Sudahkah anda tahu? Penggunaan pinang sebagai obat cacing pada ternak


Freddy Pattiselanno (Staf Pengajar di Fakultas Peternakan Perikanan & Ilmu Kelautan Universitas Negeri Papua, Manokwari)

pinangDi Maluku dan Papua pinang termasuk jenis tanaman khas, baik karena penyebarannya yang hampir merata di seluruh wilayah dan kegunaannya sebagai ramuan sirih pinang yang telah memasyarakat.  Tanaman pinang merupakan komoditi tradisional yang mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi di masyarakat konsumennya.  Pinang umumnya ditanam oleh masyarakat secara khusus mereka di kawasan pesisir sebagai tanaman pekarangan.

Bagi masyarakat yang sering memanfaatkannya, pinang dikenal sebagai stimulansia yang dicampur dengan sirih dan kapur atau terkadang dicampur tembakau.  Tetapi bagi peternak atau mereka yang berkecimpung di bidang peternakan walaupun belum dikenal secara meluas, pinang sangat besar khasiatnya, karena kandungan zat kimianya yang dapat digunakan untuk mengobati ternak yang sakit.

Mengenal pinang

Pinang sirih (Areca catechu Linn) merupakan jenis tanaman dengan nilai ekonomis tinggi dibandingkan jenis lainnya.  Penyebaran jenis pinang ini banyak terdapat di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua.

Buah pinang sirih terdiri dari serat kulit yang membungkus bijinya.  Biji pinang mengandung berbagai macam zat kimia antara lain tannin (11,10%), alkaloid (0,56%), lemak (13,90%), air (11,5%), minyak atsiri dan sedikit gula.  Tanin, lemak dan alkaloid merupakan komponen yang memegang peranan penting dan utama.  Alkaloid yang terkandung dalam buah pinang berupa minyak basa keras yang disebut arekolin bersifat kolienergik yang berfungsi memberi efek penenang.  Senyawa inilah yang berguna dalam pengobatan penyakit askariasis pada ternak.

Mengapa ternak terserang cacing?

ascaridiaUmumnya di Indonesia dengan sistem usaha peternakan yang masih bersifat tradisional, sebagian besar waktu ternak diumbar di pekarangan atau sekeliling rumah.  Pada ayam buras misalnya, sebagian besar faktor penyebab terjangkitnya penyakit disebabkan oleh bakteri, virus atau parasit.  Cacing adalah salah penyakit pada ayam buras yang disebabkan oleh parasit yaitu cacing gelang (Ascaradia galli) yang menyebabkan askariasis.

Cacing merupakan endoparasit yang sering menyerang manusia dan ternak, dan Ascaradia galli termasuk dalam klas Nematoda yang hidup dalam saluran pencernaan tepatnya pada dinding usus halus tubuh inangnya.  Kondisi yang seperti ini menyebabkan bahan makanan yang tercerna menjadi molekul-molekul yang lebih sederhana secara kompetitif diserap juga oleh cacing.  Oleh karena itu walaupun ternak mengkonsumsi pakan dalam jumlah yang cukup, pertambahan bobot badannya sangat kecil sekali.

Gejala penyakit

Khusus pada ayam buras, jika terserang penyakit cacing penampilannya tampak pucat, lesu, kurus dengan sayap menggantung serta kondisi yang berangsur-angsur menurun hingga dapat menyebabkan terjadinya kematian.  Gejala akan jelas terlihat setelah dua minggu terjadinya infeksi, dan ini lebih banyak disebabkan karena larva cacing menembus dan merusak mukosa usus.  Infeksi ini dapat menurunkan daya tahan tubuh ayam sehingga mudah terserang penyakit lain sehingga dapat menyebabkan kematian.

Pengendalian penyakit

Cara pengendalian penyakit yang paling mudah adalah dengan memutuskan siklus hidup cacing pada tahap telur.  Cara lain yaitu dengan membuang feces atau kotoran ayam agak jauh dari areal pemeliharaan agar telur-telur cacing tidak masuk ke dalam tubuh.

Pengobatan pada ayam yang sakit ditujukan agar cacing yang berada dalam usus keluar bersama dengan telurnya juga menghindari infeksi cacing pada ayam.

Secara tradisional, pengobatan askariasis dapat dilakukan dengan menggunakan biji pinang sesuai dosis yang tepat.   Atau cara lain dapat dilakukan dengan menambahkan dua persen serbuk tembakau yang dicampur pada pakan yang diberikan selama 3-4 minggu dan diulang selama periode tersebut.

Pemberian 0,5 bagian biji pining sirih ditambah 10 ml air dapat melumpuhkan cacing pada ternak kambing.  Sebaliknya pada ayam buras penggunaan biji pinang untuk mengobati askariasis dapat mengikuti anjuran menurut Suharsono (1994) sebagai berikut:

Umur ayam Dosis pengobatan
1-3 bulan 0,125 bagian + 5 ml air
3-6 bulan 0,250 bagian + 7,5 ml air
> 6 bulan 0,500 bagian + 10 ml air

Dalam pengobatan ini biji pinang yang digunakan adalah biji yang tua dan kering dalam bentuk bubuk.  Pembuatan bubuk biji pinang dapat dilakukan sesuai dengan prosedur berikut ini:

  1. Dosis biji pinang yang akan digunakan ditumbuk hingga halus
  2. Campurkan bubuk biji pinang dengan dosis air yang disarankan
  3. Pemberian dapat dilakukan dengan mencampurkan bubuk biji pinang dengan air minum setiap hari selama periode pengobatan

Di daerah-daerah yang jangkauan terhadap fasilitas kesehatan hewan masih jauh dari cukup pemanfaatan tanaman obat yang banyak tersedia di sekitar kita akan sangat membantu mengobati ternak yang sakit.

Penggunaan biji pinang misalnya, meskipun dikenal sebagai bahan stimulansia bagi masyarakat khususnya di Papua ternyata mempunyai manfaat lain sebagai obat ternak yang terserang cacing.  Dengan tidak mengurangi nilai ekonomis pinang bagi masyarakat, mari kita budayakan penggunaan tanaman obat yang cukup potensial di Papua ini.

Keterangan: Gambar diunduh dari website yang relevan

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: