Napak Tilas Manokwari-Kebar


Oleh: Freddy Pattiselanno (Sub-divisi Peningkatan Kapasitas CoE LPPM Universitas Papua, Manokwari).

Dimana Distrik Kebar?

462

Areal padangan alami

Kebar adalah salah satu distrik yang saat ini masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Tambrauw. Lembah Kebar (132o35’-134o45’BT dan 0o15’-3o25’LS) dikenal karena hampir sebagian besar wilayahnya adalah padang alang-alang dengan beberapa spot merupakan daerah berawa yang berada pada ketinggian 500-600m dpl. Salah satu potensi lembah Kebar adalah populasi rusa yang sebelumnya mendiami hampir sebagian besar lembah Kebar.

Ekosistem lembah Kebar terdiri dari beberapa tipe habitat antara lain:
Hutan primer yang ditumbuhi oleh pohon-pohon seperti Intsia bijuga dengan tutupan kanopi yang didominasi oleh epifit. Semak belukar tumbuh pada kawasan yang kering sedangkan yang tergenang didominasi oleh tumbuhan air dan lumut.

Hutan sekunder, umumnya ditumbuhi oleh pepohonan berdiameter kecil seperti Binuang (Octomeles sumtrana), Matoa (Pometia pinnata) dan Damar (Araucaria sp.). Ada juga jenis kayu lainnya seperti buah-buahan serta penyebaran kelompok epifit dan paku-pakuan ditemukan di areal hutan sekunder di Kebar.

Rawa

Areal rawa di Kebar

Daerah berawa, termasuk juga luasan hutan yang didominasi tumbuhan sagu dan jenis tumbuhan air yang terkoneksi dengan aliran sungai sekaligus merupakan habitat jenis ikan air tawar.

Padang rumput alam, merupakan areal merumput sapi dan rusa, pada spot tertentu didominasi oleh alang-alang (Imperata cyclindrica). Beberapa jenis hijauan pada lapisan bawah padang juga merupakan sumber pakan sapi dan rusa antara lain seperti rumput Melinis, Cynodon, Cyperus, Themeda Phragmites dan jenis lainnya. Ada ditemukan juga jenis kacang-kacangan seperti Centrosema, Leucaena dan Desmodium.

Kegiatan outreach bersama MCC (tahun 2001)

Ternak babi

Ternak babi yang diumbar

Pada tahun 2001 Mennonite Central Committee (MCC) bekerja sama dengan Unit Pengabdian Pada Masyarakat Faperta Uncen membuka kesempatan kepada staf pengajar Faperta Uncen waktu itu untuk mengusulkan program outreach yang berkaitan dengan penghidupan masyarakat di Lembah Kebar. Kami mengajukan usulan kegiatan “Kemungkinan pengembangan usaha peternakan babi rakyat dengan sistem pemeliharaan tradisional di Kecamatan Kebar Kabupaten Manokwari”.

Airstrip

Air strip di Desa Jandurau dari ketinggian

Lokasi kegiatan adalah desa Jandurau di Kebar Timur dan desa Senopi di Kebar Barat. Perjalanan ke Kebar pada waktu itu hanya bisa dilakukan dengan penerbangan Merpati dan MAF. Namun demikian ada masyarakat yang biasa berjalan kaki menuju Kebar. Karena tujuan kegiatan kami di Jandurau, maka kami menggunakan fasilitas penerbangan MAF yang bisa melakukan pendaratan di sana dengan lama penerbangan sekitar 25-30 menit.

Kegiatan dilakukan bersama dengan salah seorang mahasiswa program studi Peternakan sebagai Penelitian skripsinya. Oleh karena itu selain laporan yang dimasukan ke Unit Penelitian dan Unit Pengabdian Pada Masayarakat Faperta UNCEN, kegiatan ini menghasilkan satu skripsi Penelitian mahasiswa Peternakan. Hasil kegiatan ini sudah juga dipublikasikan dalam Suiform Soundings Vol. 4 (1): 19-21, 2004 berjudul “Preliminary study on traditional pig raising by local communities at upland Kebar, Manokwari, West Papua”.

Penelitian Pemanfaatan Rusa Timor (tahun 2003)

Penumpang dan barang diturunkan dari Merpati

Penumpang dan barang diturunkan dari Merpati

Pada tahun 2003 sebagai bagian dari penelitian thesis, kembali saya mengunjungi Kebar untuk yang kedua kalinya. Karena lokasi penelitian saya adalah padang rumput alam di Anjai, maka perjalanan kala itu menggunakan pesawat Merpati yang hanya melayani rute Manokwari-Anjai (atau ibukota kecamatan saat itu).

Fokus Penelitian saat itu ini adalah habitat dan pemanfaatan rusa Timor di Kebar. Kami melakukan identifikasi jenis hijauan di habitat rusa, penilaian kapasitas tampung padang rumput alami di Kebar dan pemanfaatan rusa oleh masyarakat. Penelitian ini mendapat dukungan dana dari SEARCA dan Nagao Natural Environment (NEF) Foundation dengan hasil akhir adalah thesis dengan judul: “Assessment of rusa deer utilization in upland Kebar Grassland, West Papua, Indonesia.

Selain thesis yang dihasilkan Penelitian tersebut juga menghasilkan artikel yang dipublikasikan di jurnal dengan judul “Grazing habitat of the rusa deer (Cervus timorensis) in the upland Kebar, Manokwari, Biodiversitas Vol. 10(3): 134-138, 2009” dan buku yang berjudul “Deer (Cervus timorensis) at the highland Kebar, West Papua, Indonesia, Lambert Academic Publishing, 80 pp”.

Retreat CoE LPPM UNIPA (tahun 2016)

CoE crew in action

Awal Januari 2016 yang lalu sebagai staf CoE LPPM kami melakukan retreat ke Kebar dengan tujuan mengevaluasi program Kerja CoE 2015 dan mempersiapkan program kerja 2016. Perjalanan Manokwari-Kebar sejauh 190-an km ditempuh dengan menggunakan kendaraan selama 5 sampai 6 jam perjalanan.

Pembangunan jalan Manokwari-Kebar

Pembangunan jalan Manokwari-Kebar

Pengalaman baru bagi saya, karena perjalanan yang dilakukan dalam dua kegiatan sebelumnya dilakukan dengan menggunakan pesawat udara. Melewati jalan darat dengan berkendaraan memberikan pengalaman tersendiri karena bukan hanya menikmati pemandangan sepanjang perjalanan tetapi juga selepas distrik Mubrani jalanan yang dilewati cukup menantang untuk mencapai Kebar.

Dari perjalanan ini kami boleh melakukan evaluasi kegiatan CoE 2015 dan mempersiapkan program Kerja 2016. Selain itu artikel ini merupakan salah satu hasil dari perjalanan terkini ke Kebar.

Sepotong catatan yang tertinggal

Ternak sapi milik masyarakat di Anjai

Ternak sapi milik masyarakat di Anjai

Kebar masih seperti yang dulu, tetapi terbukanya hubungan darat Manokwari-Kebar merupakan kesempatan yang baik untuk memicu perekonomian masyarakat di lembah. Di sisi lain program pemerintah yang ada khususnya untuk pengembangan Kebar sebagai lumbung ternak sapi tidak berjalan seperti yang diharapkan sehingga apa yang selama ini digembar-gemborkan tidak ada wujudnya.
Potensi wisata pemandangan alam (lembah Kebar) serta pemandian air panas di Atai, sudah seharusnya dioptimalkan sebagai salah satu tujuan wisata alam Kebar.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: