan, apalagi kalau kita melintas kawasan Boulevard. Berdasarkan data Dinas Pariwisata Manado, pada tahun 2007 ada sebanyak 30 restoran, 111 rumah makan kualifikasi B  dan 30 rumah makan dengan kualifikasi A sehingga total rumah makan dan restoran yang ada di Manado yaitu 171 (Manado Dalam Angka, 2008).  Jumlah rumah makan dan restoran ini belum termasuk yang ada di Minahasa dan sekitarnya.

Banyak orang terkesan dengan sajian khas Manado/Minahasa ketika mereka berkunjung ke Sulut, yang secara keseluruhan menawarkan berbagai menu khas yang merupakan ciri khusus selera Minahasa, yang berragam mulai dari sumber daya pesisir, perikanan darat sampai kepada daging ternak maupun hewan liar yang jarang ditemukan di daerah lain.  Tentunya selain berhubungan erat dengan kondisi sosial budaya masyarakat, bervariasinya kuliner yang ada juga memiliki kaitan erat dengan kekayaan keanekaragaman hayati Sulut yang sudah dan terdokumentasi dengan baik sejak abad 19 yang lalu oleh beberapa ahli seperti Wallace (1869), Guillemard (1886) dan Hickson (1889). Menurut laporan FAO (1982) dan Whitten et al. (1987) dari 127 species mamalia, 328 burung dan 104 reptilia yang ada, sekitar 79 species mamalia (62%), 88 species burung (27%) dan 29 spesies reptil (28%) adalah endemik Pulau Sulawesi.  Dengan kekayaan species vertebrata yang ada, maka Sulawesi merupakan salah satu kawasan yang sangat penting diantara beberapa daerah yang meupakan pusat kekayaan keanekaragaman hayati (kehati) di dunia.

Dalam kaitannya dengan pemenuhan konsumsi, beberapa hasil penelitian yang pernah dilakukan menunjukkan keeratan hubungan antara pemasaran sejumlah daging satwa atau hewan liar dengan tingkat ekstraksi atau perburuan satwa di alam.  Hasil penelitian Clayton dan Milner-Gulland (2000) menunjukkan sekalipun tidak ada perhitungan yang benar-benar akurat, tetapi diperkirakan sekitar 90.000 hewan liar diperdagangkan untuk mensuplai kebutuhan permintaan daging di Sulawesi Utara. Hasil penelitian yang sama juga menginformasikan bahwa species satwa lainnya seperti babi hutan, kera, tikus hutan dan kelelawar merupakan hewan buruan yang diperdagangkan di beberapa pasar tradisional seperti di Tomohan dan Langowan.

Mungkin banyak orang yang belum mengetahui, tetapi studi tentang pemanfaatan satwa liar dilakukan secara intensif dan telah dipublikasi secara internasional oleh beberapa peneliti asing yang bekerja sama dengan Wildlife Conservation Society (WCS), Darwin Initiative  yang melakukan eksplorasi tentang bentuk-bentuk perburuan, perdagangan satwa dan dampaknya terhadap kondisi populasi serta habitat alami satwa yang diburu di Sulut (O’ Brien dan Kinnaird, 1996; 2000; Lee, 2000; Clayton and Milner-Gulland, 2000; Riley, 2002; Lee dkk, 2005).  Hasil dari penelitian-penelitian ini merujuk pada satu kesimpulan bahwa aktivitas perburuan satwa untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ternyata tidak lestari (unsustainable) dan mengancam populasi satwa khususnya yang menjadi sasaran perburuan. Hal ini cukup beralasan, karena berdasarkan hasil yang diperoleh, untuk mensuplai kebutuhan pasar, importasi besar-besaran sejumlah satwa tertentu ditemukan baik dari Sangihe dan Talaud dan dari daerah Bolaang Mongondow dan Gorontalo melalui trans Sulawesi.

Sungguh merupakan suatu dilema, karena hasil penelitian Lee dkk (2005) menunjukkan bahwa meningkatnya konsumsi daging satwa lebih disebabkan karena kesukaan dan bukan karena kebutuhan.  Wajar, karena pada hari-hari tertentu seperti Natal, Tahun Baru atau perayaan Pengucapan, daging satwa dijual di beberapa pasar tradisional di Manado dan Minahasa.  Di sisi lain Sulut tergolong pada propinsi di Indonesia dengan perkembangan yang cukup maju dibanding daerah lainnya, dengan rata-rata tingkat pendapatan per kapita masyarakat yang sudah cukup baik. Data BPS Indonesia (2004), menunjukkan bahwa Sulut termasuk dalam enam besar provinsi dengan jumlah penduduk miskin di bawah 10% bersama Bangka Belitung, Banten, DKI Jakarta, Bali dan Kalimantan Selatan.  Data BPS ini mengekspresikan bahwa secara ekonomi, masyarakat Sulut seharusnya sudah mampu mengakses ketersediaan sumber protein hewani utama yang ada (daging, telur dan ikan) tanpa perlu bergantung kepada sumber protein hewani alternatif asal satwa.

Yang menjadi pertanyaan, apakah konsumsi protein hewani masyarakat masih rendah, sehingga perlu mencari protein hewani alternatif seperti daging satwa? Menurut data Dinas Pertanian dan Peternakan Sulut (2005), bahwa pada tahun 2004, konsumsi protein hewani per gram per kapita per hari masyarakat Sulut sebesar 4.80% dan jika dibandingkan dengan target kebutuhan protein hewani  yang direkomendasikan pemerintah berdasarkan Widya Karya Pangan dan Gizi 1993 sebesar 6 gram per kapita per hari, tingkat capaiannya sudah sekitar 80 persen. Tentunya data yang ada di Dinas Pertanian dan Peternakan ini hanya merupakan cerminan konsumsi protein hewani asal ternak yang terdiri dari konsumsi daging, telur dan susu, tanpa memperhitungkan konsumsi daging asal satwa. Ini juga belum termasuk konsumsi ikan yang potensinya cukup besar (baik perikanan darat dan laut) yang jika diikut sertakan mungkin mendekati 90 persen.

Oleh karena itu peningkatan produksi di sektor perikanan dan di sektor peternakan perlu dipacu sehingga diharapkan akan mampu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap konsumsi daging satwa.  Pada kondisi tertentu seperti yang dialami masyarakat di daerah pedalaman Papua dimana akses terhadap sumber protein hewani asal ternak sangat terbatas karena kondisi geografis, atau karena kondisi sosial ekonomi rumah tangga yang sangat rendah (dalam konteks ini dibanding masayarakat Sulut), ketergantungan terhadap sumber protein asal satwa yang cukup tinggi masih dapat dimengerti.

Kita perlu dengan serius memperhatikan fenomena yang ada.  Kajian yang lebih mendalam perlu dilakukan, karena jika dikaitkan dengan kondisi sosial budaya masyarakat, mengkonsumsi daging satwa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan budaya masyarakat yang ada.  Misalnya saja dari sisi antropologi, apakah mungkin masyarakat lebih senang mengkonsumsi konsumsi daging satwa karena diyakini memiliki kandungan gizi yang lebih baik dibanding daging ternak, atau apakah ada kepercayaan yang berlaku turun temurun dalam struktur kehidupan masyarakat yang berlaku bahwa mengkonsumsi daging satwa memberikan dampak tertentu bagi kesehatan tubuh?

Dalam hal ini, saya tidak bermaksud berkampanye untuk melarang masyarakat mengkonsumsi daging satwa, tetapi kita perlu juga mencermati dampaknya terhadap kondisi populasi juga kelestarian hutan yang ada.  Dari berbagai hasil penelitian terbukti bahwa perburuan yang tidak terkendali bukan hanya mempengaruhi populasi satwa, tetapi juga berdampak terhadap terbatasnya penyebaran dan penyerbukan beberapa jenis tanaman hutan, karena jenis satwa tertentu dikenal sebagai pemencar benih tumbuhan atau “polinator”, misalnya kelelawar, babi hutan dan jenis hewan mamalia lainnya.

Apa yang perlu dilakukan? Kampanye mengkonsumsi ikan atau produk peternakan (daging telur dan susu) perlu dilakukan secara intensif, diikuti dengan upaya peningkatan produksi perikanan dan peternakan.  Hal ini bukan saja akan ikut meningkatkan konsumsi protein hewani masyarakat tetapi ikut menjaga kelestarian populasi satwa dan habitat tempat hidupnya.  Status hukum yang sah bagi jenis satwa yang dilindungi perlu mendapat perhatian, apalagi terhadap pemanfaatan jenis satwa yang dilindungi secara hukum.  Kampanye terhadap perlindungan satwa perlu dilakukan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kekayaan keaneka ragaman hayati yang ada.

 

Catatan:

Artikel lengkap dimuat dalam Harian Manado Post, 14 Mei 2011

Gambar peta dikutip dari Clayton et al (1997); Milner-Gulland & Clayton (2002); Lee et al (2005)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: