Monthly Archives: April 2016

Menyoal potensi konflik penyelenggaraan “Provinsi Konservasi” Papua Barat


Agustina Y.S. Arobaya (Kepala Laboratorium Konservasi dan Lingkungan) & Freddy Pattiselanno (Peneliti pada Divisi Pembangunan Berkelanjutan – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat)  Universitas Papua Manokwari
 

Mengapa harus menjadi Provinsi Konservasi Papua Barat?

Laporan resmi dari Biro Pusat Statistik menunjukkan bahwa sampai dengan Maret 2013, Papua Barat termasuk dalam delapan provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi (26.7%) kedua setelah Provinsi Papua (31.13%).

Kemiskinan terkadang mendorong manusia untuk memanfaatkan kekayaan sumberdaya alam secara berlebihan untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Karena itu pemerintah sangat bergantung pada industri ekstraktif hasil hutan kayu maupun hasil hutan bukan kayu – HHBK (rotan, getah damar, minyak atsiri dari masoi, gaharu dan kulit lawang). Selain itu industri migas, hak pengusahaan hutan dan pertanian modern menjadi modal sumberdaya alam untuk peningkatan pendapatan daerah.

Continue reading

%d bloggers like this: