Akses yang membuka keterisolasian di pesisir Kepala Burung Papua


Freddy Pattiselanno (Laboratorium Produksi Ternak Fakultas Peternakan Perikanan & Ilmu Kelautan UNIPA, Manokwari)

Salah satu kendala utama dalam menunjang aktivitas pembangunan adalah keterisolasian masyarakat.  Keterbatasan akses ke suatu wilayah memberi dampak yang sangat besar terhadap percepatan pembangunan di suatu daerah.  Di Papua Barat, khususnya di desa-desa pesisir Kepala Burung, terbatasnya sarana perhubungan ke ibukota kecamatan terdekat atau kabupaten, merupakan masalah serius yang membatasi akses dari dan ke desa setempat. Di sisi lain, adanya pemekaran sejumlah wilayah menjadi kabupaten definitive memberi peluang hadirnya pusat pemerintahan baru termasuk beberapa desa di pesisir Kepala Burung. Selama ini sarana transportasi laut menjadi tulang punggung transportasi di pesisir Kepala Burung yang menjangkau sampai ke desa-desa. Pelayaran perintis dan perorangan menggunakan perahu motor memberikan kontribusi signifikan yang sangat membantu masyarakat. Oleh karena itu usaha pemerintah daerah untuk membuka keerisolasian tersebut yaitu dengan merencanakan program pengembangan jalur transportasi darat guna memudahkan akses dari dan ke desa pesisir.  Hal ini cukup beralasan karena percepatan pembangunan di wilayah pesisir yang selama ini terkendala isolasi daerah karena terbatasnya akses.

Dalam rencana pembangunan jangka panjang Papua dan Papua Barat pembukaan ruas-ruas jalan yang merupakan simpul di daerah-daerah yang tadinya belum dihubungkan dengan jalan darat menjadi prioritas.  Pengembangan sejumlah wilayah menjadi kabupaten atau kotamadya mendorong pemerintah untuk merencanakan pembangunan infrastruktur transportasi sehingga memudahkan hubungan antara satu daerah dengan daerah lainnya di Papua.  Menurut prediksi Anggraeni dan Watopa (2004) berdasarkan hasil analisis spasial ternyata bahwa pembukaan jaringan jalan di Tanah Papua akan mencapai total sekitar 2.700 km. Salah satu ruas jalan yang menjadi perhatian pemerintah daerah adalah jalan yang menghubungkan Manokwari-Sorong melalui lembah Kebar.

Di wilayah pesisir, akses ke dan dari Distrik Amberbaken di Manokwari selama ini hanya dapat dilakukan dengan sarana transportasi laut atau bahkan jalan setapak ke desa terdekat yang sudah dihubungkan dengan kendaraan.  Pada tahun 2001 dalam kegiatan bersama Litbang Kehutanan, WWF dan Universitas Negeri Papua dalam survey keanekaragaman hayati di Kawasan Konservasi Pegunungan Tambrau, perjalanan dari Manokwari kami lakukan melalui jalan darat sampai ke SP 10 dan selanjutnya dilanjutkan dengan perahu motor ke Saukorem.  Ini menjadi catatan tersendiri kami sekaligus pengalaman menyisir sebagian wilayah Kepala Burung Papua yang semula terisolasi karena terbatasnya sarana transportasi darat.

Pada bulan Agustus 2011 ini, kami melakukan perjalanan ke tujuh desa yang termasuk dalam wilayah kerja Distrik Amberbaken dengan kendaraan bermotor.  Perjalanan ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat (2500-3000.cc) atau dalam keseharian oleh masyarakat dikenal dengan “RANGERS” dengan waktu tempuh sekitar lima jam perjalanan dengan jarak tempuh 59 km.

Dalam Perjalanan Menuju Amberbaken                                     Tim dalam perjalanan ke Saukorem

Beberapa hal menarik yang menjadi catatan saya antara lain:

  • Kompetisi penggunaan lahan untuk kepentingan lain merupakan peluang pengembangan sektor ekonomi kerakyatan.  Sebagai contoh misalnya perluasan areal industri perkebunan kelapa sawit berskala besar.  Hal ini bukan saja membuka peluang peningkatan produksi minyak sawit di satu sisi, tetapi ikut menciptakan peluang kerja bagi masyarakat setempat. Di sisi lain, perluasan areal perkebunan kelapa sawit harus dilihat sebagai peluang pembangunan yang ramah lingkungan. Hal ini berguna untuk menghilangkan kesan tujuan pengembangan areal perkebunan kelapa sawit yang hanya mengejar keuntungan ekonomi tanpa mempedulikan aspek ekologi dan lingkungan.  Oleh karena itu hal ini perlu direncankan dengan baik, terintegrasi dan memperhatikan aspek lingkungan sehingga menjadi kekuatan yang bersinergi bukan hanya dalam kerangka ekonomi tetapi juga ekologi dan lingkungan.                             Pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit
  • Pembangunan infra struktur berskala besar untuk kepentingan transportasi (misalnya jalan dan jembatan) bukan hanya membuka akses ke sejumlah desa yang selama ini terisolasi, tetapi ketersediaan material (tanah, pasir, batu dan kerikil) memang melimpah di daerah-daerah yang dilalui pembangunan sarana jalan tersebut, sudah selayaknya memberikan keuntungan secara financial kepada masyarakat pemilik ulayat.   Ketersediaan material pembangunan jalan dan jembatan di sejumlah desa bukan hanya memudahkan pembangunan tetapi juga menguntungkan pihak pelaksana pekerjaan karena tidak perlu menghabiskan waktu, tenaga dan dana untuk pengadaan material dimaksud. Artinya bahwa dengan tersedianya material pembangunan jalan, kontraktor sangat terbantu sehingga biaya pengadaan pengadaan tanah, pasir batu dan kerikil dapat ditekan. Karena itu pemanfaatan material dimaksud sudah seyogianya dapat dibayarkan/dikembalikan kepada masyarakat pemilik ulayat supaya selain dapat menikmati fungsi sarana transportasi yang dibangun, mereka juga menerima kompensasi malalui penggunaan material untuk pembangunan yang ada di tanah ulayat mereka.

                                    Material pembangunan di sepanjang sungai

  • Masuknya berbagai program pembangunan di sektor pertanian, sangat membantu masyarakat dalam meningkatkan produksi pertanian (kakao, padi ladang, kacang tanah dll). Sayangnya peningkatan produksi hasil pertanian ini tidak diikuti dengan tersedianya akses untuk pemasaran yang menjamin penjualan hasil produksi pertanian masyarakat.  Masyarakat terkendala pemasaran hasil pertanian yang melimpah dikarenakan keterbatasan akses pasar karena sarana transportasi yang kurang menunjang dan sasaran pemasaran hasil pertanian di kota.  Sudah saatnya program pengolahan pasca panen diperkenalkan kepada masyarakat. Hal ini bertujuan untuk mengurangi usaha penjualan hasil produksi pertanian dalam bentuk segar, memperpanjang masa simpan produk dan peningkatan nilai tambah produksi pertanian yang dihasilkan. Terbatasnya akses ke perkotaan dan peluang pasar yang memadai perlu diperhitungkan dalam usaha meningkatkan produksi pertanian. Kalaupun dapat dijual, biaya produksi yang dikeluarkan tidak sebanding dengan biaya transportasi untuk menjual hasil ke kota. Pengolahan pasca panen juga dapat bermanfaat bagi pengembangan potensi perikanan, dan sumberdaya lainnya seperti daging.  Saat ini biaya perjalanan dari kota Manokwari ke Saukorem sebesar Rp. 200.000 per orang, ini belum termasuk ongkos angkut barang.  Kaitannya dengan hal tersebut, PERDA biaya transportasi darat Manokwari-Saukorem perlu segera diterbitkan sehingga mempermudah penjualan hasil pertanian masyarakat ke ibukota kabupaten.  Transportasi laut yang tersedia selain masih terbatas, juga memerlukan waktu tempuh yang relatif lama sehingga dikuatirkan pemasaran produk segar masyarakat akan terkendala

                                    Kondisi sebagian jalan yang dilalui kendaraan

  • Peran aparat pemerintahan setingkat distrik, tokoh agama dan tokoh masyarakat sangat signifikan dalam menunjang pembangunan di daerah yang pengaruh adat, budaya serta agama masih sangat kuat.  Kerjasama antara aparat pemerintah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap laju pembangunan di daerah-daerah tersebut.   Prinsip pemerintahan “TIGA TUNGKU” yang merupakan bagian yang tak terpisahkan terdiri dari dari aparat pemerintah, tokoh masyarakat dan tokoh agama perlu dipertahankan dengan baik.  Tidak jarang peran tokoh agama dan tokoh masyarakat justru sangat berpengaruh dalam kehidupan kemasyarakatan di daerah-daerah yang baru saja menikmati terbukanya keterisolasian seperti di Amberbaken.  Pihak gereja dan sesepuh atau orang-orang tua di kampung masih dipatuhi dan didengar dengan baik oleh masyarakat.  Karena itu aparat pemerintah (Distrik, Polsek dan Koramil) diharapkan mampu menjaga hubungan baik dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat sehingga dapat menjamin suasana yang kondusif dalam menunjang pembangunan di daerah.

Secara keseluruhan terbukanya keterisolasian dan tersedianya akses ke wilayah-wilayah yang sebelumnya terisolasi sangat berperan dalam mempercepat laju pembangunan di segala bidang.  Peluang pemasaran berbagai hasil produksi di wilayah tersebut serta kemudahan dalam mengakses teknologi akan memacu inovasi berbagai hal penting yang dapat menunjang pembangunan di masyarakat.  Namun demikian kita perlu waspada dengan arus perubahan yang mungkin juga belum mampu diterima masyarakat. Selain itu kondisi ini akan membuka sejumlah peluang pemanfaatan sumberdaya alam yang tidak terkendali.  Oleh karena itu terbukanya akses ke sejumlah wilayah termasuk Pesisir Kepala Burung Papua perlu disikapi dengan serius apalagi dengan terbentuknya Kabupaten Tambrau supaya dapat  memberikan kontribusi terhadap pembangunan daerah sekaligus menunjang program pemberdayaan masyarakat setempat.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: