Category Archives: Publication

Papers that have been published at local or national journals, semi-popular scientific magazines or other scientific magazines

Mengenal lebih dekat Danau Sentani, salah satu situs budaya & lingkungan di Tanah Papua


Freddy Pattiselanno & Agustina Y.S. Arobaya (Universitas Negeri Papua, Manokwari)

Profil Danau Sentani

Terletak di Kabupaten Jayapura, Propinsi Papua pada ketinggian 70 – 90 m dpl, pada posisi 2o33’- 2o41’ S, 140o38’ – 140o38’ E , Danau Sentani membentang di sepanjang Distrik Sentani Timur, Distrik Sentani dan Distrik Sentani Barat dengan sebagian kecil wilayahnya berada di Distrik Abepura Kota Jayapura. Secara fisik, danau Sentani memiliki luas perairan sekitar 9630 ha dengan kedalaman rata –rata 52 m, dan terletak pada ketinggian 72 m di atas permukaan laut. Gbr 1. Danau Sentani (Google earth)
Continue reading

Advertisements

Forests for people or people for forests: Notes from Papua


Freddy Pattiselanno & Agustina Arobaya (Universitas Negeri Papua, Manokwari).

 

Indonesia’s Papua and West Papua provinces on New Guinea encompass 404,600 km or approximately 42 million hectares (Baplan 2002) of which 80% is tropical forest. The term of “Papua” on its own, is used to represent both the provinces of Papua and West Papua. It is currently considered an area of global s priority for biodiversity conservation due, in part to, the species rich forest environment for the Australopapuan fauna as well as many uniquely New Guinean species (Robbins 1971 mentioned in McPhee 1988).

Continue reading

Pusat keragaman hayati laut dunia dalam bahaya


Freddy Pattiselanno & Agustina Arobaya (Universitas Negeri Papua – UNIPA Manokwari)

Kapala Burung Papua (KBP)

Wilayah KBP (Google Earth)

Wilayah KBP (Google Earth)

Semenanjung Kepala Burung Papua (KBP) terletak di jantung “Coral Triangle(CT) di timur Indonesia, meliputi lebih dari 22,5 juta hektar laut dan pulau-pulau kecil di Papua BaratKBPdikenal sebagai daerah dengan keragaman spesies karang  dan ikan terkayadi dunia. Hal ini pula yang menjadikan kawasan ini sebagai pusat keanekaragaman hayati laut tropis dangkal duniaNamun,kawasan laut ini juga termasuk habitat penting untuk spesies laut yang terancam seperti penyu, hiu, paus, lumba-lumba, duyung dan buaya.

Continue reading

A nesting ground of Dusky Megapode (Megapode freycinet Gaimard) at the coastal of Rumberpon Island


Freddy Pattiselanno (Megapode Specialist Group; Animal Science Laboratory, Universitas Negeri Papua, Manokwari)

 

megapodius_freycinet_copy1There are 22 species of Megapodes (Megapodiidae, Galliformes) that rely on external sources of heat to incubate their eggs: bury in volcanic soils, in soils heated by the sun or in mounds of rotting leaves (Jones et al., 1995). It was recognized that 15 species of megapode species were found in Indonesia (Argeloo and Dekker, 1996). Megapodius freycinet (Gaimard) known as Dusky Scrubfowl (Sujatnika et al. 1992) or Dusky Megapode (Argeloo, 1997), classified as Indonesian endemic birds that geographically distributed among North Mollucas, New Guinea and its satellite islands (Rand and Gilliard, 1967; Sujatnika et al. 1992).

Continue reading

“Bur, Nden, Sem Mikindewa Membow”: Pembelajaran tentang kearifan tradisional di Distrik Abun Kabupaten Tambrauw


Oleh: Freddy Pattiselanno*, Yusuf Burako**, Bastian Maryen**, Kartika W. Zohar*** & Stenly Wairara***

* & **Staf Pengajar & Mahasiswa Fakultas Peternakan Perikanan & Ilmu Kelautan UNIPA; ***Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNIPA

KKLD Abun
Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Abun Jamursba-Medi ditetapkan dengan Surat Keputusan Bupati Kabupaten Sorong, Nomor : 142 tahun 2005 dan SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 891/Kpts-III/1999 adalah satu diantara dua belas KKLD di Papua yang dikelola secara aktif dengan tujuan memberdayakan masyarakat setempat dalam usaha pengelolaan sumberdaya pesisir.

Sebagai kelanjutan survey yang kami lakukan di Kepala Burung Papua sejak bulan Agustus 2011 (WKLB Vol. 20 No. 2 Edisi 2012), pada bulan Juli-Agustus 2012 yang lalu, kami melakukan perjalanan ke Distrik Abun untuk mengevaluasi dampak akses terhadap pemanfaatan satwa liar kaitannya dengan pemenuhan konsumsi protein hewani masyarakat pesisir.

Pengamatan kami selama di lapang menunjukkan bahwa masyarakat yang berdomisili di pesisir distrik Abun lebih banyak menggantungkan kehidupan mereka kepada hasil pertanian/perkebunan dengan pola hidup meramu atau melakukan aktivitas perburuan. Hasil buruan bukan saja dimanfatkan untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi rumah tangga, tetapi juga menjadi sumber penghidupan keluarga.

Continue reading

Potensi satwa Sungai Sebyar di Aranday, Teluk Bintuni


Freddy Pattiselanno (Laboratorium Peternakan FPPK UNIPA Manokwari)

Pada tanggal 6-25 Agustus 2005 saya melakukan tugas supervise KKN di Distrik Aranday yang tersebar di lima wilayah desa masing-masing Kampung Baru, Aranday, Kecap, Manunggal Karya dan Sebyar Rejoasari. Satu hal yang menarik dari desa-desa di Distrik Aranday yaitu letaknya sepanjang aliran sungai Aranday.
Continue reading

Small mammal distribution in Papua


Freddy Pattiselanno (Animal Science Laboratory Universitas Negeri Papua, Manokwari)

Two different field works have been conducted to study the presence of small mammals in the northern region of Papua (Yongsu and Mamberamo) and in the Bird’s Head Peninsula in particular, Northern Tambrauw Nature Reserve.

Continue reading

Nipa, Mange-mange, Lolaro mengapa penting bagi masyarakat di Papua?


Agustina Y.S. Arobaya & Freddy Pattiselanno (Fakultas Kehutanan & Fakultas Peternakan Perikanan & Ilmu Kelautan Universitas Negeri Papua, Manokwari)

Dari berbagai sumber diketahui bahwa penyebaran hutan mangrove seluas kurang lebih 3 juta ha berada di Papua antara lain di Sorong, Waigeo, Inanwatan, Manokwari, Teluk Wondama, Babo, Bintuni, Fakfak, Kaimana, Biak, Yapen, Mamberamo, Jayapura, Timika, Agats dan Merauke. Potensi mangrove di Papua, bukan hanya menguntungkan masyarakat yang berdiam di sekitar kawasan mangrove, tetapi juga merupakan pendukung kehidupan berbagai biota laut yang secara tidak langsung menggantungkan hidupnya dari keberadaan hutan mangrove. Dalam dialek Papua, mangrove dikenal dengan nama Nipa, Mange-mange atau Lolaro.

Continue reading

Pembangunan pertanian di pesisir Kepala Burung Papua


Freddy Pattiselanno1, Nerius Sai2, Leo Warmetan2, Yohan Mofu2, Zulkifli2 & Nixon Karubaba3

1Staf Pengajar, 2Mahasiswa Fakultas Peternakan Perikanan &Ilmu Kelautan Universitas Negeri Papua, Manokwari, 3Dinas Pertanian & Tanaman Pangan Kabupaten Manokwari

Keterisolasian Kepala Burung Papua

Dalam rencana pembangunan jangka panjang di Tanah Papua pembukaan ruas-ruas jalan yang merupakan simpul di daerah-daerah yang tadinya belum dihubungkan dengan jalan darat menjadi prioritas. Hal ini cukup beralasan karena irama pembangunan di wilayah paling timur Indonesia ini sangat dinamis sejalan dengan pengembangan sejumlah wilayah menjadi kabupaten baru. Oleh karena itu program pembangunan infrastruktur transportasi menjadi prioritas guna memudahkan hubungan antara satu daerah dengan daerah lainnya di Papua. Menurut prediksi Anggraeni dan Watopa (2004) berdasarkan hasil analisis spasial ternyata bahwa pembukaan jaringan jalan di Tanah Papua akan mencapai total sekitar 2.700 km (Gambar 1). Salah satu ruas jalan yang menjadi perhatian pemerintah daerah adalah jalan yang menghubungkan kota Manokwari dan Sorong di Kepala Burung Papua.

Continue reading

Kearifan tradisional Suku Maybrat (Sepotong catatan dari Sorong Selatan)


Freddy Pattiselanno (Laboratorium Produksi Ternak FPPK UNIPA) & George Mentansan (Fakultas Sastra UNIPA)

Kajian yang dilakukan Pattiselanno (2006) menunjukkan bahwa kearifan tradisional yang dimiliki masyarakat lokal di Papua merupakan aturan setempat yang dapat digunakan sebagai pengontrol pemanfaatan sumberdaya alam yang tidak terkendali termasuk perburuan satwa. Karena itu menggali nilai kearifan tradisional dalam perburuan satwa di Kabupaten Sorong Selatan bermanfaat untuk mengisi keterbatasan informasi praktek kearifan tradisional dari Papua.  Selama ini hasil dari berbagai studi di beberapa negara menunjukkan bahwa praktek kearifan tradisional masih berlaku dalam kehidupan masyarakat lokal.

Hal ini cukup beralasan, karena dalam era otonomi khusus, Majelis Rakyat Papua (MRP) mendukung kebijakan pemberdayaan di bidang sosial budaya melalui upaya menumbuh kembangkan nilai-nilai kearifan lokal (MRP, 2009).

Continue reading

%d bloggers like this: