Potensi satwa Sungai Sebyar di Aranday, Teluk Bintuni


Freddy Pattiselanno (Laboratorium Peternakan FPPK UNIPA Manokwari)

Pada tanggal 6-25 Agustus 2005 saya melakukan tugas supervise KKN di Distrik Aranday yang tersebar di lima wilayah desa masing-masing Kampung Baru, Aranday, Kecap, Manunggal Karya dan Sebyar Rejoasari. Satu hal yang menarik dari desa-desa di Distrik Aranday yaitu letaknya sepanjang aliran sungai Aranday.

DAS Sebyar di Distrik Aranday

Distrik Aranday di Kabupaten Teluk Bintuni (salah satu kabupaten pemekaran di Propinsi Papua Barat) terletak pada 132o58, 609’ BT& 02o12, 841 LS terdiri atas 12 desa yang berada di sepanjang pesisir pantai dan sungai. Aranday mempunyai karakteristik khusus karena merupakan daerah berawa yang ditumbuhi hutan mangrove dan sagu sepanjang jalur sungainya dan daerah datar didominasi oleh hutan tropis. Enam diantara dua belas desa yang ada ditemukan sepanjang jalur sungai Sebyar yang hulunya berada di Distrik Merdey (daerah dataran tinggi Manokwari) dan bermuara ke laut (Teluk Bintuni). Dengan kondisi seperti yang disebutkan sebelumnya, angkutan sungai merupakan sarana transportasi utama di Aranday.

Selain berperan penting sebagai sarana transportasi, Sungai Sebyar merupakan harapan tempat masyarakat menggantungkan kehidupannya (sumber air minum, tempat mencuci dan sumber penghasilan). Ketergantungan masyarakat pada sungai terlihat melalui aktivitas harian mereka yang sebagian besar dihabiskan di sekitar sungai.

Harapan di waktu mendatang

Pembangunan wilayah Papua dengan potensi sumber daya alam yang ada mau tidak mau membawa sejumlah dampak baik terhadap kondisi masyarakat maupun lingkungan dalam hal ini ekosistem sekitarnya. Danpak terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat setempat terlihat dengan jelas pada usaha peningkatan pendapatan rumah tangga melalui perdagangan produk-produk pertanian dan sumber daya perairan yang ada.

Di sisi lain, aktivitas masyarakat setempat yang berusaha memenuhi kebutuhan ekonomi terkadang kurang berpihak kepada kelestarian lingkungan sehingga merupakan salah satu pemicu yang mengancam kelestarian sumber daya hayati yang ada. Akhirnya pembangunan yang bertanggung jawab dengan tetap mengakomodasi kebutuhan masyarakat lokal yang menjunjung tinggi aspek kelestarian perlu tetap dijaga bahkan ditingkatkan.

Keterangan: artikel lengkap dipublikasi dalam WKLB Vol. 20 Oktober 2012

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: