Apa yang membuat kearifan tradisional unik untuk konservasi satwa? (What makes traditional wisdom unique for wildlife conservation?)


Freddy Pattiselanno (Lektor Kepala pada Mata Kuliah Budidaya Aneka Ternak & Satwa di Fakultas Peternakan Perikanan & Ilmu Kelautan Universitas Negeri Papua)

Faktor yang mempengaruhi kelestarian satwa

Setelah hasil dari berbagai studi yang pernah dilakukan dikumpulkan, informasi yang tersedia saat ini menunjukkan bahwa perburuan satwa tidak lagi lestari dan fenomena ini disebut dengan “the empty forest” (Redford, 1992).  Mengapa satwa di hutan tropis sangat rentan dengan aktivitas perburuan?  Berbagai kajian yang dilakukan berusaha untuk menjawab pertanyaan tersebut, dan bermacam-macam asumsi dikemukakan untuk mencari akar masalahnya.

Hal mendasar yang dikemukakan antara lain semakin meningkatnya perdagangan satwa komersial (Bodmer at al. 1990; Fa et al. 1995), beralihnya teknik perburuan tradisional ke perburuan modern yang cenderung menggunakan peralatan modern (Stearman and Redford, 1995; Madhusudan dan Karanth, 2002; Pattiselanno, 2006) serta tidak berlakunya aturan, kepercayaan serta tabu yang umumnya dikenal oleh masyarakat tradisional yang berkaitan dengan perburuan satwa (Redford and Robinson, 1987; Madhusudan and Karanth, 2002).

Mengacu pada aturan, kepercayaan atau tabu yang dikenal masyarakat, maka kearifan tradisional (traditional wisdom) didefinisikan sebagai sistem sosial, politik, budaya, ekonomi dan lingkungan dalam lingkup komunitas lokal.  Sifatnya dinamis, berkelanjutan dan dapat diterima.  Kearifan tradisional bisa dalam bentuk hukum, pengetahuan, keahlian, nilai dan sistem sosial dan etika yang hidup dan berkembang dari satu generasi ke generasi berikutnya. Menurut Pattinama (2009) kearifan lokal mengandung norma dan nilai-nilai sosial yang mengatur bagaimana seharusnya membangun keseimbangan antara daya dukung lingkungan alam dengan gaya hidup dan kebutuhan manusia. Lebih lanjut dijelaskan bahwa kearifan lokal lahir dari learning by experience yang tetap dipertahankan dan diturunkan dari generasi ke generasi.

Kearifan tradisional dan perburuan

Tabu yang berkaitan dengan kepercayaan atau praktek budaya dianggap sebagai kearifan tradisional diantara kelompok etnik (Madhusudan and Karanth, 2002).  Dalam hubungannya dengan aktivitas perburuan satwa, tabu yang bersifat sosial secara tradisional merupakan pelindung terhadap praktek pemanfaatan species satwa tertentu yang tidak terkontrol (Hill and Padwe, 2000; Leuwenberg and Robinson, 2000).  Tabu seperti ini dapat menyebar di beberapa wilayah, atau terbatas pada kelompok etnik tertentu, klan ataupun keluarga (Bennet and Robinson, 2000).  Kwapena (1984); Pattiselanno (2006) menjelaskan bahwa beberapa hal yang dianggap sebagai bagian dari kearifan tradisional masyarakat di New Guinea dalam melakukan aktivitas perburuan antara lain: penggunaan alat buru tradisional, kepercayaan tentang adanya tempat keramat dimana aktivitas perburuan tidak diijinkan, larangan perburuan terhadap species satwa tertentu yang dianggap sebagai symbol, emblem atau totem kelompok etnik tertentu dan hal-hal yang tabu menurut agama atau budaya yang mengatur perburuan jenis satwa tertentu.

Dalam kaitannya dengan tabu terhadap jenis satwa yang diburu, Cenderawasih ekor panjang hitam (Astrapia stephaniae) yang merupakan symbol wanita dalam kehidupan budaya di Papua New Guinea dilarang untuk diburu guna diambil bulunya (Kwapena, 1984).   Di Jayapura, kepercayaan bahwa kelompok etnik tertentu berasal dari burung cenderawasih atau kasuari menyebabkan kedua species tersebut tidak diperkenankan untuk diburu (Pangau-Adam & Noske, 2010).

Warisan budaya turun temurun tetap berlangsung yaitu pemanfaatan bahan alam (bamboo, rotan, tanaman yang elastis, kayu) untuk dijadikan panah, busur, perangkap ataupun jerat sederhana (Pattiselanno, 2003).  Menurut Paijmans (1976) material yang digunakan sebagai senjata untuk berburu biasanya diambil dari alam misalnya jerat sederhana yang dibuat dari tali (umumnya dari tanaman berserat Hibiscus, sp, Ficus, sp) dan rotan umumnya sama dipraktekkan di seluruh New Guinea.  Perangkap yang dibuat biasanya diberi umpan sagu, pisang atau kelapa yang penyebarannya merata di New Guinea.

Suatu hal yang umum di seluruh wilayah Papua, penduduk percaya ada tempat tertentu di dalam hutan yang bersifat sacral, karena itu kegiatan perburuan tidak diijinkan dilakukan di tempat itu (Pattiselanno, 2004).  Kepercayaan ini dianut turun temurun dari nenek moyang mereka dan tetap dijalankan sampai saat ini.  Menurut kepercayaan mereka, tempat itu dikhususkan untuk bersemayamnya arwah roh pendahulu mereka.

Dari berbagai studi yang sudah dilakukan, ternyata bahwa tabu dapat juga dimanfaatkan sebagai aspek yang berfungsi untuk mengontrol perburuan satwa. Refisch and Kone (2005) menjelaskan bahwa tabu terhadap jenis makanan tertentu memainkan peranan penting dalam menentukan intensitas hunting misalnya tabu dalam mengkonsunsi daging asal kelompok hewan primate oleh kelompok etnik tertentu di Tai region, Côte d’Ivoire.  Hal yang sama juga dijumpai di Mexico, tabu terhadap makanan asal beberapa hewan tertentu diberlakukan terhadap jenis ular sperti the northern tamandua (Tamandua Mexicana), the silky anteater (Cyclopedes didactylus) dan the northern naked-tailed armadillo (Cabassous centralis) (Leon & Montiel, 2008). Pertimbangan cultural lainnya misalnya “kemiripan kera dengan orang” menjadi alasan utama mengapa pemburu asal Tzeltal dan Mestizo dilarang untuk memburu kera di Mexico (Naranjo et al., 2004).  Hubungan yang erat antara tabu dan agama juga ditemukan diantara kelompok Hindu dan Muslim, dan berperan sangat nyata dalam mengatur perburuan terhadap jenis satwa tertentu di beberapa negara Asia (Bennett & Rao, 2002).

Selanjutnya…….? (Terserah anda)

Dalam konteks Papua, era otonomi khusus sebagai bentuk keberpihakan kepada masyarakat asli Papua, merupakan momentum yang tepat untuk menjaga dan melestarikan praktek kearifan tradisional yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan kehiduan sosial budaya masyarakat Papua. Pemanfaatannya sebagai bagian dari kekayaan budaya yang erat kaitannya dengan kekayaan keanekaragaman budaya lokal yang dimiliki bangsa ini (mega-cultural diversity) sudah saatnya diberlakukan secara luas dan berkelanjutan.

Keputusan Majelis Rakyat Papua (MRP) mendukung kebijakan pemberdayaan di bidang sosial budaya melalui upaya menumbuh kembangkan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat asli Papua (MRP, 2009) merupakan salah satu bentuk legitimasi hukum adat masyarakat di Tanah Papua guna melestarikan praktek kearifan tradisional yang selama ini lebih terkotak-kotak menurut kelompok etnik yang ada.  Secara bertahap dari beberapa studi yang kami lakukan di Tanah Papua ternyata bahwa kegunaan utama kearifan lokal adalah untuk menciptakan keteraturan dan keseimbangan antara kehidupan sosial, budaya dan kelestarian sumberdaya alam. Dalam penerapannya, kearifan tradisional/lokal  bisa dalam bentuk hukum, pengetahuan, keahlian, nilai dan sistem sosial dan etika yang hidup dan berkembang dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebagai bentuk interaksi antara manusia dan satwa, pemanfaatannya oleh manusia merupakan bagian dari siklus alami yang ikut mengatur kondisi populasi satwa di alam.  Dalam konteks aktivitas perburuan hubungan ini juga menggambarkan praktek etika konservasi yang dianut masyarakat setempat sebagai bagian dari pemanfaatan sumberdaya alam yang ada (Pattiselanno, 2008).

Oleh karena itu kearifan tradisional yang merupakan produk lokal masyarakat perlu tetap dipertahankan bahkan harus lebih ditingkatkan.  Potensi ini perlu secara lebih intensif digali dan terus ditingkatkan karena hasil kajian yang dilakukan di tempat lain di belahan dunia lainnya menunjukkan bahwa konservasi satwa dapat dilakukan melalui pendekatan aspek kearifan lokal dan pengetahuan lokal (indigenous knowledge) masyarakat setempat.  Pemanfaatan potensi ini diharapkan menjadi salah satu solusi di tingkat masyarakat adat guna mendukung usaha perlindungan satwa di Papua.

Catatan:

Naskah merupakan review dari berbagai literatur tentang kearifan tradisional yang berkaitan dengan pemanfaatan satwa liar.

Gambar diunduh dari beberapa website

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: