Kembali ke potensi lokal: Menyoal sumber pangan eksotik Papua


Oleh:  Freddy Pattiselanno

Lektor Kepala pada Mata Kuliah Budidaya Aneka Ternak dan Satwa di Jurusan Produksi Ternak Fakultas Peternakan Perikanan & Ilmu Kelautan (FPPK) Universitas Negeri Papua (UNIPA) Manokwari

Pernyataan “act locally think globally” memberikan kesan yang sangat berarti bagi saya karena dalam pemahaman saya, tidak selamanya sesuatu yang bersifat lokal kurang begitu berarti.  Padahal potensi lokal yang ada terkadang ikut memberikan kontribusi signifikan yang mengglobal.  Di sisi lain sesuatu yang mengglobal sering berdampak negative terhadap potensi lokal yang ada.

Sebagai contoh misalnya banyak pendapat menunjukkan bahwa brand kuliner yang mendunia saat ini memberikan dampak yang negatif terhadap perkembangan potensi kuliner lokal.  Walaupun kenyataannya tidak selamanya benar, karena di negara dengan basis wisata kuliner seperti di Thailand, China, Vietnam dan beberapa negara lainnya di Eropa dan Afrika, sajian kuliner unik khas satwa eksotis menjadi pilihan yang sangat menarik minat wisatawan.

Atau lebih sederhana berubahnya pola konsumsi masyarakat dari potensi pangan spesifik lokal yang ada di Papua seperti sagu dan ubi-ubian ke konsumsi beras memberikan dampak negatif terhadap berkembangnya produksi pangan lokal sekaligus menciptakan ketergantungan yang sangat tinggi terhadap produk dari luar daerah seperti beras. Konsekuensinya kita tidak dapat mengelak terhadap bencana kelaparan yang terjadi akibat ulah kita sendiri.

Dengan kondisi seperti ini, saatnya kita memikirkan dan merencanakan dengan baik pemanfaatan potensi lokal sehingga mampu memenuhi kebutuhan pangan lokal di daerah.

Satwa dan Ketahanan Pangan

Pemanfaatan satwa bagi komunitas asli di Papua tidak dapat dipisahkan dari kehidupan tradisional mereka sebagai bagian dari budaya yang diwariskan turun temurun.   Fenomena ini wajar karena itu berburu satwa umumnya dilakukan untuk satu atau kombinasi beberapa tujuan dan salah satu diantaranya yaitu sebagai sumber makanan, nutrisi atau suplai protein hewani. Terbatasnya akses terhadap sumber protein hewani asal ternak, dan tersedianya sumber makanan yang disediakan alam merupakan alasan utama untuk mendapatkan satwa untuk dikonsumsi. Hal ini memperkuat pernyataan beberapa peneliti yang menyatakan bahwa hutan tropis sangat kaya dengan sumberdaya dan komunitas lokal yang tinggal di sekitarnya sangat menggantungkan kehidupan mereka sebagai sumber pangan.

Menurut UU No 7 / 1976 yang dimaksud dengan pangan yaitu makanan dan minuman yang berasal dari tumbuhan, hewan, ikan; baik produk primer ataupun olahan.  Sedangkan ada pernyataan yang menjelaskan bahwa pangan lokal adalah pangan yang diproduksi setempat (suatu wilayah / daerah tertentu) untuk tujuan ekonomi dan / atau dikonsumsi.  Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa hampir di sebagian besar wilayah Papua, pemanfaatan hasil buruan sebagai sumber bahan pengan merupakan hal yang umum.  Dari berbagai hasil studi yang pernah dilakukan di Universitas Negeri Papua terlihat bahwa ada keterkaitan erat antara perburuan satwa dan ketahanan pangan masyarakat setempat.

Hasil kajian yang dilakukan oleh Prescott-Allen and Prescott-Allen (1982) menunjukkan bahwa sedikitnya di 62 negara, satwa liar memberikan sumbangsih sekitar 20 % sebagai sumber protein hewani masyarakat. Di daerah terpencil Di Amazon misalnya satwa menyediakan sumber kalori kepada masyarakat sekitar dan juga zat-zat nutrisi yang esensil seperti protein dan lemak.  Hal yang sama juga umum ditemukan di benua Afrika (Ntiamoa-Baidu, 1997).  Dengan demikian, menjadi jelas bahwa ada korelasi antara satwa liar sebagai sumber protein hewani masyarakat dan ketahanan pangan masyarakat di suatu daerah.

Hoskins (1990) menjelaskan bahwa ketahanan pangan yaitu akses fisik dan ekonomi terhadap pangan untuk setiap individu pada setiap saat dan selalu berkaitan erat dengan ketersediaan pangan tersebut. Menurut Suryana (2001), ketahanan pangan adalah kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pangan anggota keluarga dari waktu ke waktu yang berkelanjutan agar dapat hidup sehat dan mampu melakukan kegiatan sehari-hari secara produktif, yang jumlah, mutu dan ragamnya sesuai dengan lingkungan sosial budaya masyarakat tersebut berdomisili.  Selanjutnya dijelaskan bahwa tiga faktor yang mempengaruhi ketahanan pangan yaitu 1) faktor ketersediaan pangan, 2) faktor kemampuan keluarga/masyarakat dan 3) faktor kemauan masyarakat.

Bagi masyarakat Papua yang tinggal di daerah-daerah terpencil akses terhadap hasil buruan satwa yang selalu tersedia di lingkungan sekitarnya menjadi indikator bahwa sumber protein hewani eksotis ini ikut memberi kontribusi terhadap aspek ketahanan pangan keluarga.

Jenis satwa yang dimanfaatkan sebagai sumber protein hewani

Dari berbagai hasil penelitian yang telah dilakukan di Universitas Negeri Papua, beberapa literatur yang tersedia serta pengamatan pribadi penulis, kekayaan keanekaregaman hayati Papua secara khusus fauna ikut memberikan sumbangsih terhadap aspek ketahanan pangan masyarakat di daerah pedalaman Papua.  Beberapa jenis satwa liar diketahui sebagai sumber bahan pangan masyarakat secara lebih spesifik sebagau sumber protein hewani rumah tangga di pedalaman Papua.  Jenis-jenis satwa yang umumnya dikonsumsi oleh masyarakat antara lain babi hutan, rusa Timor, kuskus, bandikut dan biawak serta beberapa jenis burung.

Babi hutan

Jenis satwa ini mempunyai penyebaran yang cukup luas dan hampir ditemukan  di seluruh wilayah hutan di Papua.  Di beberapa daerah jenis hewan ini sering dianggap sebagai hama karena merusak lahan pertanian atau perkebunan masyarakat.  Tetapi sebagian kelompok masyarakat memanfaatkan hewan ini untuk memperbaiki keturunan ternak babi lokal peliharaan mereka dengan cara mengumbar babi betina lokal di sekitar di hutan dan menarik perhatian babi hutan jantan yang kemudian mengawini betina lokal.  Diyakini hasil persilangan kedua jenis ini mempunyai kualitas daging yang lebih baik.  Pemanfaatan sebagai bahan pangan dilakukan melalui aktivitas perburuan.

Rusa Timor (Cervus timorensis)

Di Papua, Rusa Timor (Cervus timorensis) merupakan jenis rusa yang diintroduksi oleh Belanda tahun 1928 di Merauke, Manokwari dan selanjutnya menyebar ke seluruh wilayah Papua.  Saat ini pemanfaatan rusa di Papua umumnya untuk memenuhi sumber protein hewani keluarga. Selain itu juga  kepala rusa jantan yang telah diofset menjadi hiasan merupakan sumber penerimaan bagi rumah tangga di derah yang merupakan kantong penyebaran rusa.  Ranggah keras saat ini merupakan komoditi yang laku keras untuk keperluan industri rumah tangga.

Pemanfaatan rusa khususnya sebagai sumber protein hewani masyarakat setempat umumnya dengan cara melakukan aktivitas perburuan.  Masyarakat biasanya menggunakan teknik pengolahan daging rusa secara sederhana dalam bentuk daging asar (atau daging asap) dengan cara menggantung daging hasil buruan di atas perapian di dapur.  Cara lainnya dengan cara menggarami daging dan dijemur di bawah panas matahari.

Kuskus  (Phalangeridae)

Kuskus adalah jenis hewan berkantung, merupakan salah satu dari lima famili yang tergolong dalam ordo Diprotodonta yaitu famili Phalangeridae dengan wilayah penyebaran yang luas di Papua meliputi seluruh hutan hujan dataran rendah Papua sampai dengan ketinggian 1500m di atas permukaan laut meliputi daerah Yapen, Biak, Supiori sampai ke Teluk Cenderawasih, sedangkan kuskus berbintik menyebar di sebelah utara Papua terutama sekitar Gunung Cyclop.

Oleh sebagian besar masyarakat asli Papua, kuskus dimanfaatlkan untuk tujuan dikonsumsi.  Hal yang sama juga ditemukan di daerah Minahasa, Sulawesi Utara dan di Timor Barat, Nusa Tenggara Timur.  Karena itu pemanfaatan kuskus untuk dikonsumsi memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pemenuhan konsumsi protein hewani masyarakat di daerah pedalaman Papua.  Salah satu species kuskus yang dikonsumsi adalah Kuskus totol biasa (Spilocuscus maculatus).

Mambruk  (Columbidae)

Burung Mambruk atau Dara mahkota (Goura sp.) tergolong dalam famili Columbidae yang terdiri atas tiga species antara lain Goura victoria (Mambruk raja) mempunyai wilayah penyebaran di bagian utara Papua dan Papua New Guinea, merupakan jenis terbesar dalam kelompok pigeons, G. Cristata dengan penyebaran di wilayah Kepala Burung Papua dan G. Scheepmakeri memiliki wilayah penyebaran di sebelah selatan Papua dan PNG.  Jenis burung ini tergolong satwa yang dilindungi dengan undang-undang karena rentan terhadap kehilangan habitat dan perburannya. Burung Mambruk diburu untuk dikonsumsi karena memiliki berat badan rata-rata 1800 s/d 2400 gram sehingga memiliki kandungan daging yang banyak guna mensuplai kebutuhan protein hewani. Selain itu jenis satwa ini diburu untuk dipelihara sebagai hewan kesenangan (pets) karena keindahan bulunya.

Pemanfaatan yang berkelanjutan

Jika dilihat dari bentuk ancaman yang terjadi pada populasi satwa yang menjadi target perburuan, pemanfaatan yang tidak terkendali merupakan ancaman serius bagi jenis satwa yang dikonsumsi rumah tangga di pedalaman Papua.  Di sisi lain laju pembangunan dan terbukanya keterisolasian wilayah yang sebelumnya merupakan habitat satwa yang menempati relung ekosistem tertentu ikut memicu pemanfaatan yang tidak terkendali. Oleh karena itu memberikan prioritas bagi aspek ketahanan pangan masyarakat tentunya jauh lebih penting tentunya dengan tidak meninggalkan konsep pemanfaatan yang berkelanjutan sehingga dapat mempertahankan keberadaannya di habitat alaminya.

Catatan: Dirangkum dari beberapa hasil penelitian di UNIPA

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • http://ekspresihati.blogspot.fr/  On June 2, 2013 at 12:38 pm

    fantastic post, very informative. I’m wondering why the other specialists of this sector don’t notice this.
    You should continue your writing. I’m sure, you have a great readers’
    base already!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: