Tikus tanah sebagai sumber protein hewani alternatif…mungkinkah?


Freddy Pattiselanno ( Lektor Kepala pada Mata Kuliah Budidaya Aneka Ternak dan Satwa di Jurusan Produksi Ternak  Fakultas Peternakan Perikanan & Ilmu Kelautan (FPPK)    Universitas Negeri Papua (UNIPA)  di Manokwari

 

Mendengar tikus sebagai bahan makanan belum begitu biasa bagi sebagian orang.  Tetapi mengkonsumsi tikus sebagai bahan pangan bukanlah hal yang baru bagi sebagian komunitas penduduk asli di Afrika dan beberapa tempat lainnya.

Di Sulawesi Utara, khususnya kelompok etnik Minahasa/Manado tikus hutan merupakan sumber protein hewani alternatif yang sampai saat ini tetap dikonsumsi. Bagi masyarakat di Papua, Tikus tanah atau Bandikut adalah jenis satwa yang intensitas pemanfaatannya sangat tinggi, karena habitatnya yang sangat dekat dengan manusia, biasanya di sekitar kebun.  Disebut tikus tanah karena jenis hewan ini membuat sarangnya di dalam tanah dan jika dilihat, secara morfologi, hewan ini menyerupai tikus.

Apa itu tikus tanah?

Tikus tanah atau bandikut adalah salah satu jenis satwa yang tekah dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat di Papua sebagai sumber protein hewani keluarga.  Dibandingkan species satwa lainnya, bandikut mudah ditangkap karena habitatnya dekat dengan pemukiman (Petocz, 1994), selain itu satwa ini juga tergolong dalam jenis mamalia prolifik, karena cepat berkembang biak, mampu beranak 5-6 kali dalam setahun dengan jumlah anak per kelahiran 3-4 ekor (Crysostomus, 2003).  Hampir di sebagain besar daerah di Papua, masyarakat setempat memanfaatkan satwa ini sebagai salah satu sumber protein hewani alternatif.

Penyebaran bandikut di Papua sangat luas dan ditemukan hampir di seluruh kepulauan Papua (Papua New Guinea dan Papua) serta Australia.  Jenis mamalia ini terdapat hampir di seluruh wilayah Papua dan di beberapa pulau-pulau kecil di sekitarnya termasuk di kawasan Teluk Cenderawasih dan Kepulauan Raja Ampat.  Petocz (1994) menggambarkan bahwa bandikut menghuni spektrum habitat yang meliputi padang rumput, hutan terbuka, hutan sekunder dan di kebun-kebun masyarakat karena dikenal sebagai predator untuk hama kebun seperti keong dan serangga tanpa merusak tanaman perkebunan.  Penyebarannya mulai dari permukaan laut sampai dengan ketinggian 4000 meter di atas permukaan lain di daerah hutan tropis.

Mengapa tikus tanah dikonsumsi?

Umumnya hewan buruan sangat ditentukan oleh banyaknya kandungan daging yang dimilikinya. Sama halnya dengan bandikut, meskipun kisaran bobot badannya bervariasi antara 200-750gr bahkan bisa lebih, persentase karkasanya cukup tinggi.  Persentase karkas bandikut yang ditemukan di dataran rendah Manokwari yaitu di Amban, dan di daerah dataran tinggi Manokwari khususnya di Lembah Kebar dapat dilihat dalam Tabel 1.

Lokasi

Jenis Kelamin

Berat Badan (gr)

Persentase Karkas (%)

Sex

Jumlah

Amban1

6

240–1200

70.4 – 80

 

8

560–760

63.3 – 75

Kebar2

7

455–1670

64.6 – 77.4

 

7

501–1395

61.4 – 74.6

Keterangan: 1Djumadiyadin (2001), 2 Chrysostomus (2003)

Dibandingkan beberapa ternak konvensional yang sudah sering dikonsumsi masyarakat, seperti kambing (40-50%), domba (55%), sapi (50-60%) dan kelinci (49-52%), karkas bandikut relatif lebih tinggi. Hal ini kemungkinan disebabkan karena sebagai hewan omnivora, pakan bandikut selalu tersedia dan mudah didapat di sekitarnya. Jika dilihat menurut kandungan gizi dagingnya, perbandingan komposisi gizi daging bandikut (Chrysostomus, 2003) dan beberapa ternak lainnya ditunjukkan dalam Tabel 2.

Tabel 2.  Perbandingan kandungan gizi daging bandikut dengan beberapa produk daging lainnya

Kandungan gizi

Bandikut

Ayam1

Babi2

Rusa3

Sapi3

Domba3

Air (%)

72.62

68

41,1

70.8

63.6

Protein (%)

18.62

31,5

11,2

24.7

22

17.4

Lemak (%)

3.22

1,3

47,0

3.3

6.5

18.2

Abu

2.63

0,6

Energi ME (kj/100g)

1090

621

545

891

969

Kolesterol (mg/100g)

66

67

72

 Keterangan:  1 Mountney & Parkhurs (1995); 2 Pearson & Tauber (1984); 3 Subekti (1995)

Dapatkah bandikut dimanfaatkan?

UU No 7 / 1976 menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan pangan yaitu makanan dan minuman yang berasal dari tumbuhan, hewan, ikan; baik produk primer ataupun olahan.  Sedangkan Husain (2005) menjelaskan bahwa pangan lokal adalah pangan yang diproduksi setempat (suatu wilayah / daerah tertentu) untuk tujuan ekonomi dan / atau dikonsumsi.   Menurut Prescott-Allen and Prescott-Allen (1982) sedikitnya di 62 Negara, satwa liar memberikan sumbangsih sekitar 20 % sebagai sumber protein hewani masyarakat. Di daerah terpencil Di Amazon misalnya satwa menyediakan sumber kalori kepada masyarakat sekitar dan juga zat-zat nutrisi yang esensil seperti protein dan lemak.  Hal yang sama juga umum ditemukan di benua Afrika (Ntiamoa-Baidu, 1997), Serawak dan Sabah (Benner et al., 2000), Northeastern Luzon, Philipina (Griffin and Griffin, 2000), Sulawesi Tengah (Alvard, 2000) dan Sulawesi Utara (Lee, 2000 dan Clayton dan Milner-Gulland, 2000).

Dengan demikian, kita bisa melihat adanya korelasi antara satwa liar sebagai sumber protein hewani masyarakat dengan aspek ketahanan pangan masyarakat di Papua. Hal ini berkaitan erat dengan pendapat Hoskins (1990) bahwa ketahanan pangan yaitu akses fisik dan ekonomi terhadap pangan untuk setiap individu pada setiap saat dan selalu berkaitan erat dengan ketersediaan pangan tersebut. Sedangkan Suryana (2001) menjelaskan bahwa ketahanan pangan adalah kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pangan anggota keluarga dari waktu ke waktu yang berkelanjutan agar dapat hidup sehat dan mampu melakukan kegiatan sehari-hari secara produktif, yang jumlah, mutu dan ragamnya sesuai dengan lingkungan sosial budaya masyarakat tersebut berdomisili.  Selanjutnya dijelaskan bahwa tiga faktor yang mempengaruhi ketehanan pangan menurut yaitu 1) faktor ketersediaan pangan, 2) faktor kemampuan keluarga/masyarakat dan 3) faktor kemauan masyarakat.

Bagi masyarakat Papua yang tinggal di daerah-daerah terpencil akses terhadap hasil buruan satwa yang selalu tersedia di lingkungan sekitarnya menjadi indikator bahwa aktivitas perburuan merupakan usaha untuk menjaga ketahanan pangan keluarga.  Di sisi lain kondisi ini dapat diartikan sebagai usaha pengeanekaragaman pangan oleh masyarakat setempat, dan menurut Budi (2005) usaha penganekaragaman pangan yaitu proses pemilihan pangan yang tidak tergantung pada satu jenis bahan saja, tetapi terhadap macam-macam bahan pangan mulai dari aspek produksi, pengolaan, distiribusi hingga aspek konsumsi pangan di tingkat rumah tangga.  Pattiselanno (2004) menjelaskan bahwa nilai ekonomi hasil buruan, kemudahan dalam memperolehnya serta terbatasnya akses terhadap daging ternak domestikasi merupakan alasan utama perburuan satwa dianggap sebagai faktor yang memberikan kontribusi terhadap ketahanan pangan masyarakat di daerah pedalaman Papua.

 

Catatan:   Tulisan merupakan bagian dari artikel yang dipresentasikan dalam Seminar Nasional di Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman, 15 Oktober 2011

 

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: