Pembangunan pertanian di pesisir Kepala Burung Papua


Freddy Pattiselanno1, Nerius Sai2, Leo Warmetan2, Yohan Mofu2, Zulkifli2 & Nixon Karubaba3

1Staf Pengajar, 2Mahasiswa Fakultas Peternakan Perikanan &Ilmu Kelautan Universitas Negeri Papua, Manokwari, 3Dinas Pertanian & Tanaman Pangan Kabupaten Manokwari

Keterisolasian Kepala Burung Papua

Dalam rencana pembangunan jangka panjang di Tanah Papua pembukaan ruas-ruas jalan yang merupakan simpul di daerah-daerah yang tadinya belum dihubungkan dengan jalan darat menjadi prioritas. Hal ini cukup beralasan karena irama pembangunan di wilayah paling timur Indonesia ini sangat dinamis sejalan dengan pengembangan sejumlah wilayah menjadi kabupaten baru. Oleh karena itu program pembangunan infrastruktur transportasi menjadi prioritas guna memudahkan hubungan antara satu daerah dengan daerah lainnya di Papua. Menurut prediksi Anggraeni dan Watopa (2004) berdasarkan hasil analisis spasial ternyata bahwa pembukaan jaringan jalan di Tanah Papua akan mencapai total sekitar 2.700 km (Gambar 1). Salah satu ruas jalan yang menjadi perhatian pemerintah daerah adalah jalan yang menghubungkan kota Manokwari dan Sorong di Kepala Burung Papua.

Catatan perjalanan di pesisir Kepala Burung Papua

Pada bulan Agustus 2011, kami melakukan pengamatan dampak akses terhadap pemanfaatan satwa liar dalam kaitannya dengan pemenuhan konsumsi protein hewani masyarakat pesisir.

Di Distrik Amberbaken, aktivitas melaut atau nelayan hanya merupakan pekerjaan sampingan yang berkontribusi sebagai sumber pendapatan alternatif atau tambahan (Gambar 2). Hal ini dikespresikan melalui aktivitas perikanan tangkap yang bersifat tradisional dalam skala rumah tangga. Nelayan melakukan aktivitas penangkapan ikan dengan menggunakan perahu dayung kecil serta alat tangkap sederhana seperti jaring dan kail. Penggunaan alat ini berkaitan erat dengan pemenuhan kebutuhan subsisten yang sekaligus berperan sebagai sumber pendapatan keluarga nelayan.

Jika dikaitkan dengan penjelasan Hoskins (1990) mengenai ketahanan pangan, asumsi kami karena mayoritas masyarakat di Distrik Amberbaken mempunyai akses fisik dan ekonomi yang memadai terhadap sumberdaya perikanan hasil laut menjadi konsumsi utama atau lebih banyak dibanding sumber protein hewani lainnya. Tetapi dari hasil wawancara dan pengamatan selama lebih dari tiga bulan ternyata bahwa sebagian besar responden mengkonsumsi daging satwa (rusa, babi, kuskus dan kangguru) dengan frekuensi yang bervariasi 2,3 dan 4 kali dalam seminggu. Data konsumsi merupakan frekuensi konsumsi daging satwa selama seminggu sebelum responden diwawancarai.

Latar belakang kondisi di lapangan

Berdasarkan kenyataan di lapang, ternyata bahwa hal-hal tersebut berikut ini diperkirakan sebagai penyebab kondisi yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Perluasan areal industri perkebunan skala komersial dari kelompok bisnis nasional seperti perkebunan kelapa sawit bukan hanya berusaha meningkatkan produksi minyak sawit di satu sisi, tetapi juga menyerap tenaga kerja perkebunan dari wilayah pesisir khususnya desa-desa terdekat. Bagi masyarakat setempat perolehan uang tunai dalam waktu singkat akan sangat membantu mereka dalam menghidupi keluarga.

Masuknya berbagai program pembangunan di sektor pertanian, sangat membantu masyarakat dalam meningkatkan produksi pertanian (kakao, padi ladang, kacang tanah dll). Walaupun peningkatan produksi hasil pertanian ini belum diikuti dengan tersedianya akses untuk pemasaran yang menjamin penjualan hasil produksi pertanian masyarakat secara berkelanjutan, terbukanya isolasi dengan sarana jalan yang ada sekarang ini memotivasi masyarakat untuk mengembangkan usaha pertanian mereka.

Potensi ternak khususnya ternak kambing, memainkan peranan yang sangat penting dalam pemenuhan gizi masyarakat sekaligus ikut meningkatkan pendapatan rumah tangga pedesaan. Hal ini ikut mempengaruhi aktivitas sehari-hari masyarakat melalui kegiatan pertanian dalam arti luas, sehingga mengurangi akses terhadap sumberdaya perikanan yang ada.

Hal lainnya, latar belakang sosial budaya masyarakat setempat dengan pola hidup meramu dan menggantugkan hidup dari alam, menciptakan ketergantungan yang sangat tinggi dengan cara mengekstrasi sumberdaya yang ada di alam melalui aktivitas perburuan.

Strategi pengembangan perekonomian rakyat

Dari kenyataan di lapang, maka rencana pengembangan dan pembinaan ekonomi masyarakat di wilayah ini sudah saatnya diarahkan pada usaha-usaha pertanian, terutama pertanian tanaman pangan dan perkebunan.(Usaha Tani Lahan Kering). Selanjutnya pembinaan daerah-daerah produksi ternak yang sudah terbentuk dan pembentukan daerah produksi peternakan yang baru sudah saatnya dipikirkan, karena pada akhirnya produksi peternakan akan mampu menjawab kebutuhan hakiki manusia melalui peningkatan konsumsi protein hewani.

Di bidang perikanan, pengembangan usaha perikanan tangkap dapat dikembangkan sesuai potensi wilayah terutama komoditas-komoditas laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Hal mana ditunjang dengan temuan Allen & Erdmann (2009) bahwa wilayah Kepala Burung Papua memiliki tingkat keragaman species ikan terumbu karang (coral reef fishes) yang cukup tinggi berdasarkan hasil survey terakhir, terdiri dari 1.511 species yang tergolong dalam 451 genera dan 111 families.

Akses pemasaran yang berkelanjutan perlu dipikirkan untuk keberlangsungan rantai produksi dan pemasaran yang pada akhirnya berdampak terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat. Guna membantu masyarakat dalam meningkatkan penerimaan tunai dari hasil usaha dan hasil bumi sarana dan prasarana ekonomi desa seperti pasar perlu dibentuk di desa.

Pada akhirnya, program pengolahan pasca panen sudah saatnya diperkenalkan kepada masyarakat. Hal ini diharapkan mampu memperpanjang masa simpan produk dan peningkatan nilai tambah produksi pertanian yang dihasilkan. Selain itu juga, pengolahan pasca panen dapat bermanfaat bagi pengembangan potensi perikanan, dan sumberdaya lainnya seperti daging asal satwa.

Catatan: Naskah lengkap dapat dibaca di Warta Konservasi Lahan Basah Vol. 20 April 2012

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: