Nilai Satwa Liar


Freddy Pattiselanno (Mengajar Budidaya Satwa Harapan di Fakultas Peternakan UNIPA)

Saat ini penilaian yang diberikan kepada satwa bervariasi dan berbeda dibandingkan dengan penilaian yang diberikan pada masa lalu. Keberadaan nilai satwa sekarang ini dilakukan berdasarkan kenyataan bahwa populasinya semakin berkurang, tetapi nilai pentingnya bervariasi menurut tingkat perkembangan budaya di antara kelompok etnik yang beragam pula. Nilai satwa bisa positif, mampu meningkatkan taraf hidup manusia, atau dapat juga bernilai negatif karena bersifat merugikan hidup manusia.

Dasmann (1964) merumuskan nilai satwa antara lain sebagai berikut (1) nilai komersial, (2) nilai rekreasi/hiburan, (3) nilai estetika dan etika, dan (4) nilai ilmu pengetahuan. Sedangkan menurut King (1966), nilai satwa adalah (1) nilai komersial, (2) nilai rekreasi, (3) nilai biotic, (4) ilmu pengetahuan, philosophy dan pendidikan, (5) estetika, (6) social, dan (7) nilai negatif.

Nilai komersial, menunjuk pada nilai ekonomis satwa atau produknya. Hal ini berkaitan dengan perdagangan atau kegiatan bisnis berdasarkan kemampuan mengakses populasi satwa di alam. Dengan kata lain, pengertian komersial ini umumnya menurut pemahaman langsung dari kontribusi materi yang dijual di pasaran. Kenyataan yang bisa dilihat sekarang ini ialah pada tiga aspek berikut: (1) Perdagangan satwa sebagai bahan pangan (makanan) serta produknya (kulit, tanduk, gading, cula, dll).

Produk asal satwa dengan nilai komersil tinggi

(2) Perdagangan satwa untuk tujuan “biomedical research” misalnya pemeliharaan (kera, mencit, atau jenis satwa lainnya) dalam skala besar di penangkaran yang kemudian diperjual belikan untuk sebagai hewan percobaan untuk sejumlah penelitian. (3) Nilai tambahan (additional value/ mutiplier effect) yang muncul karena kegiatan komersial dari satwa.

Bird watching-aktivitas di alam bebas sambil melihat burung

Nilai rekreasi, keuntungan atraksi yang bersifat menghibur, “adventure” di alam bebas, serta peningkatan kualitas fisik dan kesehatan yang dihasilkan dari kegiatan rekreasi atau hiburan dari kegiatan di alam. Secara sederhana nilai rekreasi ini merupakan dampak ekonomi secara local yang terjadi akibat dari kegiatan komersial (outdoor-recreation oriented). Nilai rekreasi dapat terjadi dari kegiatan olahraga berburu, camping di alam bebas sambil melakukan kegiatan “bird watching”, menelusuri gua untuk melihat kehidupan kelelawar, aktivitas fotografi, panjat gunung dan hiking, serta berekreasi ke pusat wisata ekologi (tempat hiburan yang bersifat alami).

Nilai estetika dan etika, merupakan bagian dari nilai rekreasi. Di lokasi perlindungan satwa (misalnya taman nasional atau suaka margasatwa), nilai estetika adalah hal yang paling mendasar dalam menarik perhatian pengunjung. Perburuan tidak diijinkan, tetapi banyak orang datang untuk melihat atraksi dari satwa yang dilindungi dan membuat film atau mengambil gambar satwa yang ada. Usaha perlindungan yang dilakukan sekaligus juga memberikan nilai etika bagi satwa tersebut, artinya dengan tersedianya sejumlah kawasan untuk tempat hidup bebas bagi jenis satwa tertentu memberikan gambaran kepada manusia bahwa hewan liar juga mempunyai hak untuk tetap ada dengan memelihara kehidupannya.

Nilai biologi, terkandung di dalamnya nilai ilmu pengetahuan, pendidikan, dan nilai filosofi dari satwa itu sendiri. Secara biologi, satwa liar memberikan kontribusi terhadap proses reproduksi yang terjadi di tingkat ekosistem, misalnya fungsi satwa sebagai “pollinator agent” sejumlah tanaman tropis di kawasan hutan tropis yang ada. Penyebaran jenis-jenis tanaman tropis dapat terjadi karena peranan jenis burung, kelelawar atau mamalia yang ikut membantu proses polinasi tanaman tersebut.

Peran satwa dalam penyebaran tumbuhan tropis

Selain itu pula, mekanisme alami menunjukkan bahwa satwa liar merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam menjaga kesuburan tanah dan melindungi aliran sungai pada kawasan yang belum terjamah. Keseimbangan suatu ekosistem dapat terjaga jika rantai makanan yang terbentuk tidak terganggu. Keberadaan suatu species sebagai predator dari species yang lain berfungsi untuk mengontrol populasi satwa lain. Jika kondisi ini terganggu, keseimbangan akan ikut terganggu dan berkembangnya species tertentu dapat menjadi hama bagi lahan pertanian/perkebunan di sekitar habitatnya. Penggunaan satwa sebagai objek penelitian di berbagai bidang ilmu, dibangunnya sejumlah kebun binatang untuk pengembangan ilmu serta meningkatkan pemahaman manusia tentang satwa merupakan kontribusi satwa liar terhadap dunia pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi. Secara filosofi, seluruh rangkaian aktivitas tersebut menimbulkan simpati terhadap hewan liar sehingga muncullah gerakan “animal welfare” dan “animal right” yang berkaitan dengan handling atau penanganan terhadap species hewan liar.

Nilai sosial, keuntungan yang diperoleh sekelompok masyarakat, dari jenis satwa tertentu sehingga keberadaannya menjadi sangat penting dan perlu untuk dilindungi. Biasanya keuntungan ini dilihat dari aspek sosial dan budaya masyarakat setempat. Misalnya perlindungan terhadap jenis satwa yang diyakini merupakan totem atau simbol kekuatan bagi kelompok masyarakat atau suku tertentu, atau suatu species sangat dihargai sehingga perlu dilindungi karena asal usul kelompok suku atau masyarakat tersebut dipercayai berasal dari species tersebut. Dalam kehidupan masyarakat asli di Papua, nilai sosial dari species satwa tertentu adalah hal yang sangat umum dalam kaitannya dengan kehidupan budaya masyarakat setempat. Misalnya bulu burung, taring babi, ataupun kulit kuskus yang sering digunakan sebagai asesories dalam pertunjukan tarian tradisional atau aktivitas ritual budaya mereka (lihat keterangan berikut)

Penggunaan asesoris pakian adat dari produk asal satwa, Gambar: Ofi Daimboa

Pemanfaatan satwa liar untuk tujuan social budaya bagi masyarakat di Papua adalah hal yang umum ditemukan. Praktek ini sudah berjalan sejak dulu merupakan peninggalan para leluhur. Penggunaan bagian tertentu dari satwa (bulu burung, taring babi ataupun kulit kuskus dan lain sebagainya sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan kehidupan masyarakat. Semuanya digunakan sebagai asesories atau hiasan dalam upacara seremonial atau ritual budaya masyarakat setempat.

Nilai negatif, selain memberikan nilai tertentu yang bersifat positif, satwa juga sering memberikan dampak negatif dalam kehidupan manusia. Jenis vertebrata serta burung atau insekta yang merupakan hama bagi tanaman pertanian merupakan salah satu contoh dampak negatif yang ditimbulkan satwa liar terhadap manusia.

Burung yang mencari makan di lahan pertanian

Biaya yang diperlukan untuk merehabilitasi atau mengontrol kerusakan yang terjadi adalah nilai negatif yang harus dikeluarkan oleh manusia dalam memelihara tanaman pertanian dan perkebunannya.

Penangkaran-opsi kegiatan ekonomi kreatif masyarakat

Pemahaman nilai satwa ini merupakan acuan yang dapat dijadikan pegangan dalam upaya pengelolaan dan budidaya satwa liar. Dengan pemahaman yang baik, maka prioritas pengelolaan serta faktor-faktor yang perlu mendapat perhatian (faktor pendukung dan pembatas) akan membantu dalam pengelolaan satwa baik untuk budidaya maupun konservasi. Pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengevaluasi nilai satwa liar dapat diformulasikan secara sederhana sebagai berikut:

Total nilai = ∑(nilai positif + nilai dari berbagai servis yang diberikan satwa) – (nilai negatif + biaya yang dikeluarkan untuk mengontrol atau memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan oleh satwa liar).

Memahami dengan baik nilai satwa liar bukan hanya berguna untuk mendesain program pengelolaan yang baik, tetapi juga memainkan peranan penting dalam usaha konservasinya sekaligus mendukung usaha ekonomi kreatif bagi masyarakat.

Catatan: Gambar diunduh dari website yang relevan

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: