“Bur, Nden, Sem Mikindewa Membow”: Pembelajaran tentang kearifan tradisional di Distrik Abun Kabupaten Tambrauw


Oleh: Freddy Pattiselanno*, Yusuf Burako**, Bastian Maryen**, Kartika W. Zohar*** & Stenly Wairara***

* & **Staf Pengajar & Mahasiswa Fakultas Peternakan Perikanan & Ilmu Kelautan UNIPA; ***Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNIPA

KKLD Abun
Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Abun Jamursba-Medi ditetapkan dengan Surat Keputusan Bupati Kabupaten Sorong, Nomor : 142 tahun 2005 dan SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 891/Kpts-III/1999 adalah satu diantara dua belas KKLD di Papua yang dikelola secara aktif dengan tujuan memberdayakan masyarakat setempat dalam usaha pengelolaan sumberdaya pesisir.

Sebagai kelanjutan survey yang kami lakukan di Kepala Burung Papua sejak bulan Agustus 2011 (WKLB Vol. 20 No. 2 Edisi 2012), pada bulan Juli-Agustus 2012 yang lalu, kami melakukan perjalanan ke Distrik Abun untuk mengevaluasi dampak akses terhadap pemanfaatan satwa liar kaitannya dengan pemenuhan konsumsi protein hewani masyarakat pesisir.

Pengamatan kami selama di lapang menunjukkan bahwa masyarakat yang berdomisili di pesisir distrik Abun lebih banyak menggantungkan kehidupan mereka kepada hasil pertanian/perkebunan dengan pola hidup meramu atau melakukan aktivitas perburuan. Hasil buruan bukan saja dimanfatkan untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi rumah tangga, tetapi juga menjadi sumber penghidupan keluarga.


Masa depan KKLD
Pemahaman masarakat tentang peran dan fungsi kawasan tidak perlu dikuatirkan, karena komitmen dan implementasi adat sebagai bagian dari kearifan tradisional mereka khususnya dalam pengelolaan sumberdaya alam, merupakan aturan yang tidak tertulis dan diturunkan dari generasi ke generasi. Karena itu semboyan mereka “Bur, Nden, Sem Mikindewa Membow” = Tanah, hutan dan laut dilindungi untuk hari depan, bukan hanya slogan kosong, tetapi juga merupakan ekspresi pemahaman dan kesepakatan bersama untuk menjaga kelestarian sumberdaya yang ada.

Spiteri dan Nepal (2006) mengungkapkan bahwa meskipun konservasi adalah tujuan utama, usaha yang maksimal sangat dibutuhkan untuk meyakinkan bahwa kompensasi dan insentif adalah tepat sasaran dan diterima oleh mereka dengan pendapatan yang sangat terbatas. Kenyataan menunjukkan bahwa bekerja dengan komunitas lokal membutuhkan komunikasi yang efektif dan hal ini masih jauh dari apa yang diharapkan, Dengan demikian sangat penting untuk memperhatikan tujuan dan sasaran program konservasi sehingga bilamana diperlukan, intervensi dapat dilakukan untuk memahami kebutuhan lokal dan nilai-nilai dari sistem yang berlaku.

Meskipun ada perdebatan yang serius tentang dampak sosial program konservasi dan keberhasilan pendekatan pemberdayaan masyarakat terhadap program konservasi, konsep dan agenda yang jelas dibutuhkan jika kebijakan konservasi dan pemberdayaan masyarakat akan dilaksanakan bersama-sama. Karena itu pemberdayaan pemerintahan dan komunitas setempat untuk pengelolaan sumberdaya yang ada menjadi sangat penting untuk masa depan yang berkelanjutan dan ketahanan pangan masyarakat di KKLD sekitar Kepala Burung Papua.

Catatan: Artikel lengkap dimuat dalam Warta Konservasi Lahan Basah Vol. 21 No. 1, Januari 2013, dapat diunduh dalam website Wetland Indonesia Program

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: