Hakekat berdoa (The essence of pray)


Freddy Pattiselanno (Urusan Pembinaan Jemaat GKI Petrus Amban Manokwari)

Pembacaan Alkitab: Lukas 22:39-46

Yesus berdoa di Getsemani

Dalam minggu kesengsaraan ini kita merenungkan bagian firman Tuhan tentang pergumulan Tuhan Yesus di Getsemani. Sebagai hal yang biasanya dilakukan, Getsemani merupakan tempat Yesus dan murid-murid mampir untuk beristirahat sekaligus berdoa (lihat ayat 40 dan 41).

Penjelasan ayat pembacaan

Bagian selanjutnya dari pembacaan ini lebih menekankan pada hakekat berdoa. Yesus sendiri berdoa, tetapi Ia menyarankan murid-muridNya juga berdoa. Pokok doa dari Yesus memohon supaya cawan yang harus diminum dilalukan dari padaNya. Bagian ini sekaligus mau menggambarkan kepada kita bahwa penderitaan Yesus sangat berat, penuh kesengsaraan dan ketakutan yang luar biasa.

Ayat 43 menjelaskan kepada kita bagaimana Dia dikuatkan oleh malaikat sehingga Yesus semakin sungguh-sungguh berdoa (ayat 44) dan keringatnya tampak seperti tetesan darah. Kedua ayat ini benar-benar menunjukan diri Yesus sebagai manusia yang benar-benar mengalami ketakutan yang luar biasa.

Kalau kita kembali membaca ayat 40, sebelum Yesus sendiri berdoa, Ia menyarankan murid-muridnya untuk beroda supaya mereka jangan jatuh dalam pencobaan. Hal yang menarik dan sangat luar biasa yaitu pengakuan Yesus dalam permohonan doanya bagian terakhir dari ayat 42 “tetapi bukanlah kehendak-Ku melainkan kehendak-Mu lah yang jadi”.

Dari sisi keilahian-Nya Yesus menyadari bahwa “cawan pahit” itu harus diminumNya untuk menyelamatkan manusia yang berdosa. Bandingkan dengan II Korintus 5:21, “Ia yang adalah anak Allah yang tidak berdosa telah dibuat menjadi berdosa demi keselamatan umat manusia.”

Dua hal penting yang patut kita perhatikan dari pembacaan ini adalah sebagai berikut:
1. Yesus berdoa dengan sungguh-sungguh sehingga malaekat mendatangiNya untuk memberi kekuatan bagiNya. Yesus menyadari bahwa jawaban Allah atas doaNya adalah mutlak, dan tidak dapat ditawar. Ia menyerahkan supaya kehendak Allah yang berlaku.
2. Murid-murid tidak sanggup menahan duka cita mereka sehingga mereka tidak sanggup berdoa dengan baik dan mereka jatuh tertidur. Mereka tidak sanggup berjaga-jaga dengan Yesus.

Aplikasi Firman Tuhan

Cara Tuhan menjawab doa

Begitu banyak orang Kristen yang meragukan kuasa doa. Ada yang sudah berdoa tetapi masalah tetap ada saja. Ada yang sudah berdoa tetapi mengalami kegagalan. Ada yang sudah berdoa, tetapi mujizat beulm pernah terjadi, ada yang sudah berdoa tetapi belum ada jawaban atas doa-doa yang sudah disampaikan. Kita sudah berdoa tetapi tidak tidak terjadi apa-apa, bahkan suasana malah bertambah buruk.

Sering terjadi, setelah kita berdoa, justru yang terjadi tidak seperti yang kita harapkan. Muncul pertanyaan dalam diri kita, “benarkah doa sudah kehilangan kuasanya?” Benarkah doa adalah hal yang sia-sia? Kita mulai meragukan kuasa doa. Kita mulai meragukan kuasa Tuhan di dalam hidup kita.

Menanti jawaban doa

Dalam keadaan seperti ini, barangkali kita perlu merubah cara pandang kita tentang doa. Kita harus sadar bahwa doa bukanlah penyelesaian secara instan. Doa adalah belajar menunggu waktu Tuhan digenapi secara sempurna dalam hidup kita. Dalam Alkitab contoh yang bisa kita baca adalah Abraham yang harus menunggu 25 tahun lamanya untuk menantikan janji Allah.

Dalam konteks ini, kita harus memahami bahwa doa bukanlah alat untuk merubah keadaan dalam waktu sekejap. Doa bukanlah jawaban yang dapat kita peroleh secepat kilat.

Perspektif kita dalam berdoa yaitu supaya Allah mengabulkan permohonan kita, melepaskan beban yang berat, dengan cara kita atau menurut kehendak kita. Kita lupa bahwa dalam dalm doa kita hanya memohon, dan jawaban doa datangnya dari Tuhan. Kita kemudian mengancam akan meninggalkan pelayanan atau tidak lagi ke gereja dan meninggalkan persekutuan jika Tuhan tidak segera mengabulkan permohonan doa kita menurut waktu yang kita inginkan. Sehingga terkadang doa menjadi “todongan pistol” kepada Allah agar Dia mau mengikuti kemauan kita.

Di Taman Getsemani, di tengah pergulatan berat menjelang maut merengutNya di kayu salib (ay. 44), Yesus meneladankan hakikat doa yang sesungguhnya. Jika kita mencermatinya, di dalam doa-Nya terasa adanya ketegangan antara kehendak-Nya dan kehendak Bapa. Ada saat ketika Yesus ingin sekali melepaskan cawan yang pahit itu (ay. 42a). Namun, kalimat yang mengiringinya, “tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (ay. 42b) mengajarkan bahwa Ia takluk pada kehendak Bapa di Sorga sebagai jawaban atas DoaNya.

Jawaban doa

Dalam doa, kita juga perlu bersikap penuh kerelaan untuk tetap taat kepada kehendak Bapa atas jawaban doa-doa kita. Tuhan tidak pernah merancangkan kecelakaan bagi kita, tetapi rancanganNya dalah rancangan damai sejahtera untuk memberikan hari depan yang penuh harapan bagi kita (Yeremia 29:11).

Doa bukanlah sarana untuk memaksa Tuhan menuruti keinginan kita, sebaliknya doa adalah ekspresi penyerahan diri kita kepada Tuhan dan membiarkan kehendak-Nya yang terjadi dalam hidup kita. Doa Yesus di taman Getsemani adalah teladan doa yang didasarkan atas penyerahan diri terhadap kehendak Bapa.

Kalau segala sesuatu terjadi tidak seperti yang kita harapkan, walaupun kita sudah berdoa, ada baiknya kita belajar untuk memahami bahwa Tuhan punya rencana lain yang lebih baik bagi hidup kita. Ingatlah bahwa tidak ada rencana Tuhan yang gagal (Ayub 42:2)

Memahami cara Tuhan menjawab doa

Tidak semua doa kita selalu dikabulkan oleh Tuhan. Paulus pernah berdoa agar Tuhan mengambil duri dalam dirinya, namun Tuhan justru berkata bahwa kasih karuniaNya sudah cukup baginya. Kadangkala kita memang tidak bisa memahami mengapa Tuhan sampai tidak mengabulkan doa kita. Namun kita harus yakin bahwa Tuhan tahu yang terbaik bagi kita. Dia Bapa yang baik yang selalu memberikan yang terbaik kepada anak-anak-Nya. Janglah pernah terpikir untuk meragukan kuasa doa kalau kita memiliki konsep yang benar tentang doa.

Masa pra-Paskah mengenang sengsara Tuhan Yesus kiranya mau mambantu kita memahami paradigma baru tentang hal berdoa. Kita hanya memohon, Tuhan yang menentukan apa yang terbaik bagi permohonan doa kita. Berdoa adalah ekspresi penyerahan diri kita kepada Tuhan dan membiarkan kehendak-Nya yang terjadi atas jawaban doa dan dalam hidup kita. “Tuhan memberkati kita dengan firman-Nya”

Catatan: Gambar diunduh dari web yang relevan

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: