SERIUS = Satwa Endemik Papua Rentan Ijin Usaha Ilegal dan Selundupan


Freddy Pattiselanno (Sub-laboartorium Budidaya Satwa Harapan, Fakultas Peternakan UNIPA)

Pendapat berbagai pihak tentang penyelundupan satwa endemik Papua ke luar daerah yang terjadi di Sorong ramai diberitakan di media masa. Selain itu juga harapan akan penyelamatan Cenderawasih sebagai hewan sakral masyarakat Papua sempat mengemuka. Pernyataan-pernyatan dan komentar yang diberikan merupakan masukan berguna bagi pihak-pihak yang terkait dengan perlindungan dan penyelamatan satwa untuk ditindak lanjuti. Mungkin saja hal itu sudah berlangsung lama tetapi baru saja terungkap, sehingga peran aktif semua pihak diperlukan untuk penanganan masalah ini secara serius. Sebenarnya kegiatan ilegal yang dilakukan terhadap satwa liar disebabkan karena nilai yang melekat pada satwa itu sendiri.

Nilai satwa liar
Dari literatur lama Baliey (1984) dan Dassman (1964) yang merupakan “kitab suci manajemen satwa” dan selama ini menjadi acuan bagi pengelolaan satwa liar hampir di seluruh dunia, pemanfaatan satwa dalam berbagai bentuk umumnya didasarkan pada nilai satwa yang dapat diklasifikasikan atas (1) nilai komersial, (2) nilai rekreasi/hiburan, (3) nilai estetika, (4) nilai ilmu, biologi atau pendidikan, (5) nilai sosial dan (6) nilai negatif.

Kuskus hasil buruan yang akan dijual

Kuskus hasil buruan yang akan dijual

Berdasarkan kriteria tersebut, jelas bahwa usaha ilegal yang dilakukan oleh berbagai pihak dikarenakan nilai komersial satwa yang diperdagangkan itu tinggi. Satwa endemik Papua mempunyai nilai jual yang tinggi karena keunikan atau kekhasan yang dimilikinya antara lain warna bulu yang indah, suara atau siulan yang menarik dan bahkan ada spesies tertentu bagi sebagian konsumen diyakini memiliki khasiat yang cukup tinggi sebagai obat. Tidak heran jika banyak pihak ingin mendapatkan keuntungan berlebihan dari hasil penjualan ilegal. Padahal pemanfaatan satwa ini dengan jelas telah diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar.

Faktor yang mempengaruhi pemanfaatan satwa
Berbagai alasan telah diketahui sebagai pemicu pemanfaatan satwa yang tidak terkendali dan berdampak terhadap populasi satwa di alam. Berdasarkan kondisi di Kepala Burung Papua saat ini kami mengidentifikasi hal-hal sebagai berikut yang mempengaruhi pemanfaatan satwa yang tidak terkendali.

Peta Rencana Pengembangan Ruas Jalan Baru di Tanah Papua

Peta Rencana Pengembangan Ruas Jalan Baru di Tanah Papua

Terbukanya akses ke kawasan hutan yang selama ini terlindungi sebagai akibat pembangunan ruas jalan baru yang menghubungkan berbagai tempat di Tanah Papua serta fragmentasi wilayah hutan akibat logging, pertanian modern, pertambangan merupakan faktor utama yang mempengaruhi tingkat eksploitasi satwa di habitat alaminya. Jaringan jalan yang terbentuk tidak hanya membawa para pemburu dan pengumpul lebih dekat ke sumber populasi yang ada, tetapi juga menghubungkan wilayah yang selama ini merupakan kantong-kantong satwa yang terisolasi langsung ke pasar. Ada banyak pengalaman yang dialami berbagai daerah lain di Indonesia seperti jalan trans-Sulawesi, trans-Sumatera yang meningkatkan importasi satwa dari daerah asalnya ke luar daerah.

Pemasangan jerat untuk berburu

Pemasangan jerat untuk berburu

Tidak itu saja, kajian yang kami lakukan di sepanjang pesisir Kepala Burung (Distrik Amberbaken dan Abun), menunjukan bahwa terbukanya akses memberikan peluang interaksi antara masyarakat setempat dengan orang dari luar (pedagang pengumpul) yang menawarkan kerja sama dengan sedikit tips dan bantuan atau bahkan uang tunai sehingga warga setempat bersedia mengumpulkan spesies satwa dengan nilai jual tinggi dan menjualnya kepada mereka yang memberikan bantuan. Bantuan yang diberikan dapat dalam bentuk uang tunai, sembako, peluru untuk senapan berburu, nilon untuk membuat jerat. Tujuannya jelas, yaitu menerima tawaran uang tunai yang diberikan pedagang pengumpul untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka.

Akibat interaksi yang terjadi, masyarakat setempat mulai meninggalkan praktek-praktek “kearifan tradisional” yang selama ini menjadi pelindung bagi satwa yang ada. Hilangnya kawasan hutan sakral atau “pamali” akibat pembukaan jalan dan pembangunan memberikan kesempatan pemanfaatan satwa secara luas di mana saja. Larangan berburu satwa tertentu, pengaturan waktu berburu dan penggunaan alat berburu tradisional untuk berburu saat ini sudah mulai ditinggalkan dan aturan-aturan tradisional pemanfaatan sumber daya tidak lagi diketahui oleh generasi muda saat ini.

Penggunaan alat buru tradisional dan modern dalam perburuan

Penggunaan alat buru tradisional dan modern dalam perburuan

Kemajuan tekonologi dan beralihnya penggunaan tekonologi berburu dari perburuan tradisional ke perburuan modern seperti penggunaan senapan buru, lampu portable bahkan kendaraan bermotor menjadikan perburuan semakin efisien yang pada akhirnya meningkatkan hasil buruan masyarakat meningkat dua atau bahkan tiga kali lipat.

Apa yang harus dilakukan?
Rentannya satwa Papua terhadap kegiatan ilegal sudah seyogianya menjadi perhatian semua pihak termasuk Balai Konservasi Sumber Daya Alam Hayati (BKSDAH) dan Dinas Kehutanan sebagai lembaga yang berkompetensi. Semua aktivitas yang berkaitan dengan pemanfaatan dan pemindahan flora-fauna dari habitat alaminya diatur dengan undang-undang. Oleh karena itu hal yang bertentangan dengan undang-undang perlu diselesaikan secara hukum. Peraturan dan perundang-undangan yang dapat digunakan sebagai dasar hukum antara lain UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Peraturan Pemerintah No. 134 dan 266 Tahun 1931 tentang Perlindungan Binatang Liar, Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan SatwaLiar.

Dalam diskusi informal dengan para pemburu dan pedagang perantara yang beroperasi di Amberbaken dan Abun, terungkap bahwa mereka mengetahui spesies yang dilindungi. Yang diperlukan saat ini adalah peningkatan kesadaran terhadap pentingnya menjaga kelestarian satwa liar. Bekerja sama dengan masyarakat, usaha penyuluhan dan mengajak masyarakat untuk ikut menjaga satwa yang dilindungi adalah hal yang urgen dilakukan saat ini. Patroli dan monitoring secara intensif juga perlu dilakukan oleh instansi teknis terkait.

Pada prinsipnya masyarakat membutuhkan uang tunai untuk berbagai kebutuhan rumah tangga mereka. Karena itu tawaran para pedagang perantara cukup menggiurkan sebagai sumber pendapatan alternatif. Padahal harga jual masyarakat kepada pedagang sangat kecil dibanding dari harga jual pedagang perantara kepada “penadah” atau mereka yang nanti menjual ke pasar gelap dengan harga berlipat kali ganda.

Pengembangan ekonomi kreatif di tingkat masyarakat

Pengembangan ekonomi kreatif di tingkat masyarakat

Oleh karena itu, menciptakan aktivitas ekonomi alternatif di pedesaan sebagai sumber pendapatan tunai rumah tangga perlu dilakukan sehingga ketergantungan terhadap pemanfaatan sumberdaya alam sedapat mungkin dikurangi. Menggalakkan usaha kecil mikro dan menengah di bidang pertanian dalam arti luas merupakan solusi yang cukup menggembirakan.

Pendidikan bagi anak-anak

Pendidikan bagi anak-anak

Saat ini Universitas Papua melalui “Center of Excellence for Sustainable Development” yang langsung berada di bawah koordinasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat sudah memasuki tahun ke-2 program pendampingan dan pemberdayaan masyarakat di Kampung Saubeba, Wau dan Warmandi Distrik Abun untuk membangun desa sekaligus aktif melakukan program konservasi Penyu Belimbing. Kegiatan yang dilakukan adalah penanaman sayur dan pemeliharaan ayam kampung, pengolahan pasca panen hasil pertanian dan perburuan masyarakat, rumah belajar untuk meningkatkan jumlah anak melek huruf dan angka, menjaga kebersihan lingkungan dan kelestarian alam melalui penyediaan tempat pembuangan sampah dan kemah sahabat penyu bagi anak-anak SD. Hal lain yang dilakukan juga adalah penyuluhan kesehatan dan pemeriksaan kesehatan bagi masyarakat. Semua kegiatan dilakukan melalui kerjasama dengan pemerintah daerah dan lembaga swadaya masyarakat yang aktif bekerja di wilayah ini.

Tidak ada kata terlambat untuk sesuatu hal yang bertujuan mulia. Marilah kita sama-sama bekerja untuk membangun masyarakat tetapi juga ikut menjaga kelestarian satwa liar.

Catatan:
Artikel dimuat dalam Media Papua, 3 Mei 2016; Gambar anak sekolah diunduh dari web yang relevan

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: