Traveling Edukasi: Belajar sambil menikmati keindahan alam Pegunungan Arfak


Freddy Pattiselanno (Pusat Penelitian Keanekaragaman Hayati Universitas Papua, Manokwari)

Untuk apa traveling?

Melakukan traveling adalah hal yang sangat menggembirakan, dan tidak jarang orang melakukan traveling dengan destinasi tertentu karena keunikan yang dimiliki tempat tersebut. Namun perjalanan kami pada bulan Juni 2017 yang lalu ke Pegunungan Arfak (Pegaf), bukan karena ingin menikmati keunikan tempat yang kami tuju, tetapi melakukan penelitian kerjasama antara Pusat Penelitian Keanekaragaman Hayati (PPKH) Universitas Papua (UNIPA) di Manowari dengan Royal Botanical Garden (RBG) KEW di London. Oleh karena itu tidak seperti program travel  yang biasanya ditawarkan, perjalanan kami ke Pegaf kurang begitu memperhatikan, apa yang menjadi focus utama para “traveler” (keindahan alam, budaya local, kuliner setempat dan atraksi lainnya), tetapi tertuju pada jenis tanaman yang diteliti dan penyebarannya ada di wilayah Pegaf.

Pegunungan Arfak, di mana?

Kabupaten Pegunungan Arfak memiliki luas 2,774 km² – menurut UU No. 24 Tahun 2012, dimekarkan dari kabupaten induk Manokwari pada 25 Oktober 2012 dengan ibukotanya terletak di Anggi. Kabupaten ini terdiri dari 10 kecamatan dengan jumlah penduduk 23.877 jiwa merupakan titik tertinggi di Provinsi Papua Barat yang populer untuk pendakian dan merupakan bagian dari Gunung Arfak.

Sebagai salah satu destinasi wisata di Papua Barat, memang kepopuleran Pegaf belum dapat menyamai Raja Ampat. Tetapi dengan keunikan alam pegunungannya , Pegaf menyimpan sejuta potensi ekowisata misalnya daerah Mokwam yang terkenal dengan lokasi pemantauan burung Pintar (Bower Bird) juga burung Cenderawasih. Selain itu juga, tawaran ekowisata menarik lainnya adalah penangkaran kupu-kupu, dan Pohon pisang Raksasa (Musa ingens) setinggi 15 meter berdiameter antara 70 hingga 80 cm pun tumbuh subur di Pegunungan tersebut. Kabupaten ini merupakan wilayah sentral sayuran dataran tinggi yang mensuplai kebutuhan warga kota Manokwari. Wisata danau (Anggi Gida – perempuan dan Anggi Giji   – laki-laki), merupakan atraksi menarik bagi para turis yang menjadi satu paket wisata sambil menikmati kehidupan kelompok etnik Arfak yang mendiami daerah ini.

Survey botani di Pegaf: Cari apa?

Melakukan identifikasi jenis tumbuhan

Survey potensi tumbuhan tropis yang dilakukan bersama antara peneliti dari Pusat Penelitian Keanekaragaman Hayati UNIPA dengan peneliti dari RBG KEW, yaitu melakukan identifikasi wilayah penyebaran dan keragaman spesies sarang semut (Myrmicodia, Hydnophytum) dan kantong semar (Nepenthes). Pada saat yang sama juga dilakukan pengumpulan “seed” – biji dari spesies tumbuhan sebagai bagian untuk mendesain data dasar penyebaran dan keragaman biji tumbuhan tropis di Tanah Papua.

Dari survey yang dilakukan, telah dikumpulkan sebanyak 44 tumbuhan sampel Nepenthes 5 sampel tumbuhan Myrmicodia dan 3 sampel tumbuhan Hydnophytum. Beberapa lokasi menarik disarankan untuk dimanfaatkan sebagai destinasi wisata ekologi tumbuhan tropis – yang dapat dikunjungi untuk mempelajari habitat tumbuhan tropis endemik Papua dengan panorama hutan tropis sebagai bagian dari paket wisata ekologi yang sudah ada seperti pemantauan burung pintar dan Cenderawasih.

Traveling edukasi…untuk siapa?

Pengalaman melakukan perjalanan penelitian di Arfak waktu lalu sekaligus membuat kami jadi mengerti bahwa travelling edukasi merupakan potensi wisata menarik bagi semua kelompok umur yang dapat dikembangkan di Pegaf. Banyak hal yang dapat dipelajari, mulai dari potensi tumbuhan tropis endemic Papua, satwa endemik Papua, ekosistem hutan dataran tinggi yang menarik dengan keragaman pepohonan yang menyajikan pemandangan menarik sebagai spot untuk ber”selfie” ria.

Kondisi jalan menuju Pegaf

Dengan kondisi jalan saat ini yang masih dalam tahap pengerasan dengan tanah di beberapa ruas jalan, travelling edukasi ini menjadi semakin menantang bagi para penyenang olahraga pemicu adrenalin. Perjalanan dari Manokwari menuju Pegaf menggunakan kendaraan roda empat sejenis hi-lux dan rangers dapat ditempuh sekitar 5-6 jam. Perjalanan ini juga bisa menjadi ajang atraksi “off-road” yang dapat meningkatkan adrenalin, selain potensi arus sungai yang ada dapat dikembangkan untuk olahraga arung sungai.

Spot untuk ber”selfie” ria

Yang sampai saat ini belum tergali dengan baik yaitu potensi wisata danau, khususnya danau kembar – laki-laki dan perempuan (Anggi Gida – perempuan dan Anggi Giji- laki-laki). Hutan seputar danau cukup menantang untuk wisata ekologi sekaligus tempat belajar spesies tumbuhan endmik Papua. Potensi danau yang ada jika dikembangkan dengan baik berpeluang sebagai destinasi wisata  air dengan kuliner khas danau “ikan mujair” dan sayuran dataran tinggi merupakan perpaduan antara sumber protein hewani dan nabati yang sehat. Spot selfie dengar latar belakang danau juga mendukung keberadaan Danau Anggi sebagai destinasi ekowisata menarik di dataran tinggi Pegunungan Arfak.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: