Pulau-pulau satelit di kawasan Teluk Cenderawasih: pulau kecil dengan potensi yang besar


Freddy Pattiselanno (Universitas Negeri Papua, Manokwari)

Pulau kecil, mengapa penting?

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki 18.306 pulau dengan garis pantai terpanjang nomor empat di dunia, yaitu sepanjang 95.181 km. Sudah banyak diketahui bahwa kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil Indonesia mempunyai sumber daya hayati yang tinggi, dengan kontribusi terbesar untuk pemenuhan kebutuhan protein masyarakat dari perikanan pesisir dan laut.

Dalam kenyataannya, keterbelakangan wilayah pulau-pulau kecil di Indonesia terjadi akibat bekerjanya faktor-faktor fisik alamiah yang menurunkan berbagai kendala untuk pengembangan wilayah. Padahal di sisi lain, gugusan pulau kecil memiliki potensi keragaman hayati yang cukup tinggi. Selain itu juga pengembangan wilayah pulau-pulau kecil di Indonesia masih dilakukan dengan pendekatan yang sama dengan wilayah-wilayah kontinen sebagai dampak dari sentralisasi program pembangunan di masa lalu. Oleh karena itu dengan bergulirnya Otonomi Daerah diharapkan menjadi kunci untuk membuka jalan dalam penerapan model pengembangan wilayah yang khas bagi pulau-pulau kecil.

Diharapkan pengembangan kawasan pulau-pulau kecil merupakan suatu proses yang akan membawa suatu perubahan pada ekosistemnya yang pada akhirnya bermuara pada pengaruh yang positif terhadap lingkungan. Kaitannya dengan hal tersebut, pengembangan pulau-pulau kecil dan perairan sekitarnya harus dikelola secara berkelanjutan dan melibatkan masyarakat dengan memperhatikan keterkaitan ekosistem.

Salah satu potensi pulau-pulau kecil yaitu menyediakan jasa-jasa lingkungan yang tinggi nilai ekonomisnya yaitu sebagai kawasan berlangsungnya kegiatan kepariwisataan, media komunikasi, kawasan rekreasi, konservasi dan jenis pemanfaatan lainnya.

Pulau-pulau kecil tidak hanya memiliki jasa lingkungan bahari tetapi juga jasa lingkungan terestrial yang merupakan satu kesatuan dengan potensi perairan laut. Sebut saja pulau-pulau kecil misalnya TN Komodo (NTT), sebagai lokasi Situs Warisan Dunia (World Herritage Site) merupakan kawasan yang memiliki potensi darat sebagai habitat komodo, serta potensi keindahan perairan lautnya di P. Rinca dan P. Komodo. Atau Pulau Moyo yang terletak di NTB sebagai Taman Buru (TB), dengan kawasan hutan yang masih asri untuk wisata berburu dan wisata bahari (diving). Kondisi Pulau Moyo tersebut dimanfaatkan oleh para pengusaha pariwisata sebagai kawasan “Ekowisata Terestrial”.

Pulau-pulau satelit di Teluk Cenderawasih

Gugusan pulau di teluk Cenderawasih

Gugusan pulau di teluk Cenderawasih

Teluk Cenderawasih adalah satu-satunya taman nasional laut di Papua yang terletak pada 1o43’LS – 3o22’LS dan 134o06o’BT – 135o10’BT dengan luas kawasan sekitar 1.453.500ha dan sekitar 55.800ha dari luasan yang ada adalah luas daratan pada pulau-pulau yang berjumlah kurang lebih 18 pulau.

Sebagai taman nasional laut, sebagian besar potensi biologi yang ada merupakan keanekaragaman sumberdaya pesisir. Walaupun demikian kekayaan fauna daratan memiliki prospektif secara ekologis, sebagai penyebar tanaman di ekosistem hutan hujan tropis maupun sumber protein hewani bagi masyarakat sekitar. Pulau-pulau dalam kawasan ini dikenal juga sebagai habitat asli satwa yang dilindungi seperti kuskus (Phalangeridae). Salah satu gugusan pulau yang merupakan habitat alami kuskus adalah Pulau Ratewi.

Pulau Ratewi dan potensinya

Pulau Arui (Google Earth, 2013)

Pulau Arui (Google Earth, 2013)

Pulau Ratewi memiliki panjang kurang lebih 7 km dengan lebar sekitar 3 km. Topografinya landai bergelombang diselingi kawasan berbukit dengan kemiringan mencapai 50% dan ketinggian antara 10-15 m dpl. Penduduk mendiami daerah pesisir dengan jarak 20 m dari batas pasang naik air laut. Pulau Ratewi dapat ditempuh dengan perahu motor sekitar 2 jam dari kota Nabire yang berjarak sekitar 30 km atau 30 menit dari ibukota distrik Napan Weinami yang berjarak sekitar 7 km.

Pemburu kuskus

Pemburu kuskus

Interaksi masyarakat dengan kawasan konservasi laut ini tampak melalui pemanfaatan sumber daya alam di dalam dan sekitar kawasan yang menimbulkan saling ketergantungan antara masyarakat dengan sumber daya alam yang ada dan salah satunya adalah perburuan satwa. Karena itu pada tahun 2007, kami melakukan penelitian tentang perburuan kuskus dengan dana hibah penelitian dari Direktorat Pendidikan Tinggi (DIKTI) Kontrak Nomor: 011/SP2H/PP/DP2M/III/2007 tanggal 29 Maret 2007

Jenis pakan kuskus

Jenis pakan kuskus

Sebagai kelanjutan penelitian tahun 2007, jika perburuan terus berlangsung tanpa terkendali, kondisi ini akan menempatkan posisi kuskus dalam keadaan terancam. Pola pengembangan ex-situ adalah sala satu opsi yang perlu dipertimbangkan. Karena itu untuk mendukung program konservasi ex-situ, pakan merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan. Pada tahun 2009 kembali dengan dana hibah DIKTI Kontrak Nomor 258/H42/KU/2009, kami melakukan penelitian di lokasi yang sama untuk mengkaji kandungan gizi pakan alami kuskus di habitatnya dan pakan yang diberikan oleh masayarakat yang memelihara kuskus dalam suasana penangkaran.

Apa tindakan selanjutnya?

Dari penelitian yang sudah dilakukan di Pulau Ratewi informasi yang kami peroleh adalah sebagai berikut:
1. Perburuan tetap berlangsung sesuai dengan kebutuhan masyarakat
2. Ada wilayah di dalam hutan yang merupakan tempat sakral dimana
aktivitas perburuan tidak diijinkan
3. Selain faktor pakan ada faktor lain yang ikut mempengaruhi
keberhasilan penangkaran kuskus secara ex-situ
4. Masyarakat memahami pentingnya menjaga kelestarian kuskus
dalam habitat alaminya

Hal tersebut di atas menjadi alasan untuk mengembangkan program konservasi kuskus di Pulau Ratewi dengan mengacu pada jasa lingkungan terestrial yang dimilikinya. Pada awal tahun ini dengan bantuan dana Rufford (http://www.rufford.org/projects/freddy_pattiselanno), kami akan melakukan survey potensi kuskus di berbagai tipe habitat yang ada dengan karakteristiknya guna menunjang pengembangan populasi kuskus di habitat yang sesuai. Selain itu juga kami merencanakan melakukan program edukasi bagi masyarakat guna meningkatkan penyedar tahuan mereka tentang pentingnya menjaga kuskus dan habitat alaminya di Pulau Ratewi. Usulan kegiatan ke DIKTI juga sedang disiapkan untuk mendapatkan hibah kompetitif tahun 2014 guna mendukung kegiatan penelitian secara berkelanjutan.

Dalam penelitian ini mahasiswa Universitas Negeri Papua akan dilibatkan untuk penyelesaian studi mereka. Staf pengajar juga akan terlibat secara aktif dalam kegiatan penelitian dan pengabdian pada masyarakat melalui penyuluhan dan edukasi bagi masyarakat.

Tujuan akhir dari penelitian ini adalah plot percontohan habitat kuskus yang menjamin keberlangsungan populasi kuskus dalam menunjang program konservasi satwa endemik Papua.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: