“Rumah Belajar” untuk konservasi: Pengalaman dari pesisir Kepala Burung Papua


Freddy Pattiselanno (Supervisi KKN UNIPA di Distrik Abun 2016; Pusat Unggulan untuk Pembangunan Berkelanjutan, LPPM UNIPA, Manokwari)

Paragraf pembuka

Sebagian kita tentu sudah pernah mendengar tentang “Rumah Singgah” atau rumah terbuka (Open House). Istilah ini pernah popular beberapa tahun yang lalu seiring dengan gencarnya upaya untuk menangani anak jalanan yang jumlahnya semakin hari semakin bertambah di kota-kota besar di Indonesia.

Skets Rumah Singgah

Skets Rumah Singgah

Rumah Singgah adalah suatu tempat “antara” yang dipersiapkan untuk anak-anak jalanan dengan pihak-pihak yang akan membantu mereka dalam kehidupan keseharian mereka. Di rumah Singgah berlangsung proses informal yang memberikan suasana resosialisasi anak jalanan terhadap sistem nilai dan norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Jika demikian apakah konsep rumah singgah sama dengan rumah belajar? Apa itu rumah belajar?

Mengenal lebih dekat rumah belajar

Skets Rumah Belajar

Skets Rumah Belajar

Belum banyak orang yang mendengar atau bahkan mengerti tentang konsep rumah belajar. Hampir sama dengan rumah singgah, prinsip pelaksanaan rumah belajar yaitu ingin menjangkau anak sekolah dan anak usia sekolah untuk belajar bersama di luar jam sekolah di suatu tempat yang dinamakan rumah belajar. Di rumah belajar, anak-anak belajar sambil bermain dengan kakak pengasuh yang mendampingi mereka selama 2-3 jam proses belajar mengajar non-formal tersebut.

Rumah belajar untuk konservasi

Konsep rumah belajar untuk konservasi pertama kali diperkenalkan melalui program pendampingan Universitas Papua berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan masyarakat pada tahun 2010 dalam kaitannya dengan upaya pemberdayaan masyarakat dalam mendukung keberlanjutan upaya konservasi penyu belimbing di Kampung Saubeba, Warmandi, dan Wau di Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw.

Dari hasil survey ternyata kebutuhan masyarakat untuk pemenuhan pendidikan anak-anak usia sekolah dan anak sekolah masih sangat diperlukan. Rancangan awal program adalah melakukan intervensi bidang pendidikan di Distrik Abun melalui program pendidikan non-formal “rumah belajar”, yaitu penyediaan fasilitas bantuan pengajaran membaca dan matematika seusai jam sekolah.

Belajar mandiri

Belajar mandiri

Program ini bertujuan untuk mendukung keterbatasan waktu dan tenaga di sektor pendidikan formal. Selain itu, orang tua yang mempunyai anak banyak yang buta huruf. Kegiatan yang dilakukan oleh pendamping selama pengabdian adalah mengajar setiap sore pukul 15.00-18.00. Materi yang diajarkan pada pendidikan non-formal adalah pengenalan huruf abjad, pengenalan angka satuan hingga ratusan, belajar menghitung, belajar menggambar, belajar melukis, belajar mewarnai gambar, belajar menulis, serta menyusun angka dan huruf.

Display buku di rumah belajar

Display buku di rumah belajar

Untuk mendukung kegiatan belajar mengajar UNIPA melengkapi fasilitas rumah belajar, buku gambar, buku cerita, buku bacaan, buku cetak untuk materi, poster angka dan huruf, gambar-gambar hewan yang dilindung di Indonesia dan daerah Abun, menyiapkan modul, pensil warna, bolpen, spidol, peta dunia dan alat perlengkapan belajar lainya.

Keberlanjutan Rumah Belajar untuk Konservasi

Kondisi dinding di rumah belajar

Kondisi dinding di rumah belajar

Antusiasme masyarakat dan dampak positif kegiatan rumah belajar kemudian mengarahkan rumah belajar sebagai kegiatan berkelanjutan dalam rangka mendukung pemberdayaan masyarakat di pesisir Kepala Burung sebagai penunjang usaha konservasi penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Selain program pendampingan, Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa Universitas Papua menjadi agenda tetap dan sudah berlangsung selama tiga tahun terakhir sebagai ujung tombak pelaksanaan “Rumah Belajar Untuk Konservasi”.

Belajar bersama mahasiswa KKN

Belajar bersama mahasiswa KKN

Dalam kegiatan KKN Juni-Agustus 2016 yang lalu, rumah belajar merupakan program tetap yang dipersiapkan dan diusulkan oleh masyarakat sebagai program berkelanjutan pemberdayaan masyarakat pesisir di Kepala Burung Papua. Dukungan penuh dari orang tua serta warga gereja sangat mebantu dalam pelaksanaan kegiatan ini. Minat anak-anak juga memberikan semangat tersendiri bagi para mahasiswa dalam melakukan kegiatan ini.

Antusiasme anak-anak untuk belajar

Antusiasme anak-anak untuk belajar

Berbagai aktivitas belajar sambil bermain bersama dengan anak-anak dilakukan di posko KKN. Anak-anak sangat antusias dalam mengikuti kegiatan belajar. Selama proses belajar mengajar, kepada anak-anak juga dibekali dengan pengetahuan akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta melindungi penyu belimbing.

Setiap hari Minggu program pendidikan juga merupakan bagian dalam ibadah mingguan melalui kegiatan “Sekolah Minggu.” Pendekatan spiritual yang masih sangat kuat pengaruhnya di kampung-kampung memainkan peranan yang sangat signifikan untuk menanamkan pemahaman kepada anak-anak betapa pentingnya menghargai kehidupan mahluk hidup lainnya serta menjaga lingkungan dimana kita tinggal.

Catatan: Gambar skets diambil dari website yang relevan

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: